33 C
Semarang
Sabtu, 19 September 2020

Pencapaian Berkat Budaya Membaca dan Menulis

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

HAPPY FAMILY : Frederick Ridwan Sanjaya bersama sang istri, Lucia Sianny Octavia, dan kedua anaknya, Kezia Patricia Sanjaya dan Michael Giovanni Sanjaya. (Istimewa)
HAPPY FAMILY : Frederick Ridwan Sanjaya bersama sang istri, Lucia Sianny Octavia, dan kedua anaknya, Kezia Patricia Sanjaya dan Michael Giovanni Sanjaya. (Istimewa)

RADARSEMARANG.COM – CAPAIAN Ridwan Sanjaya menjadi seorang pemimpin Perguruan Tinggi, tidak terlepas dari hobinya membaca buku dan menulis. Selain itu ayah dua orang anak ini juga getol berorganisasi.

Ayah dari Kezia Patricia Sanjaya dan Michael Giovanni Sanjay, ini bercerita, sudah suka membaca sejak kecil. Apalagi ia hidup di lingkungan keluarga yang pekerjaannya sebagai agen Koran. Setiap fajar menyingsing, di rumahnya selalu ramai para loper yang datang untuk menata koran sebelum dikirim kepada pembaca atau pelanggan.

“Nah di situ saya baca dulu, paling tidak ada 2 sampai 5 koran, yang menarik apa. Karena biasanya ketika bertemu dengan orang-orang banyak yang menanyakan berita menarik hari ini. Jadi kita bisa cerita. Kalau kita nggak tau kan nggak asyik,” ungkap Ridwan.

Baca juga : Sebarkan Virus Transparansi

Kerja keras Ridwan rupanya sudah tertanam sejak duduk di bangku SD. Ia sering membantu mengirim koran ke pelanggan menggunakan sepeda ontel. Rutinitas inipun dilakukan hingga di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Apalagi kalau lopernya ada yang sakit, ya saya lebih banyak lagi kelilingnya, menggantikan, berangkat lebih pagi, jam 4.30. Karena kalau nggak, sekolahnya telat,” kenangnya.

Bagi suami Lucia Sianny Octavia, ini hidup di tengah keluarga sebagai agen koran sangat beruntung. Kondisi lingkungannya mampu menciptakan budaya membaca dan menulis. Semasa masih kelas IV SD, sudah menulis cerita pendek (cerpen) di salah satu majalah dengan mendapat imbalan Rp 15 ribu.

“Budaya membaca itu penting. Dari budaya membaca timbul budaya menulis, itu yang bisa menuntun langkah saya hingga mengarah pada kehidupan sekarang ini,” kenang Ridwan.

Setelah lulus SMA, Ridwan melanjutkan di Perguruan Tinggi Negeri Universitas Diponegoro (Undip). Mengambil jurusan Ekonomi pada tahun 1995. Namun baru perjalanan tiga semester, ia berubah pikiran dengan alasan kurang sesuai, ia lebih tertarik dunia teknologi.

“Saya merasa tidak betah, pengen keluar. Dalam hati saya, kok hafalanya banyak banget, anggapan saya ini bukan dunia saya,” katanya.

Kegamangan inipun disampaikan kepada orang tuanya. Meski sempat mendapat penolakan, namun akhirnya orang tua mengizinkan Ridwan melanjutkan kuliah di bidang komputer. Kemudian ia masuk di STIMIK Stiekubank Semarang (sekarang Unisbang), menbambil jurusan Teknologi Informasi, pada tahun 1996.

Saat menjadi mahasiswa, Ridwan tak hanya bergelut dalam dunia pendidikan akademik. Ia juga membangun organisasi kemahasiswaan “Internet Club”. Dari organisasi ini ia banyak mendapat pengalaman baru hingga terjun langsung ke masyarakat mengajari dunia internet, termasuk kepada dosen.

“Ada komputer rusak, saya yang dipanggil. Di situ saya terbentuk dan berkembang. Dalam organisasi kita bisa menciptakan kesempatan kesempatan baru, belajar cara komunikasi hingga membentuk kepercayaan diri,” terangnya.

Kecintaan Ridwan di dunia teknologi, khususnya komputer mulai muncul ketika ia masih duduk di bangku SMP. Saat itu ia mendapat hadiah ulang tahun dari orang tuanya, sebuah komputer.

Setiap hari ia bergumul dengan komputer. Hingga akhirnya mengutak utiknya sendiri. Ketika ada masalah pada softwere maupun hardwere, ia mencoba memperbaikinya sendiri.

Ridwan juga menyadari dunia organisasi kemahasiswaan bermanfaat sebagai wadah untuk saling tukar pikiran. Terlebih untuk terus menyalurkan hobinya menulis yang dikirim ke media. Tulisanya di koran terkait internet dipastikan tayang setiap minggu.

Meski kuliah di STIMIK Stiekubank, Ridwan juga tak meninggalkan dunia pendidikanya di Kampus Undip. Ia tetap meneruskan kuliahnya dan juga aktif dalam organisasi kampus, terlibat di unit pengembangan komputer fakultas ekonomi. Hingga akhirnya, berhasil meraih gelar sarjana pada tahun 2001.

“Meski terseok-seok selama 6 tahun, di sana saya terlibat di unit pengembangan komputer Fakultas Ekonomi,” katanya.

Begitu juga di STIMIK Stiekubank, Ridwan juga berhasil menyelesaian pendidikan akademiknya sebagai sarjana, lebih awal yaitu pada tahun 2000. Kemudian pada tahun 2001, Ridwan bertemu dengan seorang pakar internet, dia diajak membuat buku. Namun tidak lama kemudian ia melamar pekerjaan dosen di Kampus Unika tahun 2002.

“Jadi pada saat saya melamar di Unika ini sudah punya 2 buku, akan ketiga. Sehingga salah satu pertimbanganya pada saat itu, nggak ada pelamar yang menulis buku,” bebernya.

Tiga tahun kemudian, Ridwan melanjutkan pendidikan akademik S2 di Taiwan mengambil jurusan IT dan Ekonomi Bisnis. Kemudian pada tahun 2005, ia mendapat beasiswa S3 komputer Sistem Informasi di Bangkok.

“Jadi masih ada hubunganya dengan bisnis. Tapi memang teknologi yang jadi utama, basisnya untuk mendukung bisnis. Dari situ mendapat kesimpulan bahwa, sisi teknis harus diimbangi dengan sisi sosial juga,” katanya.

Berkat kegigihan dan tekadnya dalam mengangkat dunia pendidikan yang tinggi, Ridwan mendapat kepercayaan menjabat sebagai Rektor Unika Soegijapranata. Menurutnya, semua capaian ini berawal dari budaya membaca dan menulis.  (M. Hariyanto/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Ramadan Itu Menghormati, Bukan Ingin Dihargai

MENARIK jika mengkaji  Al-Hujurat (49:13) dalam kaitannya dengan upaya refleksi diri dalam bulan Ramadan ini. Ayat itu mengandung arti, “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan...

Kidung Gempita, Konser Semarang Banget

SEMARANG - Malam resepsi HUT ke-470 Kota Semarang tadi malam berlangsung meriah. Konser yang digelar di halaman Balai Kota Semarang ini mengusung tema Semarak...

Pemkot Kaji Ulang Proyek TPU Kumpulrejo

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA-Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Salatiga tidak bisa melaksanakan proyek pembangunan tempat pemakaman umum (TPU) di daerah Kumpulrejo, Kecamatan Argomulyo pada...

Drama Remaja Dalam Gua

Oleh: Dahlan Iskan Ini seperti kisah-kisah petualangan remaja ala Enid Blyton. Sejumlah anak remaja masuk gua. Terjebak di dalamnya. Berhari-hari. Orang tua mereka cemas. Pahlawan...

Prosedur Layanan Kesehatan Pemudik Disederhanakan

MAGELANG – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Cabang Magelang memberikan kemudahan bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) saat mudik Lebaran. Pemegang...

Nur Uhbiyati Guru Besar Ke-17 UIN Walisongo

SEMARANG - Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mengukuhkan Prof Nur Uhbiyati, sebagai guru besar Ilmu Manajemen Pendidikan pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan...