Bahasa Jawa Ungkapkan Tabiat Orang

  • Bagikan
Oleh: Sri Mulyanto SPd
Oleh: Sri Mulyanto SPd

RADARSEMARANG.COM – BAHASA menunjukkan bangsa. Ungkapan tersebut berasal dari peribahasa Bahasa Indonesia yang memiliki makna bahwa perilaku baik buruknya sifat dan tabiat seseorang dapat dilihat dari tutur kata atau bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi orang tersebut. Walaupun Indonesia mengakui Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu, namun tidak menampik ratusan bahasa tradisional yang tersebar di nusantara. Bahasa tradisional justru ikut memperkaya perbendaharaan kata dalam Bahasa Indonesia, serta menjadi bagian dari kekayaan budaya Tanah Air kita.

Namun tidak bisa dipungkiri, serapan bahasa asing dalam percakaan sehari-hari semakin hari semakin tak bisa terhindari. Terlebih komunikasi di antara generasi muda. Demi bersaing di era globalisasi, anak-anak sendiri dicekoki penguasaan bahasa asing tanpa diimbangi bahasa ibu. Ironisnya, bukan hanya satu-dua anak yang lebih menguasai bahasa asing dari pada Bahasa Indonesia. Apalagi memahami bahasa tradisional dari etnis yang mengalir dari dalam darahnya.

Budaya Jawa dengan Bahasa Jawanya mengatur tingkah laku manusia dengan adanya norma yang harus dipatuhi, seperti dalam pepatah jawa “Ajining dhiri gumantung saka lathi, ajining raga gumantung saka busana”.  Dalam masyarakat Jawa ungkapan tersebut mengandung makna bahwa seseorang perlu mempertimbangkan dan memikirkan baik-baik apa yang akan dikatakan, tidak sekadar berbicara. Kata-kata yang sopan, sikap hormat, sikap santun dan dapat menghargai orang lain merupakan sikap yang harus ditunjukkan ketika berbicara untuk saling menghormati dan saling menjaga perasaan.

Penilaian baik buruk itu berkaitan dengan jiwa sosial. Orang lain akan menilai kita tergantung bagaimana kita bertutur kata. Jika kita sering bertutur kata kasar, maka orang lain akan menilai kita sebagai orang kasar. Dan orang lain juga bisa menilai kita sebagai orang halus, lembut atau bodoh yang tidak berpendidikan atau yang lainnya tergantung bagaimana kita bertutur kata. Jadi, betapa pentingnya dan besar pengaruh ucapan kita terhadap kehidupan kita.

Dalam bertutur kata hendaknya kita tahu dan mengerti bab tingkatan  bahasa yang kita gunakan, untuk itu perlu saya sampaikan tingkatan/unggah-ungguh basa dalam Bahasa Jawa. Secara ringkas unggah-ungguh basa dapat dibedakan menjadi empat tingkatan, yaitu pertama, ngoko lugu. Bahasa ngoko lugu ini digunakan ketika kita berbicara sendirian, berbicara kepada teman yang akrab, komunikasi orang tua kepada orang muda/anak-anaknya, komunikasi bapak ibu guru dengan murud-muridnya, komunikasi kiai dengan santri-santrinya, dan sebagainya.

Kedua,  Ngoko Andhap/Alus, yakni bahasa yang terbentuk dari kata-kata ngoko dengan kata krama inggil (kata kerja, kata ganti orang, dan sebutan bagian tubuh).  Ngoko andhap ini digunakan oleh orang tua kepada orang yang lebih muda tapi lebih dihormati, sesama teman yang lama tidak berkomunikasi dan saling ingin menghormati, guru kepada mantan siswanya yang sudah berkeluarga, istri kepada suami, dan sebagainya.

Ketiga, Krama Lugu, yakni bahasa yang terbentuk dari kata-kata krama semua (ater-ater ‘di’ menjadi ‘dipun’, panambang e, ‘ane’ menjadi ‘ipun’, ‘nipun’. Bahasa krama lugu digunakan oleh kenalan baru di mana saja, teman yang belum akrab, dan sebagainya. Contoh dalam kalimat menggunakan basa krama lugu: “Endang wau sanjang piyambakipun mboten saged dugi” atau “Kula tilem wonten kamar wingking.”

Keempat, Krama Alus, yakni bahasa yang terbentuk dari krama dan krama inggil. Bahasa ini digunakan oleh orang muda kepada orang tua, murid kepada guru, pembantu kepada majikan, dan sebagainya. Contoh penggunaannya “Punapa ibu saestu tindak peken,” atau “Panjenengan tindak mriki nitih punapa?” (tj3/2/aro)

Guru SMP Negeri 1 Sapuran, Wonosobo

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *