33 C
Semarang
Minggu, 12 Juli 2020

Jadi Penceramah, Sejak di Bangku MTs

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM – NAMA Dr Arikha MAg, sudah tidak asing di kalangan para ustad maupun ustadzah sebagai penceramah. Istri Wakil Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Prof DR Imam Taufiq M.Ag ini, selain berprofesi sebagai dosen di UIN Walisongo, juga pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Falakh Besongo. “Sebenarnya profesi saya dosen. Namun aktivitas saya berceramah, adalah panggilan ibadah,” ungkap Arikha saat ditemui di rumahnya di Ngaliyan Semarang, kemarin.

Perempuan kelahiran Kudus, 29 Nopember 1969 silam ini, menjelaskan bahwa saat dirinya menjadi penceramah, panggilan hatinya adalah saling tolong menolong dengan sesama manusia. Sebab mereka perlu mendapatkan informasi keagamaan untuk diaktualisasikan. Hal tersebut sesuai pesan besarnya agama dan Islam.

“Dengan aktualisasi keagamaan itu, umat bisa berakhlak lebih mulia. Kemudian membentuk komunitas yang dicita-citakan Islam, sebagai rahmatan lil alamin atau islam yang penuh kasih saying, tolerans kepada orang lain. Nah dari situlah, kita berkewajiban menyebarkan kebaikan,” katanya.

Makanya, misinya berceramah adalah menyampaikan apa sebenarnya yang menjadi hakikat hidup manusia agar lebih enjoy dan tidak merasa terbelenggu oleh keyakinannya. Karena keyakinan itu menuntut sesuatu. “Itulah dakwah, mengajak kepada jalan Tuhan, yang sesungguhnya sangat membahagiakan. Jadi, kalau kita melakukan perintah Tuhan, kita juga jadi senang sendiri, meskipun tidak ada tujuan untuk mendapatkan pujian dari orang lain,” bebernya.

Arikhah menjadi penceramah, ternyata sejak duduk di bangku MTs di Kudus. Semula, sering ditunjuk mengikuti lomba pidato hingga menuntunnya untuk tampil sebaik-baiknya. Kala itu, ia juga mendapat dukungan dari kakak kandungnya yang membantu membuatkan teks materi pidato.

“Saya belajar menyampaikan, kemudian saya latihan di depan cermin, akhirnya terbiasa. Kemudian dimintai tolong untuk mengisi pengajian. Itulah awal mula munculnya saya bisa menjadi penceramah. Ya memang, awalnya grogi tapi lama-lama terbiasa,” katanya.

Diakuinya, Arikha sejak kecil dekat dengan agama kerena ia dilahirkan dalam lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Fallah milik orangtuanya yang berdiri sejak tahun 1969 di Bareng Jekulo Kabupaten Kudus. Sehingga, ia aktif menggeluti ilmu agama Islam sejak kecil hingga duduk di bangku kuliah.

“Sejak mahasiswa dapat beasiswa, meski orangtua berkecukupan. Tapi saya ingin mandiri. Itu juga yang diajarkan agama, lebih baik tangan di atas daripada di bawah. Makanya saya berupaya mengejar itu,” jelasnya.

Begitu masuk ke jenjang pendidikan akademik UIN Walisongo Semarang pada tahun 1988 dan lulus Sarjana tahun 1992, Arikhah sudah malang melintang sebagai penceramah. Meski masih lingkup lokal, ia rutin mengisi pengajian di berbagai masjid di Kota Semarang, terlebih di dekat tempatnya indekos di daerah Kalibanteng Kidul Semarang Barat.

“Saat kuliah, saya aktif sekali. Saya ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Tapi, setiap Sabtu sampai Ahad saya pulang ke Kudus. Sedangkan waktu pengajian, malam Selasa di Masjid Al Iman di Kalibanteng. Pagi saya kuliah. Itu sudah sibuk sekali. Jadi tidak sempat yang namanya pacaran,” candanya.

Bagi Arikha, mengisi pengajian adalah kegiatan sosial, sehingga ia kerap menolak imbalan. Hal tersebut sudah menjadi prinsipnya, panggilan ibadah untuk mencari pahala hingga persaudaraan tanpa mengharapkan penilaian manusia.

Kini, perempuan yang berprofesi sebagai dosen Fakultas Ushuludin dan Humaniora (Fuhum) Jurusan Tasawuf dan Psikoteraphy, UIN Walisongo Semarang ini, kerap mengisi pengajian di masjid-masjid di luar Kota Semarang, seperti Pati, Grobogan, Demak, termasuk Pekalongan.

“Ramadan tahun lalu, saya kerap live di televisi. Tapi tahun ini tidak. Sebab kalau live di televisi harus hadir lebih awal, pulangnya sampai akhir sampai sudah mulai salat tarawih,” pungkasnya. (mha/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Undip Tambah Dua Guru Besar

SEMARANG – Universitas Diponegoro (Undip) kembali menambah daftar guru besarnya. Dari 8 tambahan guru besar, dua diantaranya berasal dari Fakultas Kedokteran (FK) yakni Prof...

Peserta Lemhanas Negara Sahabat Kagumi MAJT

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Peserta Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas) angkatan 58 dari sejumlah negara sahabat, mengunjungi Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), dipimpin Laksamana Pertama TNI I Gusti...

Total Tagihan Nyonya Meneer Rp 252,87 M

SEMARANG-Hingga saat ini ada 83 kreditur PT Nyonya Meneer (PT Njonja Meneer) dengan total tagihan mencapai Rp 252.869.165.285 (Rp 252,87 miliar) yang masuk ke kurator, setelah perusahaan jamu...

Arus Pendek, 4 Rumah Ludes, 3 Terbakar Ringan

DEMAK-Empat rumah di Dukuh Demung Lor, RT 4 RW 4, Desa Pilangrejo, Kecamatan Wonosalam, kemarin siang ludes terbakar. Peristiwa ini menimpa rumah milik Suroso, 55;...

Delapan Tim Wartawan Siap Berlaga

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Sebanyak delapan tim dari berbagai kab/kota di Jawa Tengah siap berlaga dalam ajang turnamen Journalist Futsal Competition bertitel Wali Kota Semarang...

Magelang Ikon Wisata Sunrise

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID - Kabupaten Magelang menjadi salah satu surga bagi penikmat panorama sunrise. Potensi ini didukung letak geografis yang dikitari deretan pegunungan dan perbukitan...