24 C
Semarang
Senin, 19 April 2021

Pasrah Habiskan Sisa Usia Tanpa Sanak Keluarga

Menilik Penghuni Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pucanggading

spot_img
spot_img

RADARSEMARANG.COM – Orang yang masih memiliki sanak keluarga dan saudara secara utuh, patut bersyukur. Di luar sana, banyak orang tak bisa merasakan hangatnya keluarga. Hingga usia senja, mereka hidup sebatangkara tanpa keluarga. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

LIKA-liku kehidupan di dunia selalu memiliki sisi misteri. Tidak ada satupun orang yang mengetahui esok hari akan jadi apa. Alur kehidupan selalu menemui ujian-ujian dan jalan terjal. Ujian datang tidak hanya berupa kesengsaraan. Tapi adakalanya seseorang diuji dengan kemewahan, kebahagiaan memiliki anak istri, hingga bergelimang harta berlimpah.

Tetapi ada juga ujian datang dengan cara jalan sunyi berupa kesendirian. Sejumlah orang hingga usia senja bahkan hidup sebatangkara. Tidak ada satupun sanak saudara yang menemani. Begitupun kondisi puluhan orang lanjut usia yang tinggal di Rumah Pelayanan Sosial Lanjut Usia Pucanggading di Jalan Letjend Sarwo Edi Wibowo km 1, Plamongansari, Semarang.

Mereka pasrah dan menghabiskan sisa usia tanpa sanak saudara dan keluarga. Salah satunya adalah Ponian, 88. Di kursi lipat, ia tampak tenang sendirian. Sesekali tersenyum ketika ada perawat yang menyapa. Ia tak banyak bicara. Hanya sesekali bicara seperlunya bersama penghuni panti yang lain.

Rambutnya sudah memutih, giginya sudah tidak genap, penglihatan dan pendengarannya sudah tidak sempurna. Ia tidak sendiri, totalnya ada 110 orang yang mengalami nasib serupa dengan usia yang hampir sepadan. “Saya cukup senang dirawat di sini,” katanya singkat.

Kepala Panti, Sunarni, menjadi salah satu pendamping yang sabar meladeni kebutuhan para penghuni panti. Ia menganggap para penghuni tersebut seperti orang tuanya sendiri. “Sebanyak 29 di antaranya pria, 81 penghuni lainnya adalah wanita,” katanya.

Ia memastikan setiap kebutuhan pokok para Lansia tercukupi. Namun untuk kebutuhan penunjang, misalnya tampon kadang masih kekurangan. “Sebagian dari mereka adalah lansia yang tidak mandiri. Mereka harus dilayani seperti anak kecil, mulai makan, minum hingga buang air kecil dan besar,” katanya.

Keadaan itu menuntut para pengasuh harus ekstra sabar. Bagi pengasuh, merawat mereka seperti halnya merawat keluarga sendiri. “Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka, panti ini memiliki 29 pegawai yang memiliki tugas berlainan,” katanya.

Para petugas berbagi peran, ada yang memiliki tugas memasak dan menyiapkan makanan. Sebagian petugas lain menyiapkan kebutuhan para lansia. Termasuk mendampingi setiap waktu dan mengajak berkegiatan untuk mengisi waktu. Misalnya senam. “Para lansia yang masih bisa beraktivitas produktif diberikan keterampilan dan kegiatan keagamaan. Dalam waktu tertentu, para lansia juga diajak jalan-jalan mengunjungi kebun,” katanya.

Pengasuh yang intensif hanya berjumlah enam orang. Itu untuk merawat sebanyak 50 lansia yang tidak mandiri. “Idealnya, satu pengasuh hanya merawat tiga sampai empat lansia tidak mandiri,” katanya. (*/ida)

spot_img

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here