33 C
Semarang
Minggu, 20 September 2020

Gagal Baca Tren Musik, Merasa Besar di Kandang Sendiri

Geliat Para Musisi Semarang yang Timbul Tenggelam

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM – Perjalanan para musisi Semarang terbilang berliku. Sejumlah kelompok band berkarya dalam balutan idealisme. Banyak band baru bermunculan, tetapi gampang tumbang. Mengapa demikian?

ABDUL MUGHIS

PARA musisi Kota Semarang sebenarnya hingga kini tetap mampu berkarya. Bahkan, grup pendatang baru bermunculan. Tetapi tak satupun grup musik dari Semarang ini, berhasil menembus pasar nasional.

Berbeda dengan para pendahulu yang mampu mewarnai kancah musik nasional. Tahun 1975, muncul Nasida Ria, kelompok kasidah legendaris pertama di Indonesia yang mampu bertahan hingga sekarang. Pada 1983 muncul kelompok unik bernama Congrock, yakni kelompok musik inovatif dan kreatif yang menggabungkan keroncong dengan aransemen rock. Era 1990 hingga 2000-an, terangkat dengan grup musik seperti Blue Savana dan Power Slaves. Nama lain yang dikenal dari Semarang adalah Peppi Kamadhatu.

“Namun setelah itu hingga sekarang, tidak ada lagi nama grup band asal Semarang yang muncul di lingkup nasional. Tak terdengar lagi suara lantang dari pemusik Semarang, vakum,” kata pengamat musik Semarang, Andi Pratomo, belum lama ini.

Musisi Semarang sebetulnya tetap bergeliat di kandang sendiri. Termasuk pemusik yang bergerak secara mandiri atau dikenal sebagai indie. Gairahnya sebetulnya menggebu untuk selalu berkarya. Sebut saja grup band indie OK Karaoke, Lipstik Lipsing, Wiwiek N Friends, Something About Lola (SAL), Sunday Sad Story, Tanpa Nada, Serempet Gudal dan lain-lain. Tetapi mereka belum mampu mengejar para pendahulunya.

“Musisi indie yang awalnya kuat, mulai roboh satu per satu. Grup yang bertahan tampaknya karena digawangi pemusik lama yang memiliki semangat kuat,” katanya.

Pada era 2000-an beberapa aliran musik banyak mengambil jalur pop hingga elektronik 8bit, sebut saja Hellostereo! Mereka mampu membuat karya dengan baik. Punggawanya Rico Julian sempat menjadi tokoh aliran musik tersebut di kancah nasional.

“Tetapi Semarang tampaknya hanya mengekor perkembangan musik di kota lain seperti Bandung, Jogjakarta dan Jakarta. Di kota-kota itu ramai musik apa, lantas di Semarang mengikutinya,” kata dia.

Menurutnya, pemusik Semarang seringkali gagal membaca tren musik. Ia menyontohkan Blue Savana dengan musik popnya. Grup musik tersebut tidak bertahan lama. Sebab kala itu masyarakat banyak menyukai musik rock alternative dan metal. “Blue Savana muncul terlalu cepat. Sedangkan Power Slaves mampu bertahan lama karena muncul di saat yang tepat,” ungkapnya.

Sedangkan kelompok musik hardcore dan metal, sejauh ini terlihat stabil atau tidak ada kesenjangan berarti di setiap era. Mereka berkarya secara konsisten dan kompak. “Mereka mendasari karya dengan idealisme yang sama. Mereka juga bangga akan hal itu.” katanya.

Lebih lanjut, Andi sebagai musisi asal Semarang yang saat ini tinggal di Jogjakarta mengaku gelisah. Sebab Semarang seperti ada kekosongan dalam hal musik. “Saya sering mendapat pertanyaan dari teman, ada apa di Semarang? Para musisi luar kota tidak mendengar karya musik band Semarang. Kosong,” katanya.

Menurutnya ada sikap para musisi Semarang yang perlu diubah. Beberapa kali pemusik dari luar Semarang bertandang dan berinteraksi dengan pemusik Semarang, tetapi ada kesan musisi kota lain kurang nyaman setelah bertandang ke Semarang. “Misalnya sekadar berbincang, tukar pengalaman, ilmu, dan lain-lain. Saya melihatnya ada sikap yang kurang terbuka. Jadi, pantas kalau kurang terdengar di luar,” katanya.

Hal yang membuat terjebak, lanjut dia, seringkali pemusik Semarang puas dengan panggung besar di kandang sendiri. “Itu terjadi sejak dulu. Kebiasaan yang justru menjadi penjara bagi pemusik Semarang sendiri. Mereka sudah puas tampil di acara-acara besar di dalam kota,” katanya.

Sementara itu, pegiat musik eksperimental, Openk Prabowo, mengaku Semarang perlu terobosan. Hal itu agar bisa mengubah cara perpikir musisi Semarang. Banyak cara yang seharusnya ditempuh para musisi. Salah satunya adalah musik eksperimental. “Di Semarang musik eksperimental sempat ramai pada 2000 hingga 2007. Banyak wadah dan acara yang mendukung para pemusik di aliran ini. Perlu edukasi yang baik,” katanya. (*/ida)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Sukses Jadi Pemimpin, Harus Rendah Hati

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA–Lulusan perguruan tinggi dituntut memiliki kualitas diri berupa kerendahan hati (humality) dalam berkarir di tengah masyarakat. Karena itu menjadi pemimpin yang sukses harus...

Bersihkan Rupang dengan Air Hujan

SALATIGA—Puluhan umat melakukan bakti bersih di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok Tek Bio Salatiga, Sabtu (21/1). Kegiatan itu dilakukan untuk membersihkan kelenteng dan...

6.000 Liter Bantuan Air Ludes Dalam 30 Menit

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Ratusan warga Dukuh Bantul Desa Karang Mulyo dan Desa  Kesesi, Kecamatan Kesesi, Senin (6/8) kemarin berebut air bersih bantuan PMI Kabupaten...

Pelapis Belum “Menggigit”

REMBANG – Rekor tak terkalahkan PSIS nyaris terhenti Kamis (11/5) sore kemarin. PSIR Rembang hampir saja menodai capaian tim berjuluk Mahesa Jenar tersebut. Beruntung,...

Salatiga Jadi Percontohan Pendidikan Kebhinnekaan

SALATIGA - Kota Salatiga memiliki potensi besar sebagai model penguatan pengembangan pendidikan kebhinnekaan. Kota Salatiga dengan penduduk yang sangat heterogen sangat cocok menjadi percontohan...

Gara-Gara “Apel Washington”

Konglomerat yang satu ini mencoba berkelit. Dia tidak mau langsung kooperatif. Tidak mau seperti bos Wanda, Wang Jianglin. Tapi juga tidak mau terang-terangan “mbalelo”....