Beranda Radar Solo Dua Pekan Ngemis Bisa Beli Smartphone

Dua Pekan Ngemis Bisa Beli Smartphone

Others

RADARSEMARANG.COM, SOLO – Meningkatnya aktivitas sosial termasuk beramal pada bulan Ramadan menjadi lahan basah bagi pengemis. Tidak sedikit dari mereka hanya berpura-pura memelas. Meskipun ada pula yang memang membutuhkan uluran tangan.

Ada beberapa titik yang menjadi langganan para pengemis beroperasi. Salah satunya kawasan Masjid Agung Surakarta. Dengan baju alakadarnya, mereka stand by di akses keluar kompleks masjid.

Di antaranya adalah Suliyep, 65, yang mengaku berasal dari Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen. Pada Ramadan ini, penghasilannya dari mengemis bisa meningkat tiga kali lipat. “Kalau pas hari Jumat, cuma tiga jam (mengemis, Red) bisa dapat Rp 120 ribu,” ucapnya.

Rampung dari Masjid Agung, dia pindah ke Pasar Klewer untuk melakukan aktivitas yang sama. Saat hari libur, dari pusat produk sandang itu Suliyep bisa mengantongi Rp 500 ribu per hari. Jika merasa uang di kantong masih kurang, Suliyep menyusuri kawasan pertokoan di Jalan Radjiman. Yakni dari Pasar Klewer hingga Matahari Singosaren. “Batasnya sampai di situ saja. Soalnya Singosaren ke barat sudah jadi kavlingnya orang. Tidak boleh (mengemis, Red) sampai sana-sana (di luar kavling, Red),” ujarnya.

Menjadi pengemis ditekuni Suliyep selama sepuluh tahun terakhir. Dia sempat menjadi karyawan pabrik plastik namun terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) tanpa pesangon akibat perusahaannya bangkrut. Akhirnya oleh rekannya dia diajak mengemis ke Kota Bengawan.

Setiap hari, dia berangkat dari rumahnya di Sragen menuju Kota Solo menggunakan bus sekitar pukul 03.00. Setelah turun di Terminal Tirtonadi, Suliyep berganti baju di toilet umum terminal. Baju yang dia dikenakan dari rumah dimasukkan ke dalam tas. Sekarang, penampilannya berbeda 360 derajat karena sudah mengenakan baju kumal khas pengemis.

Lokasi lain yang tak luput dari aksi pengemis adalah kawasan Stadion Manahan. Salah seorang pedagang selter Manahan Antok menerangkan, modus ganti baju menjadi andalan sejumlah pengemis.

Sebelum beraksi, mereka menitipkan sepeda motornya dan buru-buru menuju toilet umum untuk berganti pakaian compang-camping.“Biasanya itu kalau ganti baju di sini (toilet umum kawasan Stadion Manahan sekitar pukul 14.00. Nanti sekitar 18.30 ganti baju lagi sebelum pulang,” jelasnya.

Agar banyak menyita rasa iba masyarakat di sekitar Stadion Manahan, sejumlah pengemis mengajak anak-anak. “Ada yang masih sekolah dan ada yang tidak. Tapi heran saya itu kok yo ibune tegel (ibunya tega, Red),” ungkapnya.

Di tengah wawancara dengan Antok, tiba-tiba ada bocah perempuan berbaju compang-camping warna merah muda dan celana pendek warna cokelat menghampiri koran ini. “Nah itu, yang biasanya salin (ganti baju, Red) di sini (toilet umum Manahan, Red), diikuti saja,” kata Antok.

Pengemis cilik itu terlihat menyusuri sepanjang Jalan Menteri Supeno hingga Jalan K.S. Tubun. Sekitar 15 menit berjalan, di penghujung jalan, dia beristirahat sebelum putar balik. Rupanya, sambil istirahat, bocah tersebut menghitung lembaran uang hasil meminta-minta.

Tak lama kemudian, dia mengeluarkan smartphone berukuran 5,5 inchi dari dalam tasnya. Saat dihampiri, anak tersebut mengaku bernama Ayu, 9. Saat Ramadan, dia bisa mendapatkan Rp 300 ribu – Rp 450 ribu dengan mengemis mulai pukul 14.00 hingga menjelang waktu berbuka puasa.

Ayu menyatakan putus sekolah sejak kelas 2 SD karena lebih memilih menjadi pengemis. “Bisa beli HP (handphone, Red) sendiri. Cuma dari hasil mengemis dua minggu sudah bisa beli,” tuturnya polos. (atn/wa/bas)

Stay Connected

12,288FansSuka
35PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest News

Semut Raksasa

Related News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here