Keterampilan Berpikir Kritis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia K13

spot_img

RADARSEMARANG.COM – PERKEMBANGAN zaman menuntut pendidikan untuk memberikan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari pengaruh perkembangan globalisasi, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang  pesat.Untuk menghadapi perkembangan globalisasi  maka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan, baik akademik maupun non-akademik. Kurikulum 2013 (K13) merupakan kurikulum yang diterapkan oleh pemerintah untuk menggantikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Kurikulum 2013 ini menjawab tantangan di era globalisasi.Tujuan dikembangkan Kurikulum 2013 adalah menjadikan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif dan afektif melalui penguatan tiga aspek penilaian, yaitu Aspek Pengetahuan, Aspek Keterampilan, dan Aspek Sikap/Perilaku. Dalam kurikulum 2013 peserta didik dituntut untuk terampil berpikir kritis dalam pembelajaran.

Menurut Schafersman (1991), berpikir kritis adalah berpikir untuk mengajukan pertanyaan yang sesuai, mengumpulkan informasi yang relevan, mengurutkan informasi secara efisien dan kreatif, bernalar secara logis menyimpulkan. Menurut Mertes (1986) Berpikir kritis adalah sebuah proses yang disengaja dan dilakukan secara sadar untuk menafsirkan sekaligus mengevaluasi sebuah informasi dari pengalaman  keyakinan dan kemampuan yang ada.Keterampilan berpikir kritis ini bisa diimplementasikan dalam proses pembelajaran pada kurikulum 2013.Hal ini terlihat pada  Permendikbud nomor  81 A Tahun 2013 lampiran IV, proses pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar pokok yaitu: mengamati, menanya, mengeksplorasi/mencoba, menalar / mengasosiasikan, dan mengkomunikasikan.

Pertama, mengamati. Tahap mengamati mengutamakan kebermaknaan proses pembelajaran (meaningfull learning). Metode ini memiliki keunggulan  tertentu, seperti menyajikan media objek secara nyata, peserta didik senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya.

Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik, sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Dengan metode observasi peserta didik menemukan fakta bahwa ada hubungan antara objek yang dianalisis dengan materi pembelajaran yang digunakan oleh guru.

Baca juga:   Asyiknya Belajar IPA di Hutan Sekolah

Pendekatan saintifik seperti telah dikemukan di atas juga  diterapkan di dalam kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia. Melalui penguasaan berbagai jenis teks  seperti yang terdapat di dalam kurikulum 2013 , keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, menulis) akan memperkuat pencapaian kompetensi peserta didik.

Pada tahap mengamati, kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan  mengamati teks yang dimodelkan, mengamati tayangan TV/rekaman video, mengamati gambar atau mengamati lingkungan sekitar.

Kedua, menanya. Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermuladari ‘bertanya’. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis Contextual Teaching and Learning(CTL). Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam pelaksanaaan pembelajaran.

Siswa dalam mengajukan pertanyaan didorong rasa ingin tahu. Setiap pertanyaan merupakan saat yang berguna, karena saat ini akan memusatkan seluruh perhatian untuk memahami sesuatuyang baru. Setiap pertanyaan yang diutarakan menunjukan bahwa siswa menyadari adanya suatu masalah. Siswa merasa kekurangan pengetahuan seputar materi yang diajarkan oleh guru. Guru harus mampu merangsang minat siswa bertanya serta mampu merespon setiap pertanyaan dengan baik. Keterampilan bertanya yang harus dimiliki siswa ketika bertanya yaitu frekuensi pertanyaan selama proses pembelajaran, substansi pertanyaan, bahasa, suara, dan kesopanan. Seorang siswa yang dibiasakan untuk bertanya maka siswa tersebut akan.

Ketiga, mengeksplorasi/mencoba. Kegiatan ekplorasi adalah kegiatan pembelajaran yang didesain agar tecipta suasana kondusif yang memungkinkan siswa dapat melakukan aktivitas fisik yang memaksimalkan pengunaan panca indera dengan berbagai cara, media, dan pengalaman yang bermakna dalam menemukan ide, gagasan, konsep, dan/atau prinsip sesuai dengan kompetensi mata pelajaran.

Dalam kegiatan eksplorasi, guru: (1) melibatkan peserta didik mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan menerapkan prinsip  belajar dari aneka sumber; (2) menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran, dan sumber belajar lain; (3) memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya; (4) melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan (5) memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan.

Baca juga:   Mengoptimalkan WhatsApp Menjadi Pilihan BdR dan MdR

Keempat, menalar/mengasosiasikan. Penalaran adalah proses berfikir yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan berupa pengetahuan. Penalaran dimaksud merupakan penalaran ilmiah, meski penakaran nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Istilah menalar di sini merupakan padanan dari associating; bukan merupakan terjemanan dari reasonsing, meski istilah ini juga bermakna menalar atau penalaran. Karena itu, istilah aktivitas menalar dalam konteks pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak merujuk pada teori belajar asosiasi atau pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam pembelajaran merujuk pada kemamuan mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan beragam peristiwa untuk kemudian memasukannya menjadi penggalan memori.

Kelima, mengomunikasikan. Pada tahap ini peserta didik memaparkan hasil pemahamannya terhadap suatu konsep/bahasan secara lisan atau tertulis. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah melakukan presentasi laporan hasil percobaan, mempresentasikan peta konsep, dan lain-lain.

Dari paparan  proses pembelajaran bahasa Indonesia yang melibatkan lima pengalaman belajar pokok tersebut jelaslah  bahwa  pembelajaran bahasa Indonesia berbasis teks diharapkan peserta didik  mampu berpikir kritis. Dengan lima pengalaman belajar pokok atau sering kita sebut dengan pendekatan saintific, guru pun dapat memberikan dorongan  dan inspirasi pada peserta didik untuk  berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. Dalam hal ini kemampuan berfikir kritis/critical thinking sangat penting dalam pembelajaran bahasa Indonesia. (igi1/aro)

Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Salatiga

Author

Populer

Lainnya