31 C
Semarang
Senin, 30 November 2020

3 PT Terindikasi Basis Radikal

Menarik

Semut Raksasa

RADARSEMARANG.COM-DUNIA tidak jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa satu perusahaan mendapat suntikan dana sebanyak Rp 500 triliun (USD 35 miliar) secara tiba-tiba. Itulah dana yang akan...

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG-Sebanyak 39 persen mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia, telah terpapar paham-paham radikal. Bahkan, 3 PT telah terindikasi menjadi tempat pembasisan calon-calon pelaku teror baru dari kalangan mahasiswa.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan saat memberikan kuliah umum dan konggres ke-6 Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) PT Nahdlatul Ulama (NU) se-Indonesia di kampus Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas), Sabtu (28/4) kemarin.

Budi Gunawan menegaskan bahwa pihaknya terus memantau penyebaran radikalisme di kalangan kampus. “Saat ini, ada 15 provinsi yang menjadi perhatian dan terus kami amati pergerakannya. Dari 15 provinsi ini, memang ada tiga perguruan tinggi menjadi perhatian kami, karena sudah dijadikan tempat atau basis penyebaran paham-paham radikal,” ungkap Budi Gunawan.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan BIN tahun 2017, kata Budi, sebanyak 24 persen mahasiswa dan 23,3 persen pelajar tingkat SMA setuju jihad untuk tegaknya negara Islam atau khilafah. “Fenomena penyebaran ajaran radikal di kalangan mahasiswa ini dengan memanfaatkan kepolosan secara psikologi yang masih dalam proses pencarian jatidiri,” terangnya.

Riset BIN tersebut berbanding lurus dengan survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang menunjukkan radikalisme telah merambah dunia mahasiswa. “Terdapat peningkatan pemahaman konservatif atau fundamentalisme keagamaan yang sejalan dengan hasil survei Mata Air Foundation dan Alvara Research Center,” sambungnya.

Di sisi lain, lanjut Budi Gunawan, hasil penyelidikan beberapa kasus teror di Jakarta menegaskan bahwa kampus menjadi target untuk tumbuh kembangnya paham radikal, untuk menghasilkan bibit pelaku teror yang baru.

Budi Gunawan mencotohkan Bahrun Naim, pelaku teror bom Sarinah di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Januari 2016 lalu, merupakan pemuda yang mulai melibatkan diri dalam gerakan radikal sejak kuliah di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. “Kondisi-kondisi ini menegaskan bahwa lingkungan kampus telah menjadi tempat atau target kelompok radikal untuk mengekspansi ide, ideologi dan mem-brain wash, juga memobilisasi calon-calon teroris yang baru,” tegasnya.

Pihaknya berpesan kepada para mahasiswa dari PT di bawah naungan NU agar mampu melakukan pencegahan dan menjadi garda depan untuk memutus mata rantai penyebaran paham radikal. “Sebagai kalangan terdidik, saya sangat berharap adik-adik mahasiswa ini mampu memilah secara cerdas mana yang baik dan mana yang buruk,” imbuhnya.

Dalam kesempatan tersebut, BIN dan mahasiswa sepakat melakukan deklarasi menolak segala bentuk radikalisme yang mengatasnamakan agama. “Intoleransi bukanlah budaya bangsa Indonesia, sehingga segala bentuk radikalisasi tidak sesuai dengan idiologi bangsa,” tandas Presidium BEM PT NU se-Nusantara, Bustoni Aftoni. (mha/ida)

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Terbaru

Semut Raksasa

RADARSEMARANG.COM-DUNIA tidak jadi geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa satu perusahaan mendapat suntikan dana sebanyak Rp 500 triliun (USD 35 miliar) secara tiba-tiba. Itulah dana yang akan...

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...