32 C
Semarang
Selasa, 22 Juni 2021

Bantah Korupsi Rp 6 Miliar, Merasa Dikorbankan Atasan

Ketika Juru Timbang Bulog, Nurul Huda, ‘Bernyanyi’ di Balik Penjara

RADARSEMARANG.COM – Juru timbang Gudang Beras Bulog (GBB) Randugarut, Semarang, Nurul Huda, yang mendekam di sel penjara Lapas Kedungpane membuat video pengakuan yang viral di dunia maya. Dalam video itu, Nurul Huda menghujat atasannya di Bulog Divre Jateng. Seperti apa?

JOKO SUSANTO

VIDEO berdurasi 3 menit 39 detik itu kemarin beredar luas di media sosial dan grup WhatsApp. Dalam video yang diperkirakan diambil di dalam sel Lapas Kedungpane itu, Nurul Huda melampiaskan kemarahannya kepada sejumlah atasannya. Dengan kedua mata melotot, pria berjenggot itu mengaku telah dikorbankan oleh atasannya hingga dirinya divonis 4 tahun penjara terkait  kasus korupsi pengadaan beras di Gudang Beras Bulog (GBB) Randugarut  Semarang.

“Apakah saya pantas dituduh korupsi Rp 6 miliar, padahal jabatan saya hanya seorang juru timbang,” katanya.

Ia juga menyebutkan, nama-nama yang menjadi atasannya, yang seharusnya terlibat korupsi, termasuk Kepala Bulog Divre Jateng, Djoni Nur Ashari, yang masih aktif. Ia meminta kasusnya benar-benar dibuktikan, apalagi seluruh keluarganya sudah melarat dan kelaparan selama dirinya menjalani proses hukum, hingga puncaknya dijebloskan ke Lapas Kedungpane.

Dalam testimoni itu, Nurul Huda beberapa kali menunjuk ke arah kamera handphone yang merekamnya dengan mata melotot penuh kemarahan. Ia juga melakukan adegan menggorok leher dan lidahnya dengan pisau, namun sama sekali tak mengeluarkan darah seperti kebal. Ia meminta agar Djoni langsung membunuhnya saja.

“Saudara Djoni, kau selamatkan Budiawan Hendratno, tapi tak akan selamat di akhirat nanti, Tuhan Maha Tahu. Kau katakan aku maling, yang maling aku atau Anda?,”demikian petikan ucapan Nurul Huda dari video tersebut.

Kepala Bulog Divre Jateng, Djoni Nur Ashari, tidak mempermasalahkan video tersebut. Ia mengatakan, proses hukum sudah berjalan dan pengadilanlah yang berwenang memutuskan kasusnya. “Monggo saja Mas, saya no comment, kita hormati proses dan keputusan pengadilan,”kata Djoni saat dikonfirmasi koran ini.

Dalam kasus itu, Nurul Huda divonis 4 tahun penjara dan dijatuhi hukuman denda Rp 50 juta subsider 1 bulam kurungan. Selain itu, dibebani membayar Uang Pengganti (UP) sekitar Rp 600 jutaan subsider 2 tahun penjara. Oleh majelis hakim, Nurul Huda dianggap bersalah melakukan korupsi sebagaimana pasal 3 ayat (1) jo pasal 18 Undang-Undang (UU) RI Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah UU Nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Terkait beredarnya video testimoni Nurul Huda yang diduga direkam di dalam sel penjara menggunakan kamera handphone tersebut, Kepala Kanwil Kemenkum HAM Jateng, Ibnu Chuldun, engan memberikan komentar. Ia hanya membaca pesan dan melihat video yang diberikan koran ini.

Hal senada diungkapkan Asisten Intelijen Kejati Jateng, Bambang Haryanto. Ia mengelak memberikan tanggapan, dan meminta koran ini mengonfimasi langsung ke Asisten Pidana Khusus.

Sementara kuasa hukum Nurul Huda, Nugroho Budiantoro, mengaku sudah mengajukan kontra memori banding. Menurutnya, dalam kasus itu kliennya telah dizalimi, dan kliennya merasa dikorbankan oleh atasannya di Bulog. Sebab, seluruh kebijakan memang dari atasan. Ia juga mengaku sudah melihat video kliennya tersebut.

“Nominal Rp 6 miliar dianggap jaksa kerugian negara, ndak mungkin dinikmatinya klien saya. Lha sampai sekarang saja hidupnya masih susah. Akibat dipenjara, hidup keluarganya juga telantar,” kata Nugroho.

Menurutnya, apa yang ada di video tersebut merupakan curahan hati kliennya, karena tidak mengetahui lagi cara mencari keadilan atas kasus yang menjeratnya tersebut. Ia mengatakan, kliennya adalah korban dari kebijakan pimpinan. “Dia (Nurul Huda, Red) dikorbankan atasannya, apalagi dia dianggap maling oleh atasan, setelah kasusnya bergulir,”ujarnya. (*/aro)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here