Dulu Dijual di Alun-Alun Johar

  • Bagikan
MENJAGA TRADISI : Hj Sokanah, penjual petis bumbon di kawasan Masjid Raya Kauman Semarang melayani pembeli yang mengantre untuk mendapatkan makanan khas saat Ramadan ini. (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)
MENJAGA TRADISI : Hj Sokanah, penjual petis bumbon di kawasan Masjid Raya Kauman Semarang melayani pembeli yang mengantre untuk mendapatkan makanan khas saat Ramadan ini. (SIGIT ANDRIANTO/ JAWA POS RADAR SEMARANG)

Terasa ngangeni untuk disantap. Sebut Petis Bumbon, Ndok Mimi, Bubur India, dan Kolak Bolang-Baling, selalu ada saat bulan Ramadan. Hari biasa, memang ada tapi tak sembarang rumah makan menjualnya.

RADARSEMARANG.COM – PETIS BUMBON, tampilannya hampir serupa dengan sambal goreng. Secara kasat mata memang sulit dibedakan. Namun tidak untuk persoalan rasa, sebab masakan ini memiliki rasa yang khas. Di Semarang, masakan ini hanya dapat dijumpai saat bulan Ramadan atau dalam tradisi dudgeran. Ya, makanan ini dikenal dengan sebutan petis bumbon telur.

Petis bumbon telur. Dari namanya saja sudah bisa ditebak. Kata petis berasal dari salah satu bahan yang wajib digunakan, yakni petis banyar. Sementara bumbon karena masakan ini menggunakan bumbu-bumbu rempah sebagai ciri khas. Dan sudah pasti telur, sebagai bahan utama dalam membuat sajian ini.

Jika pada sambal goreng hanya menggunakan bumbu salam dan laos, pada petis bumbon ditambahkan bumbu-bumbu rempah lainnya, seperti daun jeruk wangi, kunci, serai dan sejumlah rempah lainnya. Tak lupa petis banyar. Untuk telurnya, yang digunakan adalah telur bebek. Tak heran jika telur pada petis bumbon memiliki tekstur yang kenyal. Sangat pas dengan rasa bumbu gurih yang khas.

Di halaman masjid Kauman, hanya ada dua penjual makanan khas ini. Mereka telah berjualan selama bertahun-tahun. Keduanya berasal dari kampung Bustaman, Semarang. Istiqomah, salah satu penjual menuturkan, mereka merupakan generasi kedua dari penjual makanan yang banyak digemari saat puasa ini. Memang benar, penggemar makanan ini sangat banyak. Bahkan, dalam sehari, Istiqomah mampu menjual hingga 100 butir telur. ”Kadang, bisa sampai 150 juga,” ujarnya.

Penggemarnya pun tidak hanya dari Semarang. Masakan ini tampaknya sudah tenar hingga ke sejumlah wilayah karena pembeli petis bumbon ada juga yang berasal dari Surabaya, Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Mereka sengaja membeli untuk dibawa pulang ke kota asal mereka.

”Ada juga langganan yang sudah bertahun-tahun. Ini soalnya masakan khas Semarang, dan hanya ada pas puasa saja,” jelasnya sembari membungkuskan butir telur ini kepada para pembeli.

Sama halnya Istiqomah, Hj Sokanah juga merupakan generasi kedua dari penjual petis bumbon ini. Ia melanjutkan usaha yang sebelumnya dijalankan sang Adik, Siti. Nama sang Adik pun masih melekat di banner tempat ia berjualan. Sebelumnya, orang tua Hj Sokanah lah yang berjualan makanan yang hingga sekarang dipertahankan secara turun temurun ini. ”Dulu awalnya Ibu Karsini,” tutur Hj Sokanah kepada koran ini.

Menurut cerita karyawati Hj Sokanah, makanan ini sudah ada sejak Alun-Alun Johar masih berfungsi. Makanan ini dulunya memang dijual di Alun-Alun Johar dan merupakan makanan susulan karena sebelumnya yang dijual adalah ketan biru, sate jagung telur, dikenal juga dengan perkedel jagung dan coro santen. ”Saya dari dulu membantu goreng perkedel jagung ini sejak masih jualan di alun-alun,” jelas karyawati Hj. Sokanah. ”Sejak saya masih kecil,” imbuhnya.

Kemudian, lanjutnya, petis bumbon menjadi masakan tambahan yang dijual dalam gelaran dugderan Ramadan. Memang hanya pada saat dugderan, karena pada hari biasa petis bumbon tidak dibuat oleh mereka. ”Karena tradisi. Adanya ya pas Ramadan saja. Kami kan hanya melanjutkan,” ujarnya.

Kenikmatan makanan ini sukses mencetak penggemar setia. Seperti Mahzun, warga Semarang Barat yang mengaku tidak pernah absen untuk membeli petis bumbon setiap tahunnya. Walaupun jauh, ia selalu menyempatkan diri datang ke masjid Kauman untuk  membeli makanan khas ini. ”Ini pokoknya khas Semarang banget. Yang membuat khas itu petisnya. Saya setiap tahun pasti beli, sama coro santen,” ujarnya menyebut makanan khas lainnya yang tidak setenar petis bumbon.

Petis bumbon ini dijual seharga 8ribu dan 10 ribu setiap butirnya. Mengenai rasa, tidak afdol jika hanya diceritakan tanpa mencicipi secara langsung. ”Ya terjangkau lah ya. Kalau masak sendiri juga belum tentu bisa seenak aslinya. Kemudian biayanya lebih mahal kalau tidak masak dalam jumlah besar sekalian,” ujar Ida penikmat makanan ini. (sga/ida)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *