32 C
Semarang
Jumat, 25 Juni 2021

Peranan Orang Tua Terhadap Prestasi Anak

RADARSEMARANG.COM – ANAK adalah amanat Illahi yang harus dijaga fisik dan psikisnya. Ironisnya, keberadaan anak terkadang—bagi sebagian orang tua—justru menjadi beban, karena menghambat aktivitas keseharian mereka. Sehingga tidak jarang, peranan orang tua digantikan oleh babysitter maupun pengasuh. Selebihnya, mereka sibuk memenuhi kebutuhan anak.

Pada beberapa kasus, sebagian orang tua merasa bangga, jika sudah mampu memberikan susu terbaik. Baju dengan branded ternama. Makananan dengan gizi seimbang. Maupun tempat berlindung yang sehat dan higienis. Pendek kata, pangan, sandang, dan papan tercukupi dan layak, sudah lebih dari cukup.

Sebaliknya, terkadang asupan makanan untuk jiwa, seolah terlupakan. Kebutuhan psikis seperti rasa nyaman, aman, tenteram, dan terlindungi, kurang terpenuhi dengan baik. Tidak jarang orang tua mendidik anak dengan pola otoriter.“Aku dulu seperti ini bisa, sekarang pun anakku harus bisa juga”.

Ungkapan ini kerap muncul di lingkungan kita. Orang tua seolah bangga kalau anak takut pada dirinya. Kata “awas” pun seolah jadi senjata ampuh orang tua. “Awas ada hantu! Kamu tidak boleh bobok malam!“ “Awas kalau kamu tidak mau bobok siang, Mama tidak mau membelikan kamu mainan baru!” “Awas kalau kamu tidak mau makan, Bunda nggak mau ngajak kamu jalan-jalan”. “Awas” dan “awas”.

Ungkapan-ungkapan sepele seperti di atas, kerap dilontarkan secara sadar maupun tidak pada anak usia balita. Kebiasaan seperti ini selalu berulang. Lama kelamaan, akan membentuk karakter dan pola pikir anak yang salah. “Aku mau tidur siang agar dibelikan maianan baru.” Atau, “Aku mau makan biar diajak jalan-jalan,” dan lain sebagainya.

Pola semacam ini jika menjadi kebiasaan bagi orang tua, secara tidak langsung, akan membentuk pemikiran anak yang sempit dan sulit berkembang. Anak tidak bisa berpikir lebih jauh dan kreatif. Apakah ketika anak melakukan kesalahan atau tidak sesuai dengan keinginan orang tua, kita berhak untuk mengancamnya?

Berikan anak alasan terhadap larangan ataupun hukuman yang kita berikan pada anak. Ajaklah anak untuk berdiskusi terhadap kemauan anak. Ajak anak untuk berpikir terhadap kebutuhan anak sesuai usia dan kemampuannya. Sehingga anak merasa dihargai dan dihormati keberadaannya.

Anak bukan sebagai objek, tetapi sebagai subjek dan partner kita sebagai orang tua. “Kebo nusu gudhel”, idiom dalam bahasa Jawa yang beberapa dekade lalu sangat tabu, sekarang sudah tidak lagi. Tidak jarang, pemikiran anak lebih baik dari orang tua. Tapi terkadang orang tua terlalu malas dan sombong untuk mengakui kebenarannya. Banyak orang tua yang beranggapan bahwa orang tua selalu benar dan apa yang dilakukannya semata-mata demi kebaikan anak. Padahal, anggapan ini tidak selamanya benar.

Anak bukanlah fotokopi ataupun sarana pelampiasan cita-cita orang tua yang terpendam. Anak adalah individu yang mempunya hati, perasaan, dan karsa. Mereka selalu butuh untuk didengar keluh-kesah dan ide-ide cemerlangnya. Keluguan anak yang timbul serta merta adalah cerminan pribadi yang suci dan alami. Orang tua wajib untuk memupuknya. Bukan malah mematikan ide dan kreasinya. Rumah kotor, mainan berantakan, makanan yang berceceran adalah bukan hasil kenakalan anak. Tapi proses pengembangan diri anak yang mulai tumbuh secara alamiah. Orang tua wajib untuk mengarahkan bukan menghakimi dengan berbagai sebutan.

Sudah saatnya para orang tua mengikuti perkembangan anak sesuai perubahan zaman. Sebagai orang tua sekaligus pendidik, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kondisi yang ada. Mulai dari keluarga kecil kita, selanjutnya ke lingkungan sekitar, terutama siswa sebagai anak didik kita. Generasi penerus bangsa yang berdedikasi dan mandiri, niscaya mudah kita wujudkan di masa yang akan datang.

Guru SMK Negeri 1 Salam, Kab. Magelang

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here