33 C
Semarang
Minggu, 12 Juli 2020

Ribuan Kilometer Kansas – Boston

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

Berita dari Boston itu masuk ke HP saya. Tentang kepastian jadwal rapat di MIT. Masih ada waktu empat hari. Beberapa agenda di Hays bisa saya tunda. Termasuk lanjutan diskusi kredit untuk petani.

Jadwal ke Columbia saya majukan: lihat reaktor riset Universitas Missouri. Saya putuskan juga: ke Boston jalan darat. Toh tim saya dari Indonesia baru akan tiba sehari sebelum jadwal rapat.

Saya belum hitung: berapa ribu kilometer jalan yang harus saya tempuh. Yang jelas harus melintasi tujuh negara bagian. Sambil mampir-mampir. Nyetir bergantian. John dan saya. Hanya berdua.

Sayangnya saya sudah pernah menjelajah wilayah itu: Kansas, Missouri, Illinoi, Indiana, Ohio terus naik ke Buffalo, Niagara, Liverpool, mampir ke Universitas Syracuse, trus Amsterdam, Manchester, Lebanon, masuk negara bagian Vermon, ke timur tembus Boston. Empat hari tiga malam.

Tidak ada yang baru. Tapi saya bisa menambah ilmu: cara baru nyetir mobil. Pada umur 66 tahun. Belajar lagi: bagaimana menggunakan gas otomatis.

Di setiap mobil sebenarnya memiliki fasilitas itu. Tapi saya belum pernah memakainya. Atau mencobanya. Tidak mungkin dipakai di Indonesia. Yang jalannya seperti itu. Yang padatnya seperti itu. Tapi, di Amerika, kalau nyetir tidak pakai ‘itu’ justru membahayakan. Kaki bisa kram. Terlalu lama nempel di pedal gas. Tanpa gerakan menambah atau mengurangi gas.

Misalnya dari Hays di Kansas ke Columbia di Missouri itu. Delapan jam. Kecepatan hampir konstan: selalu 75 mil/jam. Atau sekitar 130 km/jam. Tanpa harus pindah jalur. Tanpa ada lampu merah. Tanpa harus injak gas. Tanpa harus injak rem. Nyaris begitu terus.

Itulah kondisi jalan bebas hambatan yang saya lalui. Nama jalannya I-70. Sepanjang ribuan kilometer namanya sama: Jalan I-70. I singkatan dari interstate.

Sepanjang jalan itu kadang dua lajur. Kadang tiga lajur. Tergantung wilayahnya padat atau tidak. Orang Amerika sangat terbiasa berkendara ribuan kilometer. Selalu menggunakan tuas kecil di bawah setir itu.

Begitu tuas diklik kecepatan mobil akan terus sama. Tidak akan lebih cepat atau lebih lambat. Kalau jalan lagi naik otomatis gasnya nambah sendiri. Kalau jalan lagi menurun gasnya berkurang sendiri.

Dengan demikian kedua kaki bisa sepenuhnya istirahat. Tidak harus selalu menempel di pedal gas. Kalau hanya ingin tambah gas cukup di tuas itu juga. Menguranginya pun begitu.

Awalnya saya takut. Lalu coba-coba. Ternyata memang enak begitu. Nyetir mobil enam jam pun tidak capek. Lalu-lintas lengang. Tidak pernah macet. Aspal jalannya mulus. Tidak ada gronjalan. Gak perlu bayar tol. Gratis.

Sepanjang jalan kami ngobrol apa saja. Tidak ada yang tidur. John sudah menceritakan nyaris semua isi Injil. Saya juga sudah menceritakan isi Quran. Isinya begitu banyak persamaannya.

Kami juga melakukan inventarisasi asal usul kesalahpahaman. Antara Islam dan Kristen.

John juga bercerita bagaimana orang Kristen mendoktrin kekristenan pada anak mereka. Saya menceritakan bagaimana kami mendoktrin keislaman di anak kami.

John sering menertawakan kekonyolan-kekonyolan dalam masyarakat Kristen. Saya pun juga menceritakannya di sisi masyarakat Islam.

Kadang kami bicara politik. Di dua negara. Kadang bicara mengenai mengapa ada ras. Dan asal usulnya.

John dan saya pernah sama-sama test darah. Untuk melihat DNA. Yang beda: darah John Jerman-Inggris. Darah saya: ras Asia Tenggara.

Tapi ada persamaannya. Meski sedikit. Dalam darah kami sama-sama mengandung aliran darah Neanderthal. kadarnya sama-sama 2 persen.

Neanderthal adalah manusia purba. Yang hidup di gua-gua di Eropa.

Di dalam darah kami juga sama-sama mengandung darah suku Indian. John lebih tinggi: 5 persen. Darah Indian saya 2 persen.

John hanya punya 4 campuran (Jerman, Inggris, Indian dan Neanderthal). Darah saya lima campuran: Asia Tenggara (mungkin Jawa), Tionghoa, Arab, Indian dan Neanderthal.

Di Buffalo kami mampir sebentar ke air terjun Niagara. Begitu banyak manusia. Dari begitu banyak ras.

Melihat Niagara ternyata gratis. Saya bertanya ke bagian informasi: mengapa tidak pakai karcis. Dia (she) menjawab: ini kan taman; masak ke taman harus bayar.

Oh iya. Ke pantai Kuta di Bali juga gratis. Kalau toh ada air terjun yang tidak gratis itu kan hanya retribusi.

Baguskah Niagara? Hebatkah? Seperti di gambar itu? Iya. Hebat. Indah. Seru. Tapi ya sudah. Memang hebat, mau diapakan.

Tidak sampai 15 menit kami meneruskan perjalanan. Tidak perlu menyesal. Toh tidak bayar.

Sampai Boston saya hitung: kami telah setir mobil 2.570 Kilometer. Dalam empat hari. Dan masih akan tambah.

Dari Boston masih akan ke Connecticut, Virginia, North Carolina, Kentucky, Illinoi dan kembali ke Missouri.

Rasanya, kapan-kapan saya harus ke Amerika lagi. Dari 52 negara bagian masih satu yang belum saya kunjungi: Maine. Di pojok timur laut.

Hampir saja saya mampir ke Maine. Saat menuju ke Boston. Tinggal satu jam dari Manchester, NH. Tapi tidak ada keperluan apa-apa.

Dan lagi tim saya yang dari Indonesia sudah menunggu di Boston. Lain kali, Maine. Kapan-kapan.(dis)

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Glamor tapi Tetap Elegan

SEMARANG - Sepuluh model wanita dan tiga model pria memamerkan busana pengantin yang glamor namun tetap elegan. Mereka berjalan dengan anggun di atas catwalk....

Pelaku Pencurian Coba Bunuh Diri

BATANG - Seorang pelaku pencurian di sebuah rumah mewah di Batang yang terjadi pada Maret lalu,berhasil dibekuk tim Buser Polres Batang. Dia ditangkap bersama...

Layanan Keuangan Digital dalam Implementasi Inklusi Keuangan

RADARSEMARANG.COM - Sektor jasa keuangan adalah salah satu sektor penting dalam perekonomian suatu wilayah. Untuk itu, keberadaan bank dan lembaga keuangan menjadi hal yang...

Sheila on 7 Ajak Nyanyi Bersama

SEMARANG -  Grup band asal Jogjakarta, Sheila on 7 kembali menjadi idola saat tampil membawakan lagu-lagu indahnya dalam USM Music Show Time dalam rangkaian...

Disiram Air Keras, Wajah Terbakar

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Nasib tragis dialami Suhendri alias Bundo, 47, warga Perum Kepodang Asri, Kelurahan Bandarjo, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Pengusaha makanan ini harus dirawat intensif...

Residivis Kambuhan Ditangkap Sejak 14 Tahun Sudah Mencuri

WONOSOBO–Amar Satya Ardhi, 20, warga Mirombo, Rojoimo, Wonosobo, kembali ditangkap aparat Polres setempat. Amar diciduk polisi, karena menggelapkan sepeda motor milik temannya. Kasat Reskrim Polres...