Dari Dengaran, Kembalikan ke Pedoman

spot_img

RADARSEMARANG.COM – MENULIS merupakan salah satu kemampuan berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa untuk dapat berkomunikasi secara tertulis. Dalam berkomunikasi tertulis, berarti seorang siswa melakukan proses berpikir yang teratur, sehingga apa yang ditulis mudah dipahami pembaca. Akan tetapi, pada kenyataannya bahasa yang sering digunakan siswa berasal dari apa yang didengar sehari-hari di lingkungan. Istilahnya siswa cenderung menggunakan bahasa ibu atau bahasa daerah. Tulisan yang dihasilkan menjadi tidak baik dan tidak efektif dari segi penulisan huruf, kata dan susunan kalimat. Sebuah tulisan dikatakan baik apabila memiliki ciri-ciri, antara lain bermakna, jelas, bulat dan utuh, ekonomis, dan memenuhi kaidah gramatika.

Kemampuan menulis adalah kemampuan untuk menuangkan buah pikiran, ide, gagasan, dengan menggunakan rangkaian bahasa tulis yang baik dan benar. Kemampuan menulis seseorang akan menjadi baik apabila dia juga memiliki: (a) kepekaan terhadap kondisi pembaca, (b), kemampuan untuk menemukan masalah yang akan ditulis, (c) kemampuan menyusun perencanaan penulisan, (d) kemampuan memulai menulis, (e) kemampuan menggunakan bahasa Indonesia, dan (f) kemampuan memeriksa karangan sendiri. Kemampuan tersebut akan berkembang apabila ditunjang dengan kegiatan membaca dan kekayaan kosakata yang dimilikinya.

Kegiatan menulis bagi beberapa siswa dikatakan sulit; akan memulainya dari mana dan bagaimana menulisnya. Siswa mengalami kesulitan menuangkan ide dalam tulisannya. Namun sebaliknya, kegiatan menulis itu menjadi hal mudah dan sepele bagi orang yang sudah terbiasa menulis.

Baca juga:   Kurikulum 2013 Perlu Guru Berkualitas

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia siswa tidak hanya dituntut untuk mampu menulis. Siswa juga diharapkan mampu memperbaiki kesalahan penggunaan  kata, kalimat dan ketidakpaduan paragraf. Materi ini sering menjadi momok yang menghalangi siswa untuk mendapat nilai maksimal. Dari tahun ke tahun materi kebahasaan SMP berdaya serap rendah.

Saat keluar dari ruang UNBK (ujian nasional berbasis komputer) tidak sengaja penulis mendengarkan keluhan dari salah satu peserta ujian. Siswa tersebut mengeluh kesulitan mengerjakan materi menyunting kata. Sumber suara tersebut ternyata dari kelompok siswa dengan kemampuan tinggi. Annisa salah satu siswa yang penulis anggap memiliki keraguan tentang  ‘para hadirin’ dan ‘aktivitas’ itu baku atau tidak.

Sungguh memprihatinkan, padahal materi menulis dan menyunting kalimat sudah sering diberikan. Keraguan itu menunjukkan siswa kurang membiasakan diri untuk membaca bacaan. Kekayaan kosa kata yang dimilikinya kurang. Siswa hanya mengandalkan bentuk kebahasaan yang sering didengar. Siswa tidak memiliki PUEBI (pedoman umum ejaan bahasa Indonesia), KBBI (kamus besar bahasa Indonesia) dan buku tata bahasa lainnya untuk mengetahui kebenaran aspek kebahasaan yang meraka kuasai.

Perkembangan teknologi juga berdampak negatif pada kebahasaan siswa membuat kalimat. Seperti maraknya penggunaan bahasa gaul, prokem, dan medsos (media sosial) dalam berkomunikasi. Siswa merasa mudah menyampaikan komentar atau sekadar menulis status tanpa memperhatikan kaidah penulisan yang benar. Contohnya penulisan kata karena, mengubah, negeri, jumlah, izin, apotek, sekadar dan masih banyak lagi. Kata-kata itu ditulis ‘karna, merubah, negri, jumplah, ijin, apotik, sekedar’. Sehingga menjadi hal yang dibenarkan bagi diri siswa dan berlanjut pada hasil tulisan. Tidak jauh beda hasil kalimat yang disusun. Contohnya, ‘Pengalaman itu sangat menyenangkan sekali.’ seharusnya ‘Pengalaman itu sangat menyenangkan.’

Baca juga:   Membiasakan Berbahasa Jawa Tingkatkan Motivasi Peserta Didik

Untuk itu perlu adanya sikap tegas untuk mengubah pola pikir cara menulis sebuah tulisan/ karya. Tulisan siswa yang awalnya merasa benar dari apa yang didengar, sekarang dikembalikan untuk melihat pedoman penulisan yang efektif. Siswa dibiasakan membaca teks/ bacaan yang memang penulisannya menggunakan kalimat efektif. Siswa perlu didorong  untuk membaca buku referensi pedoman penulisan kata, kalimat, paragraf yang padu dan efektif.

Apabila siswa sudah terbiasa menulis dengan kalimat efektif, maka hasil karya tulisannya menjadi terarah, komunikatif dan tidak menghasilkan kerancuan makna. Siswa mampu menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain itu dapat memupuk generasi bangsa Indonesia untuk bangga dengan Bahasa Indonesia. (igi1/aro

Guru SMP negeri 10 Salatiga

Author

Populer

Lainnya