32 C
Semarang
Kamis, 24 Juni 2021

Galakkan Penggunaan Sandang Pangan Lokal

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Tingginya angka impor belakangan ini, menyebabkan nilai rupiah melemah. Praktis, daya beli masyarakat menurun. Karena itu, Pemprov Jateng mendorong gerakan pemenuhan kebutuhan pangan dan sandang produksi lokal. Selain membimbing produsen, pemerintah juga meminta masyarakat mulai mengesampingkan produksi luar negeri.

“Sebenarnya ada banyak produk luar negeri yang masuk pasar Indonesia, padahal kita mampu memroduksi sendiri. Contoh gandum, meski dibutuhkan, jika tidak mengimpor gandum masyarakat Indonesia tidak akan mati,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko, Kamis (10/5).

Mantan Bupati Purbalingga ini menegaskan apabila masyarakat memiliki komitmen hanya membeli atau mengonsumsi produk lokal atau bukan impor, maka ekonomi kerakyatan akan tumbuh. Terutama dari sektor produk makanan dan minuman.

Pihaknya akan mendorong sektor perdagangan dan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di tingkat lokal terus hidup. Sehingga roda perekonomian terus berputar dan kesejahteraan masyarakat meningkat. Apalagi selama ini UMKM dianggap tulang punggung ekonomi masyarakat, terutama kalangan bawah. “Tidak sedikit warga menggantungkan hidupnya dari sektor UMKM,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Komisi B DPRD Jateng Chamim M Irfani mengatakan jika mengharapkan masyarakat menggunakan produk lokal, pemerintah perlu melakukan pendampingan agar hasil produksi lokal bisa dinimati masyarakat. Dengan begitu, angka impor akan turun dengan sendirinya. “Per Maret kemarin, ekspornya USD 571,54 ribu. Sementara impornya USD 1.058 juta. Itu dua kali lipat. Asumsinya, banyak barang yang masuk daripada keluar. Nilai rupiah jadi melemah dan memengaruhi daya beli masyarakat. Ini menjadi tanggung jawab TPID,” terangnya.

Dia mencontohkan bawang putih. Meski pemerintah sudah menggenjot produktivitas, sampai hari ini bawang putih tetap impor. Memang bukan masalah besar jika pemerintah bisa mengontrol harga barang impor agar tetap terjangkau masyarakat. Jika semua kebutuhan terjangkau, tidak akan terjadi kepanikan di pasar. “Jadi tidak perlu operasi pasar. Lagi pula puasa dan Lebaran¬†ini kan siklus tahunan. Pemerintah harusnya bisa mengantisipasi jauh-jauh hari. Kecuali kalau bencana yang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya,” tegasnya. (amh/ida)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here