33 C
Semarang
Rabu, 15 Juli 2020

Satu Titik Parkir, Setor ke Banyak Pihak

Bakal Diterapkan Parkir Berlangganan

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Mata rantai bisnis parkir di Kota Semarang hingga sekarang masih sulit diputus. Banyak pihak bermain dan mendapat keuntungan dari pengelolaan parkir, sehingga retribusi parkir bocor ke oknum-oknum yang bermain.

Oknum yang bermain parkir inipun beragam, baik dari kelompok organisasi swasta, RT, Karangtaruna, maupun oknum petugas dari unsur pemerintahan yang berkaitan dengan parkir.

Salah satu juru parkir, NR, yang ditemui Jawa Pos Radar Semarang, mengatakan banyak pihak mendapat jatah dari setoran parkir. Jumlah setoran bisa beragam, yakni berkisar antara Rp 20 ribu hingga Rp 40 ribu per bendel karcis.

“Misalnya begini, satu bendel karcis berisi 100 lembar dengan tarif resmi Rp 1.000 untuk motor. Kami setorannya berkisar antara Rp 25 ribu per satu bendel karcis per hari. Tinggal dikalikan habis berapa bendel karcis parkir. Hampir semua parkir umum di tepi jalan menggunakan sistem serupa,” katanya.

Juru parkir mendapatkan karcis resmi parkir ada yang melalui jalur resmi, ada pula yang mendapatkan melalui oknum Dishub Kota Semarang. “Juru parkir ada yang membeli karcis dari Oknum Dishub Kota Semarang. Saya nggak tahu apakah uang setoran itu masuk ke kas pemerintah atau dinikmati oleh oknum itu sendiri,” katanya.

Lebih lanjut, setoran parkir bisa juga diserahkan ke oknum yang mengelola organisasi swasta untuk kemudian diserahkan ke Dishub Kota Semarang. “Intinya setoran juru parkir di tepi jalan, biasanya dihitung berdasarkan jumlah bendel karcis,” katanya.

Selain itu, oknum dari organisasi swasta tersebut juga melakukan jual beli lahan. Juru parkir membeli lahan dari oknum itu. “Tetapi kalau parkir yang berada di depan toko dikelola oleh toko tersebut. Kemudian biasanya toko tersebut menyetor ke Karang Taruna dan RT setempat,” katanya.

Nominal uang parkir toko yang disetorkan ke Karangtaruna ataupun RT setempat biasanya berkisar Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu per bulan. “Untuk tarif, sejauh ini tidak ada kenaikan. Dari dulu hingga sekarang tetap sama,” katanya.

Kepala Seksi Penataan dan Perizinan Parkir Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang, Danang Kurniawan mengatakan belakangan ini seiring dengan diberlakukan jalan satu arah, mengakibatkan banyak titik parkir hilang. Hal ini memengaruhi berkurangnya pendapatan parkir di Kota Semarang.

“Kemudian pembatasan jam parkir seperti di kawasan Simpang Lima. Kecuali malam hari pukul 21.00 lebih. Artinya banyak kebijakan mengenai manajemen rekayasa lalu lintas mengakibatkan banyak titik parkir berkurang,” katanya.

Meski begitu, ia mengakui potensi pendapatan parkir di Kota Semarang secara umum sangat besar. Namun demikian, Danang menyebut di lapangan mengenai pengelolaan parkir ini di satu titik saja dikuasai oleh beberapa pihak. “Kami sebetulnya tidak tinggal diam. Kami bersama aparat penegak hukum sudah melakukan sampling-sampling operasi. Jadi, di satu titik parkir setornya ke mana-mana. Tidak hanya ke Pemkot Semarang saja. Ada oknum-oknum tertentu yang merasa berkompeten untuk mengamankan lahan di situ. Setoran ke pemerintah nilainya kecil sekali,” ungkapnya.

Pihaknya mengaku telah melakukan studi mengenai pengelolaan parkir di Kota Semarang. Intinya pengelolaan parkir di Kota Semarang ini harus berubah. Beberapa terobosan sebetulnya sudah ditetapkan, yakni menggunakan sistem parkir meter dan parkir berlangganan.

“Tampaknya parkir meter setelah dihitung dan dipetakan, risikonya belum memungkinkan. Ada kemungkinan besar, yang mudah diterapkan adalah parkir berlangganan,” katanya.

Untuk menerapkan sistem parkir berlangganan, nantinya bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jateng, yakni Samsat. Pemilik kendaraan bermotor bayar parkir sekaligus bayar pajak tahunan. “Setiap membayar pajak kendaraan, sekaligus bayar parkir,” katanya.

Juru parkirnya nanti digaji oleh pemerintah menggunakan dana tersebut. Jadi, nantinya tidak ada pungutan parkir lagi di lapangan. “Dengan begitu tidak ada lagi kebocoran retribusi parkir di lapangan. Semuanya masuk melalui satu pintu. Kami tinggal melakukan pengawasan mengenai titik-titik mana yang diperbolehkan untuk parkir, lalu-lintas dan lain-lain,” katanya.

Sistem penerapan parkir berlangganan ini dinilai lebih efektif untuk memutus mata rantai bisnis parkir yang selama ini mengakibatkan pendapatan daerah bocor. “Semua pembayaran parkir melalui Samsat. Tidak ada pembayaran di lapangan,” katanya.

Apabila ada oknum yang memungut di lapangan, aparat yang memiliki kewenangan tinggal menangkap oknum tersebut. Harapannya, agar skandal pengelolaan parkir yang melibatkan banyak pihak bisa ditertibkan.

Apalagi target pendapatan parkir di Kota Semarang 2018 ini dinaikkan menjadi Rp 15 miliar per tahun, sebelumnya targetnya hanya Rp 4 miliar. Itupun hanya mencapai Rp 2,5 miliar. “Target tahun ini Rp 15 miliar jelas sangat berat sekali. Kondisi di lapangan saja seperti itu. Banyak tangan-tangan bermain. Sementara juru parkir cenderung lebih takut dan loyal kepada oknum-oknum yang menguasai parkir,” katanya.

Oknum-oknum ini merasa mendapat lahan. Mereka menguasai lahan dari awal dan sudah berlangsung lama. Untuk mendapatkan lahan itu dilakukan dengan cara membeli. “Ada titik keramaian, mereka menguasai di situ. Kalau sudah jalan, lalu dijual atau dikontrakkan ke orang lain. Kamu bekerja di sini silakan, tapi nanti kamu sharing dengan saya, begitu. Faktanya memang seperti itu,” katanya.

Apabila lingkaran itu diusik, rentan terjadi masalah. Untuk memutus praktik pengelolaan parkir yang melibatkan banyak pihak bermain itu harus diterapkan parkir berlangganan. “Kami sudah melakukan pembahasan. Pemkot sudah koordinasi dengan Pemprov Jateng. Nanti ada tim teknis yang merumuskan dasar hukumnya, misalnya dengan Peraturan Wali Kota (Perwal),” katanya.

Dari Perwal tersebut, nanti dibahas teknisnya, tarif, termasuk hak dan kewajiban pemerintah provinsi dan seterusnya. “Selain itu, melibatkan aparat penegak hukum untuk pengawasan,” katanya.

Ia mengaku menyambut baik atas rekomendasi dari DPRD Kota Semarang dan siap melaksanakan penerapan parkir berlangganan tersebut. “Terus terang kami ini capek mengurusi soal kebocoran retribusi parkir. SDM kami juga terbatas, mestinya dengan parkir berlangganan sudah simpel,” katanya. (amu/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Diker Ariandas Juarai 10K

SALATIGA - Diker Ariandas, pelari asal klub Persatuan Atletik Angkatan Darat (PAAD) berhasil masuk garis finish di urutan pertama kategori 10K nasional dalam kejuaraan...

Terbawa Film Turki

Oleh: Dahlan Iskan Hampir tidak percaya. Ingin kuliah di Turki gara-gara ini: nonton sinetron Turki. Yang dulu banyak disiarkan di Indonesia. Oleh AN-TV. Saya pikir mengada-ada....

Musrenbang Matangkan Program Pembangunan

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID—Pemkab Magelang menggelar kegiatan musyawarah rencana pembangunan (musrenbang) RKPD 2019 di GOR Gemilang, Kota Mungkid, kemarin. Kegiatan ini, merupakan salah satu tahap dari...

Siklon Cempaka, Nelayan Tak Melaut

RADARSEMARANG.COM, KENDAL — Cuaca buruk dengan angin kencang dan gelombang air laut yang tinggi hingga 3 meter dalam sepekan ini, menyebabkan nelayan tak berani...

Sulap Limbah Kayu Jadi Patung Artistik

RADARSEMARANG.COM - Jika limbah selalu berakhir di tempat sampah, di tangan Sadam Husain justru menjadi karya seni yang cukup mewah. Bahkan, lewat tangan dinginnya,...

Mahir Menari dan Bermain Basket

WINA Anindya, gadis berparas cantik kelahiran Temanggung 15 Agustus 1998 ini adalah mahasiswi jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) 2016. Dara...