33 C
Semarang
Sabtu, 19 September 2020

Gol Tunggalnya Selalu Dikenang

Tugiyo, “Legenda Jawara” PSIS

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

Tentu sangat bangga jika bisa kembali membantu PSIS. Kali ini sebagai pelatih tentunya.

Sejarah sepakbola Semarang, tak bisa dipisahkan dari nama Tugiyo. Berkat tendangannya, PSIS mampu meraih juara pada gelaran Liga Indonesia V 1998/1999. Kala itu, 9 April 1999.

RADARSEMARANG.COM – KOTA Semarang menjadi lautan suporter. Jalan-jalan protokol di Kota Lunpia, didominasi warna biru, warna kebanggaan PSIS. Tim berjuluk Mahesa Jenar, berhasil menyematkan satu bintang di atas logo jersey mereka, setelah sukses menang 1-0 pada final di Stadion Klabat Manado. Tak tanggung-tanggung, PSIS berhasil menang atas musuh bebuyutan mereka: Persebaya Surabaya.

Tak hanya berhasil menciptakan sejarah. Gelar juara tersebut, juga cukup untuk menyematkan pencetak gol semata-wayang PSIS ke gawang Persebaya— yaitu Tugiyo—sebagai pemain legenda PSIS sepanjang masa.

“Waktu itu, saya tidak berpikir macam-macam. Saya dan teman-teman hanya fokus menghadapi pertandingan final melawan Persebaya. Dan Alhamdulillah, saya bisa menyumbang satu gol kemenangan. Itu menjadi momen terbaik saya selama berkarier di sepakbola,” kata Tugiyo ketika dihubungi Jawa Pos Radar Semarang.

Pemain kelahiran Purwodadi, 13 April 1977 itu, mengaku, momen istimewa itu, mampu mengubah hidupnya. ”Setelah juara, tentunya banyak hal yang saya dapat. Termasuk, penghargaan-penghargaan. Saya dapat tanah kaveling dari Pak Gubernur. Juga dapat motor dari pengusaha, uang dan lain-lain. Namun, yang paling utama, saya sangat bangga bisa membawa PSIS juara,” bebernya.

Berkarier di PSIS, bisa dibilang menjadi puncak karier pemain berjuluk Maradona dari Purwodadi itu. Tugiyo menghabiskan masa mudanya berlatih di Diklat Persipur, Diklat Salatiga, Diklat Ragunan, dan bermain di PSB Bogor.

“Susah senang, kami lewati di PSIS. Senangnya ya ketika juara. Susahnya, mungkin saat gaji telat dan lain-lain. Tapi, sebagai pemain, hal-hal seperti itu saya nikmati sebagai proses. Orang tua saya menjadi sosok yang paling berharga. Karena saya tumbuh dari keluarga yang sangat sederhana. Karena itu, saya cukup bangga, bisa membanggakan orang tua dengan bermain bola,” lanjut ayah dari Scudeto Rafa Majalintama itu.

Selama lima musim, Tugiyo berkostum PSIS. Ia juga pernah berkostum Persik Kendal, Persela Lamongan, Persik Kuningan, hingga sederet catatan cedera membuatnya memutuskan untuk gantung sepatu.

“Karier profesional saya yang pertama memang di PSIS musim 1999, dan langsung juara. Sebelumnya saya ikut Diklat Ragunan,” kenang pemain yang pernah masuk dalam program Timnas Bareti.

Setelah gantung sepatu, Tugiyo mengaku tidak bisa jauh dari sepakbola. Ia merintis karier sebagai pelatih. Pada 2013 silam, Tugiyo menangani tim amatir PS Merpati, Banyu Putih. Tugiyo telah mengantongi lisensi C AFC bersama eks bek timnas asal Semarang, Nova Arianto. Ia kini tengah melatih salah satu kontestan Liga 3 asal Lampung, Lampung Sakti.

Disinggung masa depannya sebagai pelatih, Tugiyo masih memiliki impian untuk kembali berada di tim Mahesa Jenar. ”Tentu sangat bangga jika bisa kembali membantu PSIS. Kali ini sebagai pelatih tentunya.” (baskoro.septiadi/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Dua Kewarganegaraan

Anggun telah membuat saya harus bertemu dua doktor ini. Kemarin. Dua-duanya dosen. Di Fakultas Hukum, Universitas Lampung.   Keduanya sama-sama ahli hukum tatanegara: Dr. Budiono dan...

Dimaki, Pak RT Bunuh Tetangga

RADARSEMARANG.COM, WONOSOBO – Tak terima lantaran dimaki-maki, seorang ketua RT nekat menusuk seseorang hingga meninggal dunia. Peristiwa ini membuat geger warga Dukuh Kersan RT...

Pembiasaan Budaya Bersih Siswa Sekolah Dasar

RADARSEMARANG.COM - TUGAS guru di sekolah tidak hanya mengajar dan menyampaikan materi pelajaran ke siswa, namun harus disertai dengan kegiatan mendidik. Justru tantangan terbesar...

Pedagang Buah Bikin Jengkel Satpol

MAGELANG - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Magelang menertibkan pedagang kios buah di Jalan Ikhlas yang kedapatan menggunakan trotoar untuk berjualan. Pedagang...

Cinta Tak Direstui, Nekat Gantung Diri

PEKALONGAN - Seorang pemuda, bernama Mafatihul Faza, 24, nekat mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara tragis. Dengan seikat tali plastik, ia gantung diri di dalam...

Sepuluh RS Miliki Sertifikat Syariah

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Sebanyak 10 rumah sakit (RS) di Indonesia, saat ini telah mendapatkan sertifikat syariah tingkat nasional. Selain itu, ada 12 RS yang masih dalam...