RADARSEMARANG.COM – RASANYA lega sekali ketika mendengar Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono mencabut status siaga satu. Itu berarti ketegangan akibat serangan bom di Surabaya sudah mereda. Situasi tak menakutkan lagi. Sudah kembali kondusif. Umat Islam bisa menjalankan ibadah dengan tenang. Demikian juga umat agama lain.

Jawa Tengah memang tidak termasuk sasaran bom yang membabi buta. Tetapi bukan berarti harus tenang-tenang saja. Beberapa wilayah di Jawa Tengah pernah dipakai untuk bersembunyi para teroris. Semarang, Solo, Kudus, dan beberapa daerah lain. Noordin M Top, salah satu gembong teroris, ditangkap di Jebres, Solo, 2009.

Meski gembong teroris Noordin M Top dan Dr Azhari telah tewas, jaringannya terus bergerak. Hari Minggu lalu (13 Mei) mereka melakukan serangan di Surabaya. Di depan tiga gereja dan di depan Mapolrestabes Surabaya. Saya yang waktu itu di Surabaya merasakan betapa menegangkannya sutuasi saat itu.

Teman-teman mengirim pesan agar saya tidak ke mana-mana. Anak-anak saya juga demikian. ‘’Bapak kan wartawan. Masak ada bom malah kamu minta di rumah saja,’’ jawab saya kepada anak-anak yang berkumpul di depan televisi. Sehari itu situasi di depan televisi sangat menegangkan, sama dengan di luar. Tetapi, Alhamdulillah, saya aman-aman saja.

Ketegangan segera merasuk ke seluruh wilayah. Termasuk di Jawa Tengah. Apalagi setelah itu Mapolda Riau juga diserang. Seluruh kapolda memberlakukan status siaga satu. Saya bisa membayangkan betapa risaunya Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono. Demikian juga Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto. Di pundak keduanya keamanan Jawa Tengah bertumpu.

Tiga hari sebelum bom meledak, saya bertemu Kapolda dan Pangdam. Dalam satu meja. Dalam acara pemberian penghargaan oleh Jawa Pos Radar Semarang. Sebelumnya, saya bersilaturahmi ke kantor masing-masing. Saya merasakan keramahannya. Namun, ketika bom meledak, saya merasakan ketegangannya.

Jangankan bom meledak, merapi erupsi saja mereka tegang. Kebetulan Jumat, 11 Mei 2018, ketika Merapi erupsi saya sedang di kantor pangdam. Pertemuan saya tertunda karena beliau sibuk mengkoordinasi anak buahnya untuk melakukan pengamanan. Saat itu  juga kapolda melakukan hal yang sama.

Baik pangdam maupun kapolda memiliki pendangan yang sama tentang keamanan. Yaitu, bertumpu di masyarakat. Karena itu, peran Babinkamtibmas (polisi) dan Babinsa (TNI AD) menjadi sangat vital. ‘’Kalau mau menulis, tulis mereka (Babinsa). Banyak pengalaman menarik yang bisa diungkap di media massa,’’ kata pangdam dengan tersenyum.

Kapolda juga memiliki pandangan senada. Beliau pernah menjadi Dirlantas Polda Jatim 2007. Saat itu Condro banyak melahirkan gerakan patuh berlalu lintas berbasis masyarakat. Antara lain, lajur kiri, klik on, light on, dan sebagainya. Kebetulan di lingkungan Polda Jatim juga dilaksanakan Cipta Kampung Aman (CKA). Yakni, sistem keamanan berbasis masyarakat kampung.

Kini, CKA mengemuka lagi. Sampai-sampai kapolda berpendapat orang-orang yang tak bersosialisasi di lingkungannya patut dicurigai. Karena, menurut pengalaman, para pelaku aksi terorisme adalah mereka yang hidup menyendiri di tengah keramaian masyarakat. Nah, yang tahu kondisi mereka adalah para tetangganya.

Meski menyendiri, mereka bisa ‘’bergerak’’ bebas. Kini sistem komunikasi sangat mendukung. Mereka bisa berkomunikasi dengan jaringannya tanpa harus keluar rumah. Mereka juga bisa menyebarkan ‘’ajarannya’’ tanpa bertatap muka. Mereka bisa belajar merakit dan mengebom hanya lewat komputer.

Mereka bisa merasuki kita lewat pesan-pesan yang disebarkan melalui berbagai media. Khususnya media sosial. Apalagi, sekarang nyaris semua orang menggunakan media tersebut. Informasi yang mereka tangkap tak terbatas. Berita palsu (hoax) pun sering ditelan mentah-mentah oleh masyarakat. Para ekstrimis memanfaatkan kondisi tersebut.

Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning termasuk yang merisaukan ganasnya berita hoax. Berita-berita hoax itu sangat menyesatkan. Dan, kemungkinan juga dimanfaatkan oleh para teroris. Melalui Student Festival di Univesitas Muria Kudus (12 Mei 2018) dia mengajak untuk memerangi hoax. Acara itu digelar oleh Jawa Pos Radar Kudus bekerja sama dengan Polres Kudus. Juaranya diumumkan Rabu besok (23 Mei 2018). (hq@jawapos.co.id)