Beranda Berita Semarang Perda Pengendali ABT Belum Optimal

Perda Pengendali ABT Belum Optimal

Others

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Air bawah tanah (ABT) di Kota Semarang hingga kini masih banyak diambil oleh masyarakat secara bebas terutama pelaku industri. Pengambilan air tanah secara berkelanjutan dalam jumlah besar bisa mengancam kebutuhan air dalam jangka panjang. Dampaknya bisa berpotensi terjadinya kekeringan.

Pengambilan air bawah tanah di Kota Semarang telah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2013 tentang Pengelolaan Air Tanah (PAT). Tetapi aturan ini belum bisa sepenuhnya diterapkan.

“Penerapannya sudah, hanya saja persoalannya, PDAM Kota Semarang hingga hari ini belum bisa mengcover kebutuhan air di beberapa wilayah di antaranya Semarang Barat, Ngaliyan dan Tugu,” kata Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, Rabu (25/4).

Di tiga kecamatan tersebut banyak kawasan industri. Kebutuhan tersebut belum bisa disuplai melalui PDAM. Sehingga mereka masih mengambil air bawah tanah. “Nanti setelah kebutuhan air di wilayah Tugu, Ngaliyan dan Semarang Barat terpenuhi, kami baru memerketat penerapan Perda Pengelolaan Air Tanah tersebut,” kata Hendi, sapaan akrabnya.

Sesuai rencana, persoalan tersebut akan bisa diselesaikan setelah pembangunan Sistem Pengelolaan Air Minum (SPAM) Semarang Barat tuntas. Pembangunan SPAM tersebut baru akan mulai dibangun 2019 mendatang hingga 2020. “Maka pada 2021, SPAM Semarang Barat sudah beroperasi. Diperkirakan, nantinya mampu mengaliri 60.000 Kepala Keluarga (KK) di tiga kecamatan itu,” katanya.

SPAM tersebut juga akan menambah jangkauan coverage PDAM sebesar 20 persen. Saat ini baru mencapai 63 persen, nantinya menjadi 83 persen dari total KK di Kota Semarang. “Dari total kapasitas yang dihasilkan SPAM Semarang Barat yaitu 1.000 liter per detik, nantinya ada alokasi 20 persen untuk kalangan industri,” katanya.

Setelah kebutuhan air masyarakat dan industri bisa terpenuhi melalui PDAM, maka Pemkot Semarang baru akan bisa bertindak tegas terhadap pengambilan air tanah. Terutama di sektor industri. Diharapkan, SPAM Semarang Barat sekaligus menjadi upaya pengendalian eksploitasi air bawah tanah. “Dengan begitu, diharapkan penurunan permukaan tanah bisa diminimalisasi,” katanya.

Plt Direktur Utama PDAM Kota Semarang, M Farkhan mengatakan, sejauh ini PDAM belum bisa memenuhi atau menjangkau beberapa wilayah di Kota Semarang. Penyediaan air baku dari PDAM juga belum maksimal.

“Selama kebutuhan air bersih belum terpenuhi, kami tidak bisa melarang masyarakat membuat sumur sendiri untuk memenuhi kebutuhan air setiap hari. Di satu sisi, eksploitasi tetap berlangsung sampai sekarang baik oleh masyarakat maupun kalangan industri,” katanya.

Ini yang perlu dipikirkan ke depan. Perda yang mengatur mengenai pengambilan air bawah tanah juga sudah ada. Tetapi eksploitasi masih terus terjadi. Dia berharap, nantinya SPAM Semarang Barat merupakan penyelesaian atas eksploitasi air bawah tanah tersebut. “Air baku SPAM Semarang Barat ini nantinya akan diambilkan dari Waduk Jatibarang. Saat ini Raperdanya dalam proses pembahasan di DPRD Kota Semarang,” katanya. (amu/zal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

12,293FansSuka
35PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

Latest News

Huawei HSBC

Tanpa Angpao

Naik Lagi

Related News

Huawei HSBC

Tanpa Angpao

Naik Lagi

Penantian D-dimer