MISTERIUS : Sendang di Taman Lele kerap digunakan warga untuk kegiatan ritual. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
MISTERIUS : Sendang di Taman Lele kerap digunakan warga untuk kegiatan ritual. (ADENNYAR WYCAKSONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.COM – SENDANG Gede yang terletak di wilayah RW VIII, Desa Pucung, Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik memiliki tradisi unik yang terpelihara hingga sekarang. Warga setiap bulan Syaban pada Jumat Pahing rutin menguras Sendang Gede.

Sebelum menguras beberapa tokoh masyarakat seperti Lurah Pudakpayung dan Camat Banyumanik mandi bareng ke dalam sendang. Dilanjutkan oleh warga sekitar sambil mencari ikan lele. “Sebelum warga menguras sendang, dilakukan penyembelihan ayam jago yang dibawa oleh warga dari masing-masing RT yang dikumpulkan. Setelah itu dilakukan penyembelihan dan ayamnya dimasak dengan cara dibakar. Kemudian dibagikan kepada warga setempat,” tambahnya.

Warga juga mempersiapkan nasi beserta lauk pauknya di atas daun pisang. Lalu dicampur dengan ayam bakar untuk dimakan bareng atau dibawa pulang ke rumah. “Ini namanya nyadran,” tandasnya.

Ngasrin mengaku debit air Sendang Gede ini, meski kemarau airnya tetap banyak. Namun kalau dibagikan kepada warga, akan berkurang. Warga hanya diperbolehkan mandi, mencuci dan mengambil air sendang untuk dibawa ke rumah. “Kalau dulu warga memanfaatkan air sendang untuk keperluan MCK. Sekarang hanya bisa untuk mandi dan mencuci di sendang,” paparnya.

Sedangkan Bendahara KSM Tirto Mukti, Pucung Pudakpayung, Wartono mengaku di wilayah RW VIII itu terdapat sumber air bernama Kalipancur. Tepatnya di sebelah barat Sendang Gede. Sumber air tersebut dimanfaatkan warga dengan mengalirkan air ke 200 KK. “Warga memanfaatkan air tersebut untuk keperluan sehari-hari. Biasanya air mengalir ke warga dibatasi hanya dua jam pagi dan sore,” katanya.

Wartono mengaku sumber air Kalipancur saat musim kemarau debit airnya berkurang. Penggunaannya dibatasi. “Kalau biasanya dua jam sekali, air digilir mengalir. Pada musuim kemarau, biasanya sehari hanya dua jam karena tidak cukup,” imbuhnya. Sedangkan untuk pembayaran penggunaan air oleh warga berbeda-beda berkisar antara Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu tergantung penggunaannya.

Selain Sendang Gede di Kecamatan Banyumanik juga terdapat Sendang Nganten di RT 3 RW 6 Kelurahan Tinjomoyo. Sendang tersebut selain digunakan untuk pengobatan, airnya diyakini memiliki berkah. Konon, yang memanfaatkan air tersebut bisa langgeng dalam menjalani kehidupan bersama orang yang dicintainya.

Pengelola Sendang Nganten, Mulyono mengaku yang mengambil air sendang ini justru orang dari luar kota seperti dari Jogyakarta dan Solo. “Sendang ini sangat tua dibandingkan sendang lainnya di tanah Jawa,” paparnya.

Sendang yang airnya mengalir dari sumber utama berupa bangunan tembok tanpa atap berukuran 3×4 meter tersebut, kemudisn dialirkan ke bawah yang terdapat dua tempat yang berukuran 3×6 meter. “Jadi tembok ini digunakan oleh laki-laki dan perempuan yang berfungsi untuk mandi serta keperluan lainnya,” katanya.

Disebut Sendang Nganten, katanya, dulu di tempat ini ada sepasang pengantin yang belum sepasar mandi, tiba-tiba hilang. Keluarganya pun sempat mencari, termasuk warga, tetapi tidak ditemukan. Akhirnya ranjang pengantin yang ada di rumah dibuang kesini dan berubah menjadi batu. Maka warga menyebutnya Batu Kasur. “Batu Kasur yang tertutup semak belukar itu dulu merupakan kasur yang dibuang oleh keluarganya,” paparnya.

Untuk debit air di Sendang Nganten, cukup besar. Bahkan, saat kemarau airnya tidak pernah surut. Air tersebut digunakan oleh warga, ketika air PDAM mati.

“Upaya melestarikan sekaligus menjaga Sendang Nganten, warga mendirikan kolam pemancingan yang diberi nama Pemancingan Sendang Nganten. Ada ikan gurami, kalper, bawal, lele dan nila yang bisa dipancing,” paparnya.

Penuh Misteri Namun Masih Lestari

Demikian juga dengan objek wisata Taman Lele di Kelurahan Tambak Aji, Kecamatan Ngaliyan, juga memiliki sendang yang dahulu sempat digunakan warga untuk kegiatan ritual. Bahkan, kental dengan mitos atau legenda hidupnya ikan lele berkepala tanpa daging. Mitos ikan lele misterius itu menjadi cerita yang dipercaya masyarakat sekitar secara turun temurun. “Kalau adanya sejak kapan, saya nggak tahu. Tapi dari zaman dulu sudah ada dan tetap lestari hingga sekarang,” ujar Sukarno warga sekitar.

Di sekitar sendang atau kolam keramat itu ditumbuhi dua pohon besar di sisi kanan dan kirinya. Di dalamnya banyak ikan air tawar seperti lele dan nila. Sampai saat ini, mata airnya digunakan untuk keperluan objek wisata. “Kalau warga sudah tidak ada yang ngambil,” ucapnya.

Sebenarnya Taman Lele memiliki potensi besar menjadi wisata air yang menjanjikan di Kota Semarang. Kawasan ini juga memiliki banyak pepohonan yang membuat pengunjung betah tinggal berlama-lama.

Sementara itu, Koran ini juga melakukan penelusuran ke Sendang Talang di Kecamatan Gajahmungkur atau tak jauh dari Jembatan Besi Sampangan. Sayangnya jejak Sendang Talang sudah tidak ada, hanya tinggal sebuah bangunan tua berbentuk pendopo yang konon dulu digunakan sebagai padepokan silat. (hid/den/ida)