Beranda Artikel Jangan Bom yang Meledak, Hati Kamu Saja

Jangan Bom yang Meledak, Hati Kamu Saja

Others

Oleh: Baehaqi – Direktur Jawa Pos Radar Semarang

RADARSEMARANG.COM – KABAR itu begitu mengejutkan. Serentetan ledakan bom terjadi di Surabaya. Saya menerimanya pukul 07.41. Saat itu, sedang menuju aula Universitas Muria Kudus (UMK), tempat berlangsungnya Festival Pelajar. Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning juga otewe (baca OTW alias on the way). Beliau bermanufer. Mengkoordinasi anak buahnya. Memastikan situasi aman dan terkendali.

Sempat saya mengira, kabar tersebut hoaks. Kalau begitu harus kita lawan. Kebetulan tema Student Festival yang diselenggarakan Jawa Pos Radar Kudus kali ini Lawan Hoax. Acara itu diselenggarakan Jawa Pos Radar Kudus bekerja sama dengan Polres Kudus dan Universitas Muria Kudus.

Sambil mencari kepastikan, kabar terus membanjir. Ternyata informasi benar. Saya semakin geleng-geleng kepala. Surabaya yang selama ini aman tenteram diguncang aksi terorisme. Rektor Universitas Muria Kudus Dr Suparnyo SH MS yang sudah hadir di tempat acara ikut heran. Demikian juga Kepala Dinas Kominfo Kudus Kholid Seif dan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olah Raga Kudus Joko Susilo.

Kapolres yang hanya sedikit terlambat dari jadwal menyesalkan kejadian tersebut. Di atas mimbar ketika memberi sambutan dia mengutuk aksi yang ingin merusak ketenteraman umat beragama. Serentetan bom meledak di beberapa tempat di sekitar gereja. Ketika umat nasrani sedang melakukan misa. Sementara itu umat Islam sedang menyongsong datangnya bulan suci Ramadan.

Usai membuka acara, Kapolres berkeliling wilayah lagi. Situasi betul-betul aman. Festival Pelajar yang melibatkan sekitar 250 anak dari berbagai sekolah di Kudus dan sekitarnya berjalan sesuai rencana. Dandangan menyambut Ramadan di sekitar Menara Kudus tetap meriah. Demikian halnya Dugderan di Masjid Agung Semarang (Masjid Kauman). Semua tak terpengaruh.

Teror itu sudah pasti bukan hanya ditujukan kepada umat beragama tertentu. Melainkan, diarahkan kepada seluruh bangsa ini. Itu juga bukan aksi umat beragama tertentu. Itu aksi terorisme yang ingin merusak ketenteraman hidup bebangsa dan bernegara. Karena itu, sudah selayaknya kita tidak terpengaruh.

Khususnya bagi umat Islam, peristiwa yang terjadi kemarin adalah ujian. Sekarang umat lagi bersiap menyambut bulan suci Ramadan. Bulan di mana umat Islam diajari untuk mengendalikan diri dari segala hawa nafsu. Bulan di mana umat harus santun. Baik kepada Allah, sesama umat manusia, maupun kepada dirinya sendiri.

Di saat sedang berpuasa itu ada musuh yang jauh lebih besar. Yaitu, diri sendiri. Melawan hawa nafsu. Inilah yang sangat sulit. Kita semua tahu di saat sebagian besar penduduk negeri ini sedang tidak makan sehari selama sebulan, ternyata kebutuhan bahan pokok meningkat pesat. Harga di pasar pun melambung tinggi.

Memang ada dua kebahagian bagi orang yang berpuasa. Yakni, ketika berbuka dan saat berjumpa dengan Allah kelak. Itu bukan berarti berbukanya harus balas dendam. Mestinya berbuka sekadar menjaga kesehatan agar tetap bisa beribadah. Maka selayaknya sepertiga perut itu makanan, sepertiga air, dan sepertiga udara. Jadi, harus tetap irit.

Kadang-kadang saya merasa sangat aneh. Di saat orang berpuasa kebutuhan makanan justru tinggi. Di mana-mana orang berjualan laris manis. Mestinya sebaliknya. Justru turun drastis.

Hari-hari belakangan ini di semua daerah terjadi kemacetan. Kemarin malam saya kesulitan membelah Kota Kudus. Sehari sebelumnya harus merayap di Semarang. Bahkan di kota kecil Demak. Itu terjadi karena semata-mata volume kendaraan yang meningkat. Kondisi ini sudah klasik. Menjelang puasa banyak orang membanjiri pusat-pusat perbelanjaan untuk memenuhi kebutuhan Ramadan nanti.

Bila kita bisa melawan diri sendiri, tentu akan lebih mudah melawan terorisme. Karena, inti hidup berbangsa dan bernegara ini adalah empati. Saling menghargai. ‘’Terorisme itu berkembang karena radikalisme,’’ kata Kapolres Kudus Agusman Gurning. Saya menambahi, radikalisme itu bermula dari fanatisme yang berlebihan.

Mari kita lawan aksi terorisme itu. Namun, dengan cara-cara yang santun. Dengan membuka hati. Dengan kerja sama antarumat beragama. Jangan bom yang meledak. Hati kamu saja. (hq@jawapos.co.id)

Stay Connected

12,290FansSuka
35PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest News

Semut Raksasa

Related News

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here