33 C
Semarang
Selasa, 7 Juli 2020

GLS di Sekolah Pinggiran: Antara Harapan dan Kenyataan

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM – GERAKAN Literasi Sekolah (GLS) adalah upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah (guru, peserta didik, orang tua/wali murid) dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah ‘Kegiatan 15 Menit Membaca Buku Nonpelajaran Sebelum Waktu Belajar Dimulai’. Kegiatan rutin ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik/siswa serta dalam rangka meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.

Buku adalah salah satu sumber informasi. Rendahnya minat dan gairah membaca menjadi salah satu permasalahan pada masyarakat Indonesia. Teknologi yang canggih memberi kemudahan untuk mendapatkan informasi dengan cepat. Akibatnya remaja sekarang malas membaca buku ketika ingin mendapatkan suatu informasi. Maka dari itu, gerakan membaca kini semakin digalakkan oleh pemerintah. Salah satunya yang kini menjadi ‘headline’ dalam dunia pendidikan adalah Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan literasi sekolah juga mamberantas Narkolema (narkoba lewat mata). Melalui kegiatan ini mereka dapat lebih tertantang untuk membaca buku dibandingkan asyik dengan gawainya yang penuh dengan konten yang tidak sesuai dengan usia anak-anak. Remaja zaman sekarang sepertinya tidak mementingkan buku lagi, tetapi lebih mementingkan gawainya.

Program GLS di sekolah penulis dilaksanakan dengan cara membaca buku selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Diharapkan selama satu minggu tiap anak sudah bisa membaca satu buku. Setelah siswa selesai membaca sebuah buku,mereka diminta menulis rangkuman kemudian diserahkan kepada guru pembimbing.  Selanjutnya siswa bisa bertukar buku dengan teman yang lain. Sebagai informasi saja bahwa sekolah penulis adalah sekolah yang termasuk sekolah pinggiran.

Namun metode ini masih belum sempurna karena bisa saja ketika siswa diminta untuk membaca buku selama 15 menit setiap pagi, ternyata mereka banyak yang tidak serius melaksanakannya. Ketika mereka diminta untuk mengumpulkan rangkuman, mereka hanyalah meniru rangkuman temannya yang telah selesai terlebih dahulu membaca buku yang sama. Dengan demikian kebanyakan para siswa itu hanya melakukan ‘tipuan’ ketika melaksanakan GLS ini. Padahal, Bapak dan Ibu Guru di sekolah itu juga sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menuntut siswanya agar suka membaca buku.

Fakta tersebut sebenarnya menjadi permasalahan yang tidak boleh diremehkan. Keberhasilan dari GLS bukan hanya dilihat berdasarkan rangkuman yang dikumpulkan siswa kepada guru, tetapi haruslah dilihat juga prosesnya. Hasil rangkuman yang baik yang dikumpulkan kepada guru belum tentu sejalan dengan kegiatan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai karena bisa saja itu dari hasil plagiarisme.

Selain dari pihak sekolah, dari pihak siswa haruslah secara sadar mau untuk secara sungguh-sungguh melaksanakan GLS. Kita sebagai siswa harus sadar kalau manfaat GLS ini bukanlah semata-mata untuk sekolah, namun lebih banyak bermanfaat untuk siswa. Keuntungannya juga untuk siswa, untuk kita juga.

Selain dari pihak sekolah dan siswa, penulis juga berharap orang tua siswa juga ikut mengawasi anak-anaknya ketika di rumah. Penulis berharap, orang tua bisa memotivasi anaknya untuk rajin membaca. Kalau hanya mengandalkan membaca di sekolah, penulis yakin tidak maksimal karena minat baca siswa yang rendah.

Dengan adanya kerjasama yang baik antara pihak sekolah, siswa, serta orang tua, bahkan masyarakat, diharapkan program GLS ini bisa terlaksana dengan baik. (tj3/2/bas)

Guru SMP Negeri 3 Weru, Sukoharjo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Mei, Operasional Tersentral

WONOSOBO - Unit PMI Wonosobo selama ini belum sepenuhnya pindah ke kantor baru di Andongsili. Hal itu lantaran beberapa sebab. Yakni gedung baru di...

Gunakan Barcode untuk Presensi Kuliah

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Univesitas Khatolik (Unika) Soegijapranata meluncurkan program presensi kuliah dengan menggunakan QR Code atau juga dikenal dengan istilah barcode tiga dimensi untuk...

Curi Motor di Semarang, Dijual ke Karimunjawa

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG- Sebanyak tujuh anggota sindikat pencurian sepeda motor (curanmor) lintas daerah diringkus aparat Polrestabes Semarang. Barang bukti yang diamankan sebanyak 40 unit sepeda...

Siswa Smuki Berkesempatan Belajar ke Jerman

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA - Empat pelajar dari SMA Kristen 1 Salatiga (Smuki)  berkesempatan mengikuti pengalaman belajar di Hamburg, Jerman selama dua puluh hari. Mereka akan...

Tangis Haru Peringati HUT PGRI

KUDUS – Peringatan HUT ke-72 PGRI dan Hari Guru Nasional (HGN) 2017 diperingati di sekolah-sekolah kemarin (25/11). Mereka menggelar pertunjukan seni tari kolosal, menghias...

Seluruh Jaminan Kesehatan Langsung Dibayar Negara, Keluarga Dilatih Keterampilan

KESULITAN yang dihadapi keluarga penderita thalasemia asal Kabupaten Magelang, akhirnya tertolong usai audiensi dengan anggota DPRD setempat. Mereka yang salama ini membayar jaminan kesehatan...