Sudah Amankah Makanan Jajanan Anak Sekolah?

spot_img

RADARSEMARANG.COM – MAKANAN jajanan (street food), menurut FAO, didefisinisikan sebagai makanan dan minuman yang dipersiapkan dan/atau dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat-tempat keramaian umum yang langsung dimakan atau dikonsumsi, tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut.

Makanan jajanan (street food) sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Konsumsi makanan jajanan di masyarakat terus meningkat karena terbatasnya waktu untuk mengolah makanan sendiri.

Keunggulan makanan jajanan adalah: murah dan mudah didapat, cita rasanya yang enak dan cocok dengan selera kebanyakan masyarakat. Makanan jajanan kaki lima ternyata menyumbang asupan energi bagi anak sekolah sebayak 36%, protein 29% dan zat besi 52%. Perlu diketahui, makanan jajanan mempunyai peran penting pada pertumbuhan dan prestasi belajar anak sekolah.

Kerap ada pertanyaan, sudah amankah makanan jajanan anak sekolah? Cemaran kimiawi pada makanan jajanan kaki lima, biasanya terindikasi pada penggunaan bahan tambahan pangan ilegal/tidak diizinkan. Semisal, borax (pengempal yang mengandung logam berat boron). Juga formalin (pengawet untuk mayat), rhodamin B (pewarna merah tekstil), dan methanil yellow (pewarna kuning tekstil). Lainnya, pemanis sintetis yang penggunaannya melebihi dosis, merupakan racun bagi tubuh. Bahan-bahan ini dapat terakumulasi pada tubuh manusia dan bersifat karsinogenik. Artinya, dalam jangka panjang, menyebabkan kanker dan tumor pada organ tubuh manusia.

Baca juga:   Tingkatkan Kedisiplinan Siswa melalui Sanksi pada Jam Pertama

Food borne diseas (penyakit bawaan makanan jajanan kaki lima), merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di banyak negara. Terjadinya dapat berupa kontaminasi, baik dari bahan baku, penjamah makanan yang tidak sehat, atau peralatan yang kurang bersih. Juga waktu dan temperatur penyimpanan yang tidak tepat.

Gizi buruk dan gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak adalah dua konsekuensi serius yang dapat ditimbulkan oleh berulangnya episode food diseases. Diare merupakan gejala umum dari penyakit bawaan makanan yang mudah dikenali.

Tips untuk menghindari jajan, antara lain, dengan mengurangi frekuensi jajan anak dalam sehari atau seminggu. Tujuannya, agar tidak ketagihan jajan. Juga jangan memberi jajanan sebagai hadiah atau ungkapan saying. Berikutnya, terapkan kebiasaan sarapan pagi sebelum berangkat sekolah. Setelah itu, biasakan membawa bekal makanan dari rumah dengan menu yang bervariasi. Upaya lain, dampingi anak saat menonton iklan jajanan di televisi sembari memberi pengertian sisi baik dan buruknya. Terakhir, bimbing anak untuk memilih makanan dengan baik dan bijak.

Sebagai pendidik/guru tindakan apa yang bisa dilakukan? Guru berperan dalam mengawasi kantin sekolah melalui kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Yaitu, mengawasi jajanan apa yang dijual, kebersihan kantin, serta memberikan pelatihan bagi petugas kantin. Guru juga berperan dalam memberikan pengertian dan pengetahuan kepada anak–anak mengenai dampak negatif yang timbul jika jajan di sembarang tempat.

Baca juga:   Perubahan Sosial Pembelajaran Berbasis Website

Apa yang bisa dilakukan penjual? Penjual hanya boleh menggunakan bahan tambahan makanan yang diizinkan dan tidak melebihi batas maksimum yang dipersyaratkan. Serta tidak boleh menggunakan pewarna ataupun bahan berbahaya yang dilarang penggunaannya pada pangan.

Penjual wajib memperhatikan kebersihan fasilitas dan tempat penjualan untuk mencegah kontaminasi silang terhadap produk. Serta, mempraktikkan cara pengolahan pangan yang baik. Utamanya, memperhatikan persyaratan higienitas dan sanitasi.

Makanan jajanan (street food) memegang peranan penting dalam memberikan asupan energi dan gizi bagi anak–anak usia sekolah. Jajanan yang tersedia di sekolah, herus memenuhi syarat halal, sehat, aman, dan bersih. Anak-anak adalah aset bangsa. Jangan biarkan mereka tumbuh tidak sehat, hanya karena jajanan sekolah yang berbahaya bagi kesehatan. Untuk itu, diperlukan kerja sama semua pihak. Antara lain sekolah, produsen, dan orang tua dalam mengontrol kualitas makanan jajanan anak sekolah. (*/isk)

Guru Pengolahan Pangan

SMK Negeri 1 Salam, Magelang

Author

Populer

Lainnya