Oleh: Sri Mutarsih SPd MPd
Oleh: Sri Mutarsih SPd MPd

RADARSEMARANG.COM – DALAM pembelajaran inkuiri siswa dilatih untuk mengembangkan keterampilan ilmiah, misalnya mengamati, mengumpulkan data, mengajukan pertanyaan, menyusun hipotesis, merancang eksperimen, maupun menarik kesimpulan. Dengan demikian, pembelajaran inkuiri tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan eksperimen. Bidang sains khususnya IPA (fisika, kimia dan biologi) sangat cocok untuk diajarkan dengan cara melalui pembelajaran inkuiri.

Peran penting suatu laboratorium sebagai sarana belajar mengeksplorasi pengetahuan yang didapatkan melalui kegiatan eksperimen. Laboratorium merupakan sumber belajar yang efektif untuk mencapai kompetensi yang diharapkan bagi siswa. Bahkan sebenarnya laboratorium memiliki multifungsi untuk tercapainya kompetensi ilmiah bagi siswa. Laboratorium sangat diperlukan untuk mendukung keefektifan pelaksanaan proses pembelajaran dalam hal ini  sebagai sarana belajar, sebagai media, serta sekaligus sebagai sumber belajar. Selain itu, laboratorium juga dapat didayagunakan secara lebih luas untuk melakukan eksplorasi pengetahuan dan keterampilan siswa melalui kegiatan penelitian.

Agar kesinambungan dan daya guna laboratorium dapat dipertahankan, laboratorium perlu dikelola secara baik. Dalam kenyataannya, berdasarkan hasil pemantauan Direktorat Pendidikan Menengah Umum dan Inspektorat Jenderal diperoleh informasi bahwa masih banyak laboratorium sekolah yang belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Bahkan pengelolaan dan pemanfaatannya sebagai sumber belajar belum optimal atau ada yang belum digunakan sama sekali, serta masih banyak sekolah yang memiliki keterbatasan fasisilitas laboratorium. Sehingga hal ini menjadi kendala dalam pelaksanaan praktikum di sekolah (Anonim, 2003).

Kurangnya perhatian pengelolaan laboratorium, baik pemenuhan alat dan bahan praktik menyebabkan minimnya pengetahuan siswa tentang pelajaran yang diterima dalam kelas. Siswa hanya sebatas mengetahui teori, tanpa mengerti praktik secara ilmiah.

Pada dasarnya pengelolaan laboratorium merupakan tanggungjawab bersama, baik pengelola maupun pengguna. Oleh karena itu, setiap orang yang terlibat harus memiliki kesadaran dan merasa terpanggil untuk mengatur, memelihara, dan mengusahakan keselamatan kerja. Mengatur dan memelihara laboratorium merupakan upaya agar laboratorium selalu tetap berfungsi sebagaimana mestinya sehingga diperlukan usaha dari pihak terkait untuk memberdayakan dan mengaktifkan kembali fungsi laboratorium secara optimal di sekolah-sekolah demi meningkatkan mutu pendidikan.

Untuk  pengembangan pengelolaan laboratorium  memerlukan strategi yang tepat yang tertuang dalam rencana strategis (renstra). Langkah-langkah pengembangan pengelolaan laboratorium  di sekolah sebagai berikut. Pertama, potensi dan masalah. Pada bagian ini mengidentifikasi mengenai potensi atau kekuatan sekolah dan kelemahan atau masalah yang dihadapi oleh sekolah.

Kedua, mengumpulkan informasi.  Setelah potensi dan masalah yang dimiliki sekolah diketahui, selanjutnya dilakukan pengumpulan berbagai informasi yang dapat digunakan sebagai bahan untuk perencanaan produk dalam bentuk draf rencana strategis yang diharapkan dapat digunakan untuk mengembangkan pengelolaan laboratorium di sekolah.

Dalam pengumpulan informasi dilakukan analisis SWOT untuk mengidentifîkasi faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan acaman untuk strategi pengembangan pengelolaan laboratorium yang berdasarkan pada hasil FGD.

Ketiga, desain produk. Desain produk dikembangkan dari hasil analisis SWOT yang dilakukan dengan menganalisis faktor internal dan faktor eksternal sekolah guna merumuskan dan menyusun strategi-strategi agresif yang digunakan untuk mengembangkan pengelolaan laboratorium di sekolah.

Keempat, validasi desain produk dan perbaikan desain produk. Produk berupa rencana strategis yang telah disusun kemudian divalidasi oleh pakar. Dari hasil validasi digunakan perbaikan desain produk, kemudian desain produk yang sudah diperbaiki dikoordinasikan dengan kepala sekolah untuk dilakukan pembahasan mendalam bersama seluruh warga sekolah.

Jika semua sepakat, maka renstra akan diujicobakan, sehingga dapat diketahui tingkat keberhasilan dan keefektifan dari strategi yang sudah dibuat. Umpan balik dari lapangan selanjutnya akan digunakan sebagai kajian lebih lanjut, sehingga produk benar-benar dapat dilaksanakan dan mampu memberikan solusi permasalahan di lapangan. (tj3/2/aro)

Guru Biologi SMA Negeri 1 Boja Kendal