33 C
Semarang
Selasa, 20 Oktober 2020

Digagas sejak 2009, Progres Lambat

Proyek Semarang Outer Ring Road (SORR)

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

RADARSEMARANG.COM – Megaproyek di Kota Semarang yang ditunggu masyarakat adalah memiliki jalur ring road (jalan lingkar). Jalur ini direncanakan mengelilingi Kota Semarang yang kian berjejal. Sehingga adanya jalur ring road itu bisa membelah kemacetan yang kerap menghantui Kota Lunpia. Proyek besar ini diberi nama Semarang Outer Ring Road (SORR).

PROYEK SORR sempat terkatung-katung dan jalan di tempat tanpa perkembangan berarti. Pasalnya, proyek ini sebetulnya telah direncanakan sejak 2009 atau sejak 9  tahun silam, tepatnya pada masa pemerintahan Wali Kota Sukawi Sutarip. Entah mengapa, proyek ini tersendat dan pembebasan lahan terganjal.

Progres pembangunan SORR ini terbilang sangat lambat. Pemkot Semarang melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) telah menyelesaikan sejumlah dokumen mulai Studi Kelayakan atau Feasibility Study (FS), Detail Engineering Design (DED), Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), serta dokumen Land Acquisition and Resettelment Action Plan (Larap). Namun hingga 2018 ini, pembebasan lahan belum ada 10 persen. Jauh tertinggal dengan pekerjaan pembangunan Jalan Tol Trans Jawa Batang-Semarang yang saat ini dikebut dengan target lebaran mendatang bisa dioperasionalkan.

Kepala Bidang Binamarga Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Saelan, mengakui hingga saat ini proyek SORR masih dalam proses pembebasan lahan. “Pembebasan lahan belum apa-apa, sebagian sudah dibayarkan. Belum ada 10 persen yang sudah dibebaskan,” katanya saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (29/4).

Dikatakannya, sebagian pembebasan lahan yang sudah dilakukan pembayaran berada di proyek SORR lingkar selatan, yakni di daerah Kelurahan Wates yang merupakan bagian ruas jalur lingkar antara Mangkang hingga Mijen. “Total pembebasan lahan di wilayah kelurahan tersebut membutuhkan kurang lebih Rp 49 miliar. Saat ini, baru dibayarkan kurang lebih Rp 10 miliar. Kalau totalnya nanti kurang lebih membutuhkan Rp 350 miliar,” bebernya.

Secara pararel, lanjut Saelan, pembebasan lahan juga sedang dalam proses appraisal di wilayah SORR lingkar utara, di tiga kelurahan yang membutuhkan kurang lebih Rp 181 miliar. “Proses di keduanya, baik SORR utara dan selatan sedang berjalan. Di Kelurahan Podorejo, Ngadirgo, dan Gondoriyo juga sedang diproses appraisal,” katanya.

Ia mengakui, pembebasan lahan membutuhkan anggaran cukup besar. Itu menjadi salah satu kendala. Sebab, anggaran Pemkot Semarang terbatas dan dibagi-bagi untuk pekerjaan proyek lain. “Selain itu, administrasi lahan warga ada yang sengketa, dijual ke orang lain dan dibalik nama dan lain-lain. Targetnya hingga akhir 2018 ini bisa lancar,” ujarnya.

Pantauan di lapangan, salah satu lokasi yang rencananya akan dibangun proyek SORR berada di Jalan Palir Kaliancar, Kelurahan Podorejo. Jalan tersebut merupakan jalur penghubung dari berbagai wilayah, menuju Mijen, Ngaliyan dan Mangkang. Sekarang ini, lebar jalan tersebut juga sangat sempit dan hanya berukuran kurang lebih 5 meter. “Iya, jalannya sangat sempit, namanya juga di kampung. Tapi ini jalan penghubung. Dari Mangkang, lewat sini bisa ke Mijen, bisa ke Ngaliyan,” ujar Imam Sutarman, warga Palir, Podorejo.

Sutarman mengaku, sudah mendengar jalan tersebut akan dibangun menjadi jalan besar. Nantinya jalan tersebut dibangun mulai dari Pantura Mangkang melintas tempat tinggalnya kemudian terhubung ke derah Mijen. “Dari Wonosari (Mangkang) terus ke Palir, Wates (Kelurahan Podorejo), Ngadirgo, Pesantren (Mijen) tembus mako Sabhara (Mijen),” bebernya.
Dikatakan, akibat proyek SORR itu, bangunan rumahnya bakal tergusur. Sebab, jalan tersebut akan dilebarkan 15 meter baik ke kanan dan ke kiri. Sedangkan rumah Sutarman terkena kurang lebih 12 sampai 13 meter dari jalan raya. “Kalau per meter dihargai berapa saya belum tahu, masih dirahasiakan. Belum ada kepastian, bilangnya dari Dinas Binamarga disamakan dengan NJOP sekitar sini,” katanya.

Seingat Sutarman, proses pengukuran lahan sudah dilakukan sejak 2009 silam, atau sebelum adanya pembangunan jalan tol. Kemudian pada 2013 dilakukan sosialisasi, dan pada 2015 kembali sosialisasi rencana pembebasan lahan. “Tapi sampai sekarang belum ada kejelasan, molor. Kemarin 2017 sudah ada kumpulan (pertemuan) di kecamatan, penyampaiannya nanti 2018 pembebasan selesai, tapi sampai sekarang belum selesai, alasannya menyelesaikan jalan tol Semarang-Batang jadi,” ujarnya.

Sutarman menyebutkan, ada sebagian wilayah yang telah menerima uang ganti pembebasan lahan, yakni di daerah Wates seberang Jalan Palir Kelurahan Podorejo. Informasi dari mulut ke mulut yang diterimanya, besaran ganti rugi kisaran Rp 1,3 juta per meter persegi. Idealnya, ganti rugi lahan setempat Rp 2 juta per meter persegi.

“Kalau Palir belum sama sekali. Wilayah Wates sebagian sudah dibebaskan, saya dengar lahan sawah Rp 1,3 juta per meter persegi, dan lahan kering siap bangun Rp 1,9 juta. Kalau disini (Palir) lahan bangunan rumah belum ada informasi. Jadi, nanti pohon, bangunan, septitank, sumur di luar rumah ada ganti sendiri. Kalau sumur dan septitank di dalam rumah itu masuk bangunan rumah,” jelasnya.

Secara pribadi, Sutarman mengaku setuju dengan dibangunnya SORR. Alasannya, bisa mengangkat pertumbuhan ekonomi wilayah setempat. Bahkan, ia berencana akan membuka usaha di pinggir jalan tersebut.

Bunari, warga RT 3 RW 8 Pesuruhan, kKlurahan Podorejo mengaku lahan miliknya yang terkena Proyek SOOR berukuran 12 meter x 12 meter. Namun sampai sejauh ini, pihaknya belum menerima ganti rugi. Bahkan belum tahu besaran ganti lahan per meternya. “Masih belum dikasih tahu. Untuk lahan paling tidak ya diganti Rp 2 juta per meter persegi. Kalau harga segitu (Rp 1,3 juta)ya keberatan, untuk beli lahan dan material pembangunan kan tidak cukup,” keluhnya
Ahmudi, warga RT 06 RW3 Kampung Wonorejo Kelurahan Wates, Kecamatan Ngaliyan mengakui, pembebasan lahan sudah dilakukan sejak April ini. Ia juga telah menerima pembayarannnya. “Lahan saya yang kena 382 meter persegi, harga per meter tidak sampai Rp 1,3 juta, ya hanya Rp 1,2 juta lebih sedikit. Disesuaikan dengan NJOP sini. Terus semua pohon yang di depan rumah dapat ganti totalnya Rp 1,6 juta,” bebernya.

Kepala Bidang Binamarga, Saelan, menambahkan, Semarang Outer Ring Road ini, lanjut dia, ada dua outer, yakni Trase Mangkang-Mijen (Ring Road Selatan) dan Trase Mangkang Arteri Utara (Outer Ring Road Barat-Utara). Di dua outer tersebut, melintasi wilayah sebanyak 15 kelurahan. Trase Mangkang-Mijen, yakni dimulai dari depan Terminal Tipe A Mangkang, kemudian menyusur ke selatan hingga ke Mijen. “Panjangnya 10 kilometer,” katanya.

Trase Mangkang-Mijen melintasi sebelah selatan Kawasan Bukit Semarang Baru (BSB) hingga sebelah Utara Kantor Sabhara Polda Jateng. Setelah itu, untuk  tahap pembangunan berikutnya nanti adalah berbelok ke arah selatan menuju Simpang Cangkiran, kemudian mengarah ke timur menuju Gunungpati dan berakhir di depan Terminal Ungaran.

Pekerjaan tahap pertama adalah Ring Road Selatan. Lahan yang dibutuhkan untuk pembangunan jalur Lingkar Mijen-Mangkang ini seluas 389.815 meter persegi. Ada 6 kelurahan yang terkena dampak pembangunan jalur Lingkar Mijen-Mangkang. Di antaranya, Kelurahan Ngadirgo, Podorejo, Pesantren, Wates, Gondoriyo, dan Wonosari. Sedangkan di Mangkang-Arteri Utara terdapat 9 kelurahan yang terkena dampak, yakni Mangkang Kulon, Mangkang Wetan, Mangunharjo, Randugarut, Tugu, Tambakrejo, Karanganyar, Tawangsari, dan Panggung Lor.

Secara rinci, lanjutnya, lahan hutan yang terkena dampak proyek pembangunan jalan Lingkar Mijen-Mangkang seluas 24,2 hektare, terdiri atas milik Perhutani seluas 16,4 hektare, dan PT KAL (BSB) seluas 7,9 hektare. Konsepnya memisahkan jalur cepat dan jalur lambat. Rencana ruas lalu-lintas cepat ada 4 lajur 2 arah dengan lebar masing-masing lajur 3,5 meter. Sedangkan untuk lajur lalu-lintas lambat ada 2 lajur 2 arah, lebar masing-masing lajur 3 meter. “Total kebutuhan daerah manfaat jalan (Damaja) ruas jalan Mangkang-Mijen selebar 30 meter,” bebernya.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menjelaskan serupa bahwa proyek SORR meliputi SORR Utara dan SORR Selatan. “Direncanakan untuk mengelilingi Kota Semarang, yakni dari Mangkang ke Mijen, Mijen ke Gunungpati, Gunungpati ke Banyumanik, Banyumanik ke Pedurungan, Pedurungan ke Genuk, Genuk ke Jalan SORR Utara dari arah Genuk menuju ke Mangkang dan Kendal. Saat ini lagi proses pembebasan lahan, kami mohon doanya aja,” katanya.

Anggota Komisi C DPRD Kota Semarang, Suharsono, mengatakan, Kota Semarang makin berkembang dan diminati banyak investor. Banyak masyarakat dari luar daerah ingin menghuni kota ini. Dampaknya, titik kemacetan lalu-lintas semakin meluas. “Saya rasa, proyek Semarang Outer Ring Road ini tepat dan sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah kemacetan,” ujarnya.

Dikatakanya, SORR Selatan telah berjalan pembebasan lahan. Ditargetkan 2018 pembebasan lahan SORR Selatan selesai. Diharapkan, 2019 dimulai pembangunan fisik. “Kendaraan dari luar kota yang menuju arah kota sudah tidak sebanding dengan luas jalan yang tersedia. Apalagi termasuk jalan pantura yang merupakan jalan utama Jakarta-Surabaya,” katanya.  (amu/mha/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...

Apersepsi, Pembangkit Motivasi Dan Minat Siswa

RADARSEMARANG.COM - DARI tahun pelajaran 2016/2017 sampai dengan saat ini, terdapat kebijakan baru terhadap pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA)....

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Sport Center Bisa Tingkatkan Prestasi

SEMARANG - DPRD meminta agar Pemprov dan kabupaten/kota lebih serius menggarap potensi atlet di Jateng. Salah satunya dengan meningkatkan dan menambah keberadaan pusat olahraga...

Traveling di Sela Kerja

DUNIA memang tidak selebar daun kelor. Ungkapan itu yang dipegang Ratih Mega Rizkiana. Wanita kelahiran Ambarawa Kabupaten Semarang, 8 Maret 1988 ini selalu menyisihkan...

Headline Radar Semarang Terbaik se-Jawa Pos Group

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG—Jawa Pos Radar Semarang meraih penghargaan bergengsi dalam Kompetisi Product Quality Jawa Pos Group 2017-2018. Headline Jawa Pos Radar Semarang berjudul “Pabrik Pil...