Ngetan Bali Ngulon, Nek Edan Mesti Kelakon

Menyambut Ulang Tahun Ke-471 Kota Semarang

Menarik

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

RADARSEMARANG.COM – Ada dua pertanyaan menarik yang dilontarkan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi kepada saya minggu lalu. Dua-duanya menggunakan kata adem. Dua-duanya mengenai kondisi Kota Semarang akhir-akhir ini. Yang satu berkaitan politik. Yang lain menyangkut keindahan kota.

Menurut saya, pertanyaan Pak Hendi – panggilannya – itu serius. Namun, beliau menyampaikannya secara santai, sama seperti penampilannya siang itu. Mengenakan kemeja batik kasual lengan pendek. “Piye kabare Mas Baehaqi,” sapanya begitu muncul dari ruang kerjanya. Ketika itu saya bersilaturrahim bersama seluruh manajer Jawa Pos Radar Semarang.

Hendi merasa situasi menjelang pemilihan gubernur adem-ayem. “Ketika saya berkeliling di kampung-kampung malah ada yang bertanya apa sudah waktunya berkampanye,” ceritanya. Saya mengamini. “Kalau di Semarang saja adem, apalagi yang di pelosok desa,” jawab saya yang lebih banyak tinggal di Kudus dibanding di Semarang. Di sekitar tempat tinggal saya di kaki Muria nyaris tak ada orang yang ngerumpi soal pilgub.

Di satu sisi, itu bagus. Inilah yang diinginkan aparat keamanan. Jangan sampai terjadi gesekan antarpendukung calon. Di sisi lain, tidak memunculkan semangat untuk menentukan calon pemimpin baru. Lebih mengkhawatirkan kalau sampai terjadi apatisme.

Pada pilgub 2013 yang dimenangkan Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko, tingkat partisipasi pemilih hanya sekitar 53 persen. Itu lebih rendah dibanding Jabar (63 persen) dan Jatim (60 persen). “Kenapa ya, sekarang ini juga adem,” tanya Hendi. Sekarang yang maju sebagai cagub masih Ganjar. Dia berpasangan dengan Taj Yasin (Gus Yasin). Lawannya pasangan Sudirman Said – Ida Fauziyah.

Ademnya situasi menjelang pilgub itu tidak menarik. Berbeda dengan ademnya kondisi kota. Semarang sudah mulai terasa adem. Tetapi masih jauh dibanding Surabaya. “Apa benar akhir-akhir ini Surabaya lebih adem?” Saya yang ber-KTP Sidoarjo (Rumah hanya satu kilometer dari Surabaya) membenarkan.

Di Surabaya, kata saya kepada Pak Wali, nyaris tak ada sejengkal tanah yang tidak ditanami tumbuh-tumbuhan. Yang ditanam bukan hanya pohon peneduh. Juga tanaman-tanaman hias. Bahkan, sekarang sudah dipenuhi bunga-bungaan. Surabaya bukan lagi adem dari sengatan matahari, melainkan telah menimbulkan suasana adem.

“Mereka yang berkendara di tengah kemacetan pun bisa teredam emosinya,” tambah saya. Itu tak lain karena mereka bisa menikmati indahnya taman yang ada di sepanjang jalan Kota Surabaya. Hendi mengangguk-angguk pertanda setuju. “Semarang juga mengarah ke sana,” katanya.

Kampung-kampung Surabaya juga sudah cantik. Bertahun-tahun Wali Kota Tri Risma Harini bekerja sama dengan Jawa Pos untuk membikin lomba kampung bersih, kampung sehat, dan kampung berbunga. Hasilnya, banyak lingkungan kumuh yang kini menjadi indah dan nyaman. Di Semarang, pemkot bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Semarang untuk membikin Kampung Hebat. “Ayo Mas kita bikin lagi,” ajak Hendi.

Hendi sangat serius menata kota seperti Surabaya dan Bandung. Meskipun penghijauannya belum merata, dia bikin trotoar yang cantik dan nyaman. Hasilnya sudah bisa dirasakan. Suatu saat saya sengaja menikmatinya. Duduk di kursi kayu berkaki besi tempa. Kebetulan di depan kantor Jawa Pos Radar Semarang di Jalan Veteran 55 juga ada. Di samping kursi terdapat bola hias yang cantik. Sayang begitu beranjak siang lantas panas menyengat.

Kursi-kursi santai itu bertebaran di mana-mana. Di trotoar-trotoar yang telah dibangun. Kawasan Kota Lama yang dihiasi kursi-kursi itu nyaris seperti di Eropa. Penduduk yang berjalan-jalan bisa santai kapan saja. Sayangnya, ya itu tadi. Banyak kursi yang tidak dinaungi pohon peneduh. Malah tidak bertaman.

Kota Lama telah menjadi ikon tersendiri bagi Kota Semarang. Penataannya jauh lebih baik dibanding Surabaya. Kota Lama Semarang telah berubah menjadi Paris van Semarang. Gedung-gedung tuanya terawat. Beda dengan Surabaya. Kawasan Kota Lama Surabaya di sekitar Kembang Jepun masih menakutkan kalau malam hari.

Kota Lama Semarang itu telah menjadi area wisata. Paling tidak bagi penduduk lokal dan wisatawan daerah. “Saya sedang berpikir bagaimana agar wisatawan mancanegara yang menggunakan kapal pesiar itu bisa mampir di Kota Lama. Pasti mereka suka,” kata Hendi. Kapal pesiar itu bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Tetapi penumpangnya langsung menuju Candi Borobudur.

Penataan kota yang kini sedang digalakkan itu akan menjadi sempurna manakala pembangunan Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) telah selesai. Hendi sudah membikin rencananya. Matang sekali. Kelak bukan hanya mengurangi wilayah yang sering terendam banjir. Sungai Banjir Kanal Timur akan menjadi area baru yang bisa digunakan untuk berwisata lengkap dengan taman-tamannya.

Saya bisa merasakan beratnya menjadi Wali Kota Semarang yang berobsesi tinggi. Sudah puluhan tahun sepenggal kalimat Semarang Kaline Banjir yang terselip dalam lagu Jangkrik Genggong yang sering dinyanyikan Waljinah. Hendi ingin mengubahnya. Ngetan bali ngulon, nek edan mesti kelakon. Mudah-mudahan bisa mengatasi rob juga.

Selamat ulang tahun ke-471 Kota Semarang. Semoga semakin maju. (hq@jawapos.co.id)

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...