Mengkritisi Pelaksanaan PPDB Sistem Zonasi

spot_img

RADARSEMARANG.COM – PROSES Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) adalah momen rutin setiap tahun yang menjadi perhatian paling utama bagi orangtua yang akan memasukkan putra-putrinya ke jenjang selanjutnya. Pada 2018, PPDB pada jenjang sekolah dasar (SD) dan menengah (SMP/SMA/SMK) dipastikan menggunakan mekanisme zonasi yang merupakan langkah awal mewujudkan pendidikan yang merata dan berkualitas. Sehingga diharapkan bisa menghilangkan dikotomi antara sekolah unggulan dan non unggulan yang biasanya identik dengan kemampuan atau nilai akademik dan kemampuan ekonomi berdampak terjadinya diskriminasi.

Alasan lain, untuk menghentikan dan menekan jumlah anak putus sekolah, karena kurang mampunya dari segi ekonomi, yakni beban biaya tambahan seperti ongkos angkutan umum, hal ini dirasa berat terutama bagi peserta didik yang orang tuanya tidak mampu. Sistem zonasi yang digulirkan pemerintah bertujuan pula untuk pemerataan guru, kualitas pendidikan dan menciptakan sekolah-sekolah favorit baru dengan pemerataan saran prasarana guna meningkatkan mutu kegiatan belajar mengajar.

Sekolah harus memprioritaskan peserta didik dalam kota, baik di sekitar sekolah atau tidak, yang penting dalam kota dulu, setelah terisi penuh baru beberapa persennya diperuntukkan peserta didik luar kota, baik yang berbatasan dengan sekolah atau berada di sekitar sekolah maupun jauh dari sekolah.

Nilai calon peserta didik diharapkan tidak menjadi faktor utama dalam penerimaan peserta didik baru dan hanya dijadikan pertimbangan. Sekali lagi utamakan peserta didik dalam kota dulu, baik berprestasi atau tidak, baru sisanya peserta didik dari luar kota. Dan pemberian nilai kemaslahatan lingkungan tetap memperhatikan perolehan nilai, karena memperoleh nilai 1 pada ujian nasional (unas) lumayan susah. Karena itu, pemberian nilai kemaslahatan harus tetap memperhatikan dalam atau luar kota berbeda, meskipun wilayah zona cukup berdekatan. Sebagai contoh dalam kota 12, sedangkan luar kota setengahnya.

Baca juga:   Mengagas Gawai sebagai Teman Belajar

Dalam proses pendaftaran online nanti, calon peserta didik diberikan kesempatan memilih empat pilihan sekolah. Contoh pilihan 1 SMA X IPA, pilihan 2 SMA X IPS, pilihan 3 SMA Y IPA dan pilihan 4 SMA Y IPS, dan seterusnya. Hal ini diharapkan mampu mengurangi kelemahan atau kendala pelaksanaan PPDB 2017 lalu. Antara lain, praktik pembuatan surat keterangan tidak mampu (SKTM) aspal (asli tapi palsu), siswa ilegal di medan, praktik jual beli kursi, serta ada beberapa sekolah dalam satu kecamatan karena lokasi berdekatan dan di satu sisi yang lain tidak memiliki satu sekolah pun.

Sebagai guru Bimbingan Konseling (BK), penulis melihat wacana pelaksanaan wajib sistem zonasi pasti masih ada kelebihan dan kekurangan. Tapi, penulis sebagai unsur pendidik, sangat mendukung program yang dicanangkan pemerintah, karena setiap kebijakan pasti ada kebaikan yang diharapkan. Penulis cuma memberikan masukan, sistem zonasi lebih memihak dan menguntungkan anak dalam kota, bukan dibagi per kecamatan di sekitar sekolah, baik dari dalam kota maupun luar kota.

Menurut penulis, setiap calon peserta didik dalam kota, berhak memilih di mana dia ingin bersekolah. Jangan dibatasi pembagian per kecamatan berdasarkan di mana orangtua calon peserta didik tinggal. Setiap calon peserta didik berhak memilih di mana dia ingin bersekolah, karena hak mereka bisa bersekolah di dalam kota. Dalam hal ini, orangtua bisa mengurangi biaya transportasi yang lebih mahal kalau mereka harus bersekolah di luar kota. Sehingga diharapkan bisa menekan angka putus sekolah. Dan sekolah lanjutan SMA/SMK diharapkan bisa menerima keberadaan mereka, baik yang nilainya tinggi maupun yang kurang tinggi tanpa harus mengeluh susah mendidik, takut gengsi sekolah turun, hilang status sekolah favorit dan lain-lain.

Baca juga:   Keterampilan Berbicara Meningkat dengan Metode Talking Stick

Menurut penulis, baik buruk sekolah dan tenaga kependidikan bisa dilihat dari prosesnya. Sebagai contoh peserta didik masuk dengan nilai biasa setelah lulus bisa memperoleh nilai yang luar biasa dan memuaskan. (igi2/aro)

Guru Bimbingan Konseling SMP Negeri 6 Salatiga

Author

Populer

Lainnya