33 C
Semarang
Rabu, 12 Agustus 2020

Grafiti Ubah Vandalisme Jadi Karya Seni

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM – SUDAH menjadi pemandangan umum dinding-dinding kelas, pagar, toilet, maupun dinding lainnya pada fasilitas umum termasuk tidak jarang di lingkungan sekolah  penuh dengan corat-coret sebagian anak yang tidak bertanggung jawab. Sehingga hal ini sangat mengganggu pemandangan. Terkesan kotor bahkan mengarah ke kumuh, bahkan kadang ditemui kalimat-kalimat yang kurang etis. Ini jelas perbuatan siswa jahil, meskipun dengan alasan sebagai ungkapan ekspresi diri. Jika dibiarkan terus – menerus bisa mengarah karakter yang buruk yakni vandalisme. Semangat berekspresi siswa ini tidaklah buruk jika diolah dan diarahkan, sehingga tersalurkan menjadi energi positif untuk menghasilkan karya yang bernilai estetis.

Vandalisme memiliki arti perbuatan merusak dan menghancurkan hasil karya seni dan barang berharga lainnya (keindahan alam dan sebagainya). Di dalamnya termasuk perilaku yang tidak baik, buang sampah sembarangan, corat-coret di ruang publik. Dampaknya  di antaranya berupa perusakan lingkungan, menggangu ketertiban, mengganggu keindahan dan kenyamanan orang lain, ini tidak bisa dibiarkan.

Grafitti sebagai salah satu media seni menawarkan sebuah alternatif dari kebuntuan akspresi diri siswa sekaligus pemanfaatan  dinding sekolah yang selama ini kurang mendapatkan sentuhan nilai seni. Grafitti berasal dari bahasa Yunani “graphein” yang memiliki arti menuliskan.

Menurut Wikipedia.Org mengartikan bahwa grafitti adalah  coretan pada dinding atau permukaan di tempat-tempat umum atau tempat pribadi. Coretan tersebut bisa berupa seni gambar atau hanya berupa kata-kata. Kebiasaan melukis di dinding bermula dari manusia primitif sebagai cara mengkomunikasikan perburuan. Pada masa itu grafiiti digunakan sebagai sarana mistisme dan spiritual untuk membangkitkan semangat berburu.

Grafitti juga memiliki arti coretan-coretan pada dinding yang menggunakan komposisi unsur garis, warna, bentuk dan volume untuk menuliskan kata, simbol atau kalimat tertentu. Alat yang digunakan pada masa kini berupa cat semprot.

Perkembangan seni grafitti di Indonesia pada awalnya lebih banyak di jalanan. Pada masa perang kemerdekaan grafitti menjadi alat propaganda yang efektif dalam menggelorakan semangat melawan penjajah. Keberanian menuliskan pesan dalam bentuk grafiti bisa jadi mempertaruhkan nyawa si pelakunya. Pelukis Affandi misalnya pernah membuat slogan yang bertuliskan “Boeng Ayo Boeng” ia menuliskannya di tembok-tembok jalanan.

Karya seni grafiti identik dengan tembok di jalan raya, di rumah-rumah tua tak berpenghuni atau lahan kosong. Di dalamnya tidak hanya menawarkan gambar yang indah secara estetik, tetapi juga kadang pesan yang menggelitik, karena memuat kritik. Kini mulai masuk ke ruang privat seperti galeri, museum, hotel dan lembaga pendidikan.

Bimbingan serta arahan guru yang berkaitan dengan pemilihan bahan dan alat untuk membuat grafiti serta konsep desain sangat diperlukan, sehingga diharapkan mampu mewujudkan proses kreatif yang positif pada diri siswa. Pertimbangan dan saran dari seluruh warga sekolah juga penting untuk masukan dalam menentukan lokasi dinding-dinding yang akan dijadikan sebagai media grafiti oleh para siswa.

Usia sekolah pada masa pendidikan dasar merupakan usia emas yang harus dioptimalkan sedemikian rupa. Seiring bertambahnya usia, anak harus diberikan sebanyak mungkin informasi. Baik melalui pembelajaran di kelas, maupun informasi tak langsung seperti gambar dan lain sebagainya.

Di sinilah pentingnya dinding-dinding sekolah diberikan sentuhan yang lebih baik. Agar siswa bisa mengekspresikan dirinya dengan cara yang etis sekaligus penuh estetika dan tanggung tanpa harus sembunyi-sembunyi.

Dalam karya grafitti dapat dibuat mengambil kalimat-kalimat yang mengandung pesan maupun kritik positif yang mengarah pada kemajuan dan prestasi sekolah. Pewarnaan sangat penting dalam pembuatan grafitti, tentu saja karakter huruf juga diperhatikan, warna-warna cerah, kontras tetapi keharmonisan tetap terjaga akan membuat karya grafitti  tampak lebih menarik  dan nyaman untuk dinikmati. Pada gilirannya kepolosan dinding sekolah yang tiada arti dapat dimanfaatkan menjadi karya seni yang unik. Maka dari kerja sama guru seni budaya dan siswa yang baik karya senipun tercipta.

Kegiatan ini juga menjadi pembelajaran akan pentingnya kerja sama yang baik untuk bisa menghasilkan karya seni. Dengan modal yang  tidak harus mahal, serta melalui arahan guru siswa bisa menemukan media dan ide. Hasilnya adalah karya seni yang bernilai estetis, tanpa merusak ekosistem yang ada. Jika guru seni bisa mau berkreasi maka pembelajaran seni budaya di jenjang SMP bisa lebih baik lagi, menyenangkan dan siswa bangga dibuatnya. (tj3/2/aro)

Guru SMP Negeri 2 Mojotengah, Wonosobo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Mengapa Niat Puasa Bukan Pada Waktu Fajar?

Pertanyaan : Assalamu’alaikum Warahmatullah Pak Kiai, seperti telah kita umum berlaku di masyarakat bahwa niat ibadah adalah bersamaan dengan waktu melaksanakan ibadah tersebut. Misalnya niat...

Jebol Genteng, Gondol Uang Puluhan Juta

KEBUMEN – Kantor PT Sari Melati Sejahtera yang berlokasi di Desa Patemon Kecamatan Gombong disantroni maling, Minggu (26/2) dini hari. Pelaku yang berjumlah tiga...

Mendidik Menulis Siswa Zaman Now

RADARSEMARANG.COM - MENULIS bagi siswa zaman now patut dipertanyakan. Karena pelajar sekarang dengan gadget yang dimiliki lebih asyik ngegame sembari nongkrong di warung, daripada...

Curi Motor di Semarang, Dijual ke Karimunjawa

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG- Sebanyak tujuh anggota sindikat pencurian sepeda motor (curanmor) lintas daerah diringkus aparat Polrestabes Semarang. Barang bukti yang diamankan sebanyak 40 unit sepeda...

Butuh Data Akurat Agar Kebijakan Tepat

PEKALONGAN -  Dalam pengambilan suatu kebijakan, pemerintah berlandaskan data yang ada. Sehingga perlu data yang akurat agar kebijakan yang diambil bisa tepat sasaran kepada...

Silpa Dana BOS Patut Dipertanyakan

RADARSEMARANG.COM - PENGAMAT pendidikan Universitas Katolik Soegijapranata, Tukiman Taruno, menjelaskan, adanya Silpa dana BOS bisa jadi pertanda ada kegiatan sekolah yang tidak berjalan atau...