Lestarikan Bahasa Jawa Lewat Misja

  • Bagikan
Oleh: Sukiswati MPd *)
Oleh: Sukiswati MPd *)

RADARSEMARANG.COM – BAGI masyarakat Jawa Tengah, bahasa Jawa merupakan bahasa ibu mereka. Sedangkan bahasa keduanya adalah Bahasa Indonesia. Namun demikian dalam kehidupan sehari-hari tidak semua orang Jawa bias berbicara atau bercakap-cakap dengan baik dan benar menurut aturan bahasa Jawa yang baku.

Dari pengamatan penulis, sekolah sebagai lembaga pendidikan tempat siswa menuntut beragam ilmu, ternyata banyak sekali siswa yang belepotan dalam berdialog dengan bahasa ibu mereka. Mereka merasa takut keliru sehingga memilih menghindari berbicara menggunakan bahasa Jawa. Bahasa Indonesia dianggap lebih mudah dan aman.

Ketakutan menjawab tentu saja banyak faktor penyebabnya.Yang jelas mereka merasa tidak bisa. Namun sesungguhnya bukan berarti mereka tidak menyukai bahasa Jawa, terbukti dalam percakapan di luar kelas mereka tetap menggunakan bahasa ibu mereka yang dipelajarinya sejak kecil. Faktor lain adalah kurangnya peran orang tua di rumah dalam mendidik anak-anaknya dalam berbahasa. Banyak dijumpai orang tua mengajarkan sejak kecil kepada anak-anak mereka menggunakan bahasa Indonesia terutama kalangan menengah ke atas. Alhasil ketika diajak berbicara dengan bahasa Jawa karma maka mereka hanya terpana melongo, bingung harus menjawab apa.

Faktor yang tak kalah penting adalah peran sekolah yang terkadang menganggap sebelah mata terhadap mata pelajaran bahasa Jawa. Bahasa Jawa dianggap tidak penting bagi kehidupan mereka dalam mencari pekerjaan. Selain itu bahasa Jawa bukan mata pelajaran yang diujinasionalkan.

Kamis Jawa Misja atau Kamis berbahasa Jawa adalah instruksi dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang tertuang dalam Surat Edaran (SE) Gubernur Jawa Tengah Nomor 430/9525 tertanggal 7 Oktober 2014 tentang penggunaan bahasa Jawa untuk komunikasi lisan di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah dan pemerintah kabupaten/kota se-Jateng. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga dan memelihara kelestarian bahasa sastra, serta aksara Jawa yang menjadi faktor penting untuk peneguhan jati diri daerah dan masyarakat Jawa Tengah.

Seiring dengan berlakunya Misja dari orang nomor satu di Jawa Tengah ini, seