Guru Sebagai Agen Pendidikan Karakter

spot_img

RADARSEMARANG.COM – TERJADINYA berbagai kerusakan moral pada anak didik kita, dipicu sejumlah faktor. Sekolah sebagai salah satu institusi pembentuk moral pendidikan karakter bangsa, sangat menentukan dalam memperbaiki atau mencegah hal tersebut.

Seorang guru, tidak hanya dituntut untuk mengajar saja. Tetapi justru lebih diutamakan menanamkan pendidikan karakter dalam mata pelajaran yang diampunya. Memberi contoh yang baik kepada siswa, sebagai pusat bertanya, menimba ilmu, pusat informasi, tempat keluh kesah—baik dari siswa, orangtua dan masyarakat—serta berbagai kepentingan, semua mengarah ke guru. Suka atau tidak, guru tidak boleh mengeluh jika ada yang membutuhkan keberadaannya. Intinya, guru jadi sorotan figur karakter bangsa, layaknya agen.

Menurut ilmu ekonomi, agen merupakan penyalur yang atas nama suatu perusahaan tertentu, menjual barang dan jasa yang bukan produksi perusahaan bersangkutan. Ada tiga jenis agen mewakili pelaku ekonomi yang berbeda. Yaitu, agen produsen, agen penjualan, dan agen pembelian. Lantas, apa ada hubungannya dengan guru?

Tentu ada hubungan. Yaitu, sebagai agen produsen yang berupa benda hidup atau makhluk hidup yang dapat bergerak secara fisik dan nonfisik. Fisik guru adalah sosok guru itu sendiri sebagai pelaku tauladan kepada siswa. Sedangkan nonfisik, memberikan contoh sifat atau nilai karakter bangsa yang vital.

Baca juga:   Asyiknya Menemukan Ide Pokok melalui Model Kepala Bernomor

Ini sejalan dengan pengarahan yang disampaikan oleh Bapak H. Diyana, MT, Kepala SMK Negeri 1 Semarang, sekaligus sebagai narasumber pada workshop kurikulum 2013 terbaru di SMK Negeri 1 Semarang, baru-baru ini. Yakni, menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter untuk setiap mata pelajaran. Khususnya SMK agar tercipta generasi penerus yang bermartabat.

Menurut Diyana, nilai-nilai karakter yang harus ditanamkan kepada peserta didik ada 26. Antara lain, jujur, tanggung jawab, percaya diri, peduli, dan lainnya yang harus terintegrasi dalam proses belajar mengajar serta tertulis pada Rencana Perangkat Pembelajaran(RPP).

Perbedaan antara siswa zaman dulu dan zaman now sangat mencolok. Semisal, dalam mengerjakan soal ulangan atau tes semester. Dulu, siswa sangat jujur dan penuh tanggung jawab saat menjawab setiap butir soal. Sebaliknya, anak zaman now sangat tidak peduli, tidak peka, tidak jujur, bahkan mencontek sudah merupakan kebiasaan. Lebih parah lagi, tulisan dari jawaban soal uraian yang dikoreksi guru, tidak bisa dibaca huruf-hurufnya. Bahkan ada siswa yang hanya mengumpulkan lembar jawab kosong. Ironis.

Pendapat ini sangat didukung oleh penyataan Tri Santoso, instruktur nasional SMK, sekaligus narasumber dalam workshop yang sama pula. Tri berpendapat, pendidikan karakter kurikulum 2013 revisi 2017, perlu diterapkan dan disusun dalam silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada setiap mata pelajaran yang diajarkan guru. Ini sebagai upaya memperbaiki moral siswa yang akhir-akhir ini menghawatirkan.

Baca juga:   Pembiasaan dan Pelatihan Dalam Pendidikan Karakter

Pendapat senada disampaikan Arif Subiakto, Plt Tata Usaha dan narasumber pula dalam kegiatan tersebut. Arif mengatakan, guru sebisa mungkin sebagai agen kebaikan, sebagai pendidik, memberi contoh tauladan yang dapat ditiru oleh siswanya.

Menurut Arif, guru sebagai agen kebaikan harus memberi contoh yang baik, sekecil apapun itu. Semisal, dalam berkendaraan, guru sebisa mungkin tak melanggar tata tertib lalulintas, meski tidak ada polisi yang melihatnya. Guru berpenampilan sopan-santun dalam bertutur kata, tertib mengajar, dan menyampaikan informasi yang baik.

Jadikanlah siswa sebagai ladang amal seorang guru sebagai mana tauziah yang disampaikan Asnawi, penulis artikel “Indahnya Berbagi melalui Tulisan”. Asnawi menulis bahwa ilmu Allah bagaikan lautan yang sangat luas, sementara ilmu yang diajarkan manusia sangat sedikit. Meski begitu, tetap perlu disampaikan, sebagaimana hadits yang berbunyi: “sampaikanlah dariku walau satu ayat”. Artinya, guru sebagai agen pendidikan karakter sangatlah tepat. Keberadaannya sangat berpengaruh pada moral anak bangsa yang beradab dan berbudi pekerti. Semoga. (*/isk)

Guru Matematika SMKN 1 Semarang

Author

Populer

Lainnya