Hersetyo Pramono
Hersetyo Pramono

RADARSEMARANG.COM – HERSETYO Pramono, sejak kecil menyukai mata pelajaran Fisika. Makanya begitu lulus dari SMAN 5 Surabaya langsung masuk Politeknik Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya. “Awal masuk Telkomsel tahun 1996, bertugas di wilayah Jatim. Langsung masuk divisi network,” tutur penghobi memelihara beragam burung dan tanaman bonsai ini.

Sempat di Jakarta, imbuhnya, terus mendapatkan tugas ke berbagai daerah di luar Jawa. Praktis akhir 2017 atau baru awal 2018 ini, kali pertama ditunjuk mengawal Telekomunikasi di Jateng-DIJ,” tutur bapak 3 anak yang humoris ini.

Pramono-panggilan akrab Hersetyo Pramono- cukup lama berkecimpung di bagian planning and project Telkomsel, mengurusi tentang perencanaan dan pendirian Base Transceiver Station (BTS) baru. Yakni, sebuah infrastruktur telekomunikasi yang memfasilitasi komunikasi nirkabel antara piranti komunikasi dan jaringan operator.

“Di bidang project and planning, harus mengetahui kebutuhan besar traffic dan data seberapa besar. Kemudian diturunkan menjadi kebutuhan tower BTS 2G, 3G maupun 4G hingga berapa, lalu dilakukan mapping. Dengan begitu, kebutuhan traffic voice juga bisa diprofil tiap kabupaten/kota,” tutur suami Septiana Willyanti yang tertarik menjadi dosen ini.

Namun dengan adanya Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika RI Nomor : 02/Per/M.Kominfo/3/2008 tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Menara Bersama Telekomunikasi, pendirian BTS harus dikerjasamakan dengan pihak ketiga, yakni tower provider atau penyedia jasa layanan tower.

“Pemenuhan tentang izin gangguan (HO) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB), sejak tahun 2008 sudah menjadi tanggung jawab Tower Provider. Sedangkan Telkomsel selaku operator selular benar-benar lebih fokus ke customer,” jelasnya.

Kendati begitu, pihak Telkomsel tetap melakukan pemantauan 7 x 24 jam dengan 3 shift, sekaligus optimalisasi network. Apalagi Telkomsel sudah memproklamirkan program broadband city (BBC) di beberapa kota besar, karena itu harus menjaminkan kualitas kepada customer. “Infrastruktur Telkomsel, sebenarnya sudah berkualitas 5G. Karena FO yang disediakan Telkom memang 5G dengan kecepatan lebih dari 200-350 mbps. Sedangkan teklnologi 4G, untuk upload kecepatannya hanya 50 mbps dan download 100 mbps. Namun bagi Telkomsel, terpenting tak ada buffering, tapi high definition,” tandasnya.

Diakuinya, konsep hidup masyarakat mengalami pergeseran. Dulu yang diutamakan adalah, sandang, pangan dan papan. Tapi sekarang, yang dibutuhkan adalah sandang, pangan dan pulsa. “Trennya sekarang adalah hidup narsis dan selalu eksis di media sosial. Rata-rata pelanggan, juga memiliki lebih dari 1 simcard. Karena itulah, Telkomsel hadir dengan internet BAIK dengan kualitas layananan yang sangat prima,” tandasnya. (idanorlayla)