Undha Usuking Basa dalam Bahasa Jawa

  • Bagikan
Oleh: Pudji Slamet SPd
Oleh: Pudji Slamet SPd

RADARSEMARANG.COM – BAHASA Jawa memiliki peranan penting dalam pengembangan budi pekerti budaya Jawa, intelektual, sosial dan emosional anak, serta untuk mendukung Bahasa Indonesia. Percakapan dalam Bahasa Jawa diharapkan bisa membantu anak ketika menguasai Bahasa Jawa menggunakan kata-kata krama dan budaya. Selain itu juga untuk menyampaikan gagasan menggunakan analisis dan imaginatif dalam suatu percakapan.

Bahasa Jawa sekarang menjadi percakapan wajib di setiap jenjang pendidikan. Hal ini merupakan salah satu kebijakan pemerintah untuk melestarikan budaya daerah supaya tidak hilang dimakan oleh arus zaman yang ada. Digunakannya percakapan Bahasa Jawa dalam pelajaran muatan lokal, karena kepedulian dan kekawatiran pemerintah yang mulai ada pertanda lunturnya penggunaan Bahasa Jawa di kalangan masyarakat.

Untuk melestarikan penggunaan bahasa, siswa harus mengerti hal unggah-ungguh basa. Kesalahan bahasa karena anak kurang paham unggah-ungguh basa. Wujud kesalahan bahasa dimulai ketika Bahasa Indonesia dijadikan sebagai bahasa ibu. Dalam kenyataan menyebutkan bahwa Bahasa Jawa sekarang ini sebagai bahasa kedua, karena tidak banyak keluarga yang menggunakan Bahasa Jawa. Sebaliknya banyak keluarga yang menggunakan dan mengajarkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu. Keadaan yang demikian ini yang melatarbelakangi kesalahan bahasa.

Banyak orang di zaman sekarang kurang menguasai undha usuking basa. Rasa menghormati orang lain sudah menjadi kodrat manusia. Menjelaskan undha usuking basa itu merupakan salah satu sistem yang menerapkan unsur-unsur yang memiliki ciri khas dengan penutur, relasi penutur dengan mitra tutur dan dengan keadaan yang ada.

Yang menjadikan kesalahan ketika orang bicara, biasanya orang menggunakan bahasa yang tidak cocok dengan bahasa yang sedang digunakan. Maka kesalahan  bahasa ini perlu segera dianalisis supaya tidak nggladrah kemana-mana yang menimbulkan kerancuan dalam berbahasa.

Dalam dialog kebahasaan ini sering terjadi salah kaprah. Sering dirinya sendiri dikramakake atau kadang juga orang yang diajak berbicara merasa dianggap rendah. Oleh karena itu, ragam dialek dalam Bahasa Jawa harus mengenal undha usuking basa, yaitu di mana kita bicara, dengan siapa kita bicara, dan dalam hal apa kita bicara. Dalam hal ini ada kriteria yang ada. Misalnya antara anak dengan anak menggunakan basa ngoko. Antara anak dengan orang yang lebih tua atau orang yang lebih dihormati, menggunakan basa krama, ataupun juga antara orang tertentu yang sudah dikenal ataupun yang belum dikenal menggunakan basa krama. Ini akan menunjukkan kepribadian seseorang tentang dirinya sendiri untuk menghormati orang lain.

Pengajaran dan pembenahan bahasa ini harus dimulai sejak dini, mulai diajarkan dan di-gladhi sejak dalam kehidupan keluarga. Yang menjadi persoalan adalah orangtua sendiri yang kadang tidak bisa memberi contoh yang baik dalam berbahasa Jawa. Ada banyak orang tua yang tidak bisa menggunakan undha usuking basa, sehingga akibatnya menurun pada anak yang menimulkan kerancuan dalam berbahasa.

Nah, kalau sudah begini menjadi tanggungjawab siapa? Menjadi tanggungjawab kita semua yang berkomitmen untuk nguri-uri budaya Jawa melalui jalur bahasa yang adi luhung itu. Orangtua harus mulai melatih dan mengajarkan Bahasa Jawa dengan benar. Demikian juga dalam kehidpan pembelajaran formal di sekolah, anak juga harus dilatih berbahasa Jawa dengan baik dan benar. (tj3/2/aro)

Guru SMP Negeri 32 Semarang

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *