33 C
Semarang
Selasa, 14 Juli 2020

Progres Lambat, Warga Merasa Di-PHP

Apa Kabar Jalan Tembus Srondol-Sekaran?

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM – Jalan tembus Srondol Kulon, Banyumanik-Sekaran Gunungpati sudah lama terdengar. Warga pun sangat berharap jalan yang bisa mempersingkat jarak tempuh berlipat-lipat itu segera dibangun. Namun sampai sekarang, nasib jalan tembus tersebut tak jelas. Warga pun merasa diberikan harapan palsu alias PHP.

JALAN tembus Srondol -Sekaran itu sesuai rencana akan menghubungkan Jalan Potrosari III, sebelah Swalayan ADA Setiabudi, tembus hingga kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES) Sekaran. Jika jalan tersebut dibangun, maka warga Banyumanik jika hendak menuju kampus UNNES tak sampai 10 menit.

Namun sampai saat ini, progres pembangunan jalan tersebut tidak ada kejelasan. Padahal selama ini warga sudah beberapa kali diajak pertemuan dengan sejumlah stakeholder. Sosialisasi sudah dilakukan di Kantor Kelurahan Srondol Kulon yang dihadiri warga yang bakal terdampak jalan tembus tersebut, yakni warga RW 1, 2 dan 7 sekitar Oktober 2017 silam.

Selain itu, pengukuran jalan pun sudah dilakukan sekitar Januari 2018 lalu. Hasil pengukurannya dapat dilihat di tembok warga terdampak berupa coretan pilox warna merah. Namun  setelah itu, tidak ada kabar kelanjutan pembangunan jalan ini. ”Tidak ada kabar lagi. Ini awalnya jalan akan dibangun 30 meter, tapi kemudian ada kesepakatan jadinya 14 meter,” ujar Ketua RW 02 Srondol Kulon, Tjoek Surosohadi, yang kebetulan dituakan warga dalam rencana pembangunan jalan tembus tersebut.

Dikatakan, warga meminta adanya kejelasan. Setidaknya, ada timeline yang bisa menjadi patokan. Sebab, beberapa kali rencana pembayaran ganti rugi lahan terdampak juga meleset dari waktu yang telah dikabarkan.  ”Awalnya ada kabar Oktober 2017 sudah ada uang ganti rugi. Kemudian diundur jadi Maret 2018. Kemudian nggak jadi lagi, sampai sekarang tidak ada kabar,” katanya. ”Kemarin saya tanya kelanjutannya, dijawab masih dalam progres. Kemudian bulan ini akan ada rapat penentuan harga,” tambahnya.

Akibat tidak ada kejelasan, warga menjadi kesulitan ketika hendak merenovasi atau membangun rumah mereka. Sebab, pemkot sudah tak mengeluarkan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di kawasan terdampak. ”Karena sudah dipatok. Mau bangun sudah waswas. Jangan-jangan ketika sudah dibangun, bangunannya nggak dihitung kan repot,” bebernya. ”Seperti rumah saya ini kan panas, mau saya kasih kanopi, tapi kalau jalannya sudah dibangun kan harus bongkar lagi. Kami butuh kejelasan,” sambungnya.

Tjoek yang juga pengamat tata ruang Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang menilai, rencana pembangunan jalan ini cukup bagus didasarkan pada prinsip menghubungkan antarwilayah. Hanya saja, proses pengerjaannya, menurutnya, harus dilakukan secara baik pula.   ”Karena pemerintah memiliki tugas penting dalam memfasilitasi rakyat. Kalau tanpa ada kejelasan dan stagnan, warga akan apatis. Sebab, banyak sekali dampak yang ditimbulkan,” katanya.

Mengenai pemilihan lokasi Jalan Potrosari III, menurutnya, pemerintah sudah melakukan kajian panjang secara profesional. Ia menilai, Jalan Potrosari III dipilih karena titik ini memiliki tingkat kesulitan sedikit, dan akses yang dinilai lebih baik ketika dibangun jalan Srondol-Sekaran. Sehingga ia berharap pemerintah juga profesional dalam kelanjutannya. ”Dari segi schedule harus dipastikan lagi. Harus bisa konsisten,” tandasnya.

Ida Kurniasih, warga Srondol Kulon menceritakan, kali pertama mendengar kabar pembangunan jalan itu, sebagian besar warga merasa senang. Sebab, akan ada penghasilan tambahan, buntut keramaian ketika jalan yang sebelumnya jalan kampung itu berubah menjadi jalan raya. Namun semakin ke sini, warga justru mulai kesal dan meminta agar tidak usah dibangun sekalian jika tidak ada kejelasan.  ”Warga sudah mulai apatis. Kami penginnya kalau jadi ya segera dilakukan, kalau tidak ya tidak sekalian,” katanya kesal.

