32 C
Semarang
Jumat, 25 Juni 2021

Speak Up or Keep Standing Up

RADARSEMARANG.COM – PEMBACA pasti tergelitik dengan judul ungkapan Speak Up or Keep Standing Up. Jika kita terjemahkan secara harfiah ungkapan ini bisa diartikan berbicaralah atau tetap berdiri. Ini berarti jika siswa tidak menjawab atau berbicara, maka dia tidak bisa duduk atau tetap berdiri. Kesan pertama ketika membaca judul ini, kesannya kejam banget guru ini. Tapi jika pembaca menyimak artikel ini, pembaca akan temukan hal-hal tersembunyi dari teknik ini.

Teknik ini merupakan pengembangan dari teknik Speak Up or Stand Up yang penulis sampaikan di majalah Kota Salatiga Hati Beriman beberapa waktu lalu. Teknik ini mulai tercipta ketika penulis mengajarkan materi Bahasa Inggris, para siswa sangat pandai ketika menyelesaikan soal-soal dalam bentuk tertulis namun kurang maksimal ketika harus mengungkapkan dalam bentuk lisan. Dalam satu kelas, biasanya yang aktif berbicara hanya 3 atau 4 siswa. Tentu ini menjadi pemikiran tersendiri bagi penulis, sehingga muncul ide ini untuk membuat para siswa aktif berbicara dalam Bahasa Inggris.

Satu hal yang perlu menjadi catatan bagi penulis, teknik yang akan digunakan tentu saja haruslah tetap menyenangkan bagi siswa. Variasi teknik baru mulai muncul setelah teknik Speak Up or Stand Up berhasil membuat lebih banyak siswa aktif berbicara dalam Bahasa Inggris. Tercetuslah ide untuk menggunakan teknik yang lebih sedikit berbeda dari sebelumnya. Dan lahirlah teknik Speak up or Keep Standing Up.

Untuk lebih jelasnya, penulis akan menjelaskan bagaimana teknik ini digunakan di dalam kelas. Pertama para siswa diminta berdiri kemudian diberi topik masalah, misalnya pada materi kelas 9 semester gasal ada materi tentang stating rules atau menyatakan aturan, kemudian guru akan meminta para siswa untuk mengungkapkan apa saja aturan yang bisa diterapkan di sekolah. Siswa yang menjawab atau menyatakan aturan dengan benar bisa langsung duduk.

Kayaknya biasa saja seperti tidak ada tantangan. Di sinilah tantangannya, ungkapan aturan yang sudah disebutkan oleh teman yang lain, tidak boleh dipakai lagi, jadi harus mencari aturan lain yang otomatis menggunakan kosa kata yang berbeda. Mereka akan berusaha mencari ungkapan lainnya yang membuat kelas menjadi aktif. Posisi berdiri yang membuat para siswa tidak nyaman, akan membuat mereka berusaha keras menemukan jawaban agar bisa duduk. Ketika tertinggal 2 atau 3 siswa yang belum bisa menemukan jawaban, tentunya akan menyakitkan jika hanya berakhir seperti ini.

Pendidikan karakter mulai dilibatkan dalam hal ini, teman sekelas adalah keluarga di sekolah. Kalau ada yang belum bisa menjawab, menjadi tanggung jawab satu kelas untuk membantu. Guru akan memberi batasan waktu misalnya 20 hitungan mundur atau istilahnya twenty count down, jika dalam rentang waktu tersebut, teman yang lain belum bisa membantu teman yang masih berdiri menemukan jawaban, maka semua siswa harus berdiri lagi. Inilah puncak permainannya. Keberhasilan kelas menjadi tanggung jawab bersama. Mau tidak mau seluruh anggota kelas akan saling membantu untuk dapat duduk kembali.

Penulis berharap teknik di atas dapat menginspirasi para guru se-Indonesia. Selain meningkatkan kosa kata dan percaya diri para siswa, teknik ini juga dapat digunakan sebagai ice breaker dalam pembelajaran untuk menghindari kebosanan siswa. Untuk variasi teknik lain yang lebih tepat, penulis yakin para guru akan dapat menemukannya sesuai dengan pengalaman di lapangan. (*/ida)

*) Guru SMP N 1 Salatiga

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here