ATRAKTIF: Penampilan kelompok musik beraliran grindcore asal Semarang, AK//47. (DOKUMEN PRIBADI)
ATRAKTIF: Penampilan kelompok musik beraliran grindcore asal Semarang, AK//47. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.COM – AK//47 adalah kelompok musik beraliran grindcore asal Semarang yang cukup bandel dan keras kepala. Mereka nekat pentas keliling di 22 kota di West Coast, California, Amerika Serikat. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

SELAMA 22 hari berturut-turut, AK//47 mengembara di negeri Paman Sam. Mereka membawa peralatan musik, sound system, dan perangkat alat konser yang lain. Tidak main-main, AK//47 ini menggelar pertunjukan keliling di 22 kota di West Coast, California, Amerika Serikat.

“Kami berjalan 22 hari nonstop. Selain pertunjukan, kami membawa foto dan kamera untuk diproyeksikan menjadi film dokumenter di masa mendatang,” kata pentolan Band AK//47, Garna Raditya, kepada Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

Tur ini berlangsung sejak 20 April hingga 12 Mei 2018 lalu. Ini menjadi agenda ‘babat alas’ di negeri Paman Sam. Sekaligus menjadi rangkaian promo album baru bertajuk “Loncati Pagar Berduri” yang akan dirilis oleh Lawless Jakarta Records dan Disaster Records dalam waktu dekat ini.

Garna menyebut, AK//47 harus menyiasati kondisi, karena harus pasang personil lintas negara. “Dalam tur tersebut, kami mengumumkan Damian Talmadge (bass) dan Mark Miller (drum) sebagai formasi pendamping AK//47. Dua personil tersebut merupakan pemain pendamping AK//47 selama konser di Amerika Serikat. Kami menyadari urusan imigrasi menjadi kendala utama untuk personel di Indonesia untuk bisa terbang ke Amerika. Tentu saja biaya penerbangan yang tak terjangkau,” ujarnya.

Sedangkan Novelino Adam (Bass) dan Yogi Ario (Drum) sebagai personel di Indonesia tetap menjadi gawang di Indonesia. Band AK//47 menerapkan konsep lintas personel dan negara. Memang, sejak kepindahan Garna ke Amerika Serikat pada 2016, AK//47 praktis mengurangi penampilannya di panggung lokal setelah merilis album “Verba Volant, Scripta Manent” yang masuk sebagai album terbaik versi majalah Rolling Stone Indonesia.

Novelino atau yang akrab disapa Inu, kembali disibukkan dengan bandnya Octopuz dan Olly Oxen. Begitupun dengan Yogi dengan Sergapanmalam dan Yagim Grind. Meski begitu, AK//47 tetap memiliki ruang. Beberapa waktu lalu mereka menggelar tur singkat di Semarang, Solo dan Jogjakarta. Sekaligus merampungkan sesi rekaman selama dua minggu yang dipandu oleh Girez sebagai teknisi suara.

Selama tur kelililing tersebut juga diramaikan oleh band asal Amerika Serikat, Violent Opposition, dan unit grind/violence asal Oakland, California. AK//47 ini sebetulnya bukan musisi baru. Bahkan mereka konsisten di jalur musik cadas sejak 1999 silam.

Lirik-liriknya misterius dengan mengupas isu-isu sensitif yang jarang diperhatikan oleh kebanyakan orang. Misalnya, soal keberadaan kaum LGBT yang sering ditangkap, tempat ibadah diserang, komoditas hoaks di media sosial, serta isu rasisme dalam kepentingan politik.

Isu-isu tersebut dituangkan ke dalam musik yang mengandung luapan emosi dan kemarahan di atas gelombang distorsi musik grindcore. Isu lain seperti imigran, chauvinisme, fasisme, dan homofobia dikemas dalam Bahasa Indonesia. Misalnya, “Bebas Berkelamin”, “Menggugat Manusia!”, “Lempar Petasan ke Podium”, “Ayat untuk Menyayat”, “Kepada Bunga Yang Masih Tumbuh di Beton”, “Botol, Bensin dan Mawar Untukmu” dan lainnya.

Di album terbarunya, AK//47 menuangkan sebanyak 13 lagu dengan topik-topik distopia dan aneka dekadensi akal sehat dalam masyarakat modern. “Saya sebagai imigran di Amerika Serikat yang dipimpin presiden tamak, membuat kehidupan sebagai minoritas. Tentu saja memberi imbas secara psikologis. Namun di lain sisi justru melahirkan pemikiran-pemikiran kritis,” kata mantan jurnalis di Semarang yang menikah dengan gadis asal Amerika ini. (*/aro)