Sebenarnya, lanjut dia, warga sangat mendukung program pemerintah ini. Warga juga sudah mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk mempersiapkan untuk hidup dalam kondisi baru ketika jalan sudah terbangun. Misalnya, menyesuaikan dengan lalu lalang kendaraan ketika Jalan Potrosari III menjadi jalan raya penghubung Srondol-Sekaran.   ”Tentu akan ada perubahan. Mengenai keramaian  dan perubahan-perubahan yang akan terjadi. Tapi ya ini, seperti tidak ada tindak lanjut,” keluhnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Iswar Aminudin, mengatakan, rencana pembangunan jalan tembus Srondol –Sekaran secara umum hingga saat ini baru tahap pembebasan lahan. Selain itu, sedang dilakukan pengukuran dan appraisal oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Semarang.  “Baru tahap pembebasan lahan. Appraisal sedang jalan di sebelah timur Sungai Kaligarang. Nantinya membelah Sungai Kaligarang, termasuk pembuatan jembatan menjadi akses menuju wilayah Sekaran,” jelas Iswar Aminudin kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (6/5).

Dikatakan, pengerjaan teknis pembangunan jalan tembus ini diperkirakan masih lama. Kendala utama yang dihadapi adalah terbatasnya anggaran APBD Kota Semarang yang harus dialokasikan untuk berbagai program pembangunan.  “Saya belum bisa menyebut anggaran yang dibutuhkan berapa? Tetapi yang jelas anggaran pembangunan jalan tembus Srondol-Sekaran ini cukup besar. Sehingga kami perkirakan masih lama, mungkin 2020 baru bisa dimulai pekerjaan fisiknya,” katanya.

Ditambahkan, konsentrasi tahun ini baru tahap pembebasan lahan di wilayah timur sungai. Sedangkan pembebasan lahan di wilayah barat sungai direncanakan pada 2019. “Keterbatasan anggaran yang membuat kami masih kesulitan untuk merealisasikan pembangunan (jalan tembus) ini,” ujarnya.

Mengenai sejumlah dokumen mulai studi kelayakan atau Feasibility Study (FS), Detail Engineering Design (DED), Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), serta dokumen Land Acquisition and Resettelment Action Plan (Larap), menurut Iswar, semua telah diselesaikan.  “Secara desain, jalan tembus ini juga terkoneksi dengan pembangunan Simpang Susun di depan Swalayan ADA Banyumanik. Selain itu, juga terintegrasi dengan wilayah Tembalang. Tetapi, prosesnya memang satu per satu, mulai tahap pembebasan lahan dulu. Nanti disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah,” katanya.

Menurutnya, secara kebutuhan, perlu akses jalan tembus untuk menghubungkan wilayah Tembalang, Banyumanik dan Gunungpati. “Akses jalan di wilayah tersebut sejauh ini masih sangat minim. Apalagi terdapat sejumlah kampus. Baik Undip dan UNNES,” ujarnya.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono, mendukung agar segera dilakukan percepatan pembangunan jalan tembus Srondol-Sekaran. “Ini mengingat sudah lama perencanaan pembangunan ini dibuat. Namun belum segera direalisasikan. Dengan adanya pembangunan jalan pintas ini diharapkan pemerataan pembangunan wilayah kota sampai pinggiran dan perbatasan kota terpenuhi,” katanya.

Dia juga berharap pembebasan lahan sudah dapat dimulai 2018, karena sejauh ini sudah dianggarkan di APBD 2018. “DED-nya juga sudah lama dikerjakan. Secara kebutuhan, akses jalan tembus ini mendesak diperlukan mengingat padatnya arus lalu lintas di Kota Semarang. Selain itu bisa mempercepat perkembangan lingkungan sekitar dan pertumbuhan ekonomi,”ujarnya. (sga/amu/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

TKI Korban Kekerasan Ditanggung BPJS Ketenagakerjaan

UNGARAN – Mulai Agustus 2017 segala bentuk penanganan akibat kecelakaan kerja yang dialami oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri akan ditanggung oleh...

Jalur Alternatif Mudik Disiapkan

KAJEN - Lantaran masih banyaknya jalan rusak, akibat adanya proyek pembangunan jalan tol Pemalang-Batang, Kapolres Pekalongan, AKBP Wawan Kurniawan, Jumat (14/4) bersama Dinas Perhubungan...

Relokasi Pedagang Yaik Baru Tak Jelas

”Sampai saat ini masih menunggu kepastian mengenai prosesi, mekanisme, termasuk perencanaan pembangunan Pasar Johar.” Danur Rispriyanto SEMARANG - Rencana relokasi pedagang Pasar Yaik Baru masih belum...

9 Kelurahan di Kendal Terendam Banjir

RADARSEMARANG.COM - SEMENTARA itu, tingginya curah hujan sehari semalam pada Kamis (15/5), menyebabkan banjir di wilayah Kendal. Kali Kendal dan Sungai Kali Waridin meluap....

Terpaksa Bolos Sekolah, sempat Dikunjungi Cagub Ganjar

RADARSEMARANG.COM - Kisah Al Rayyan Dziki Nugraha, warga Blondo, Mungkid, Kabupaten Magelang yang dengan setia menunggui ibunya,  Ani Supriyati, 40,  yang tergolek di RSUD...

Jalan Penghubung Kondisinya Rusak

PURWOREJO—Beberapa ruas jalan di Kabupaten Purworejo kondisinya memprihatinkan. Jalan mengalami kerusakan parah. Malah, tidak jarang menimbulkan korban jiwa akibat terjadinya kecelakaan. Ketua Fraksi PDIP Kabupaten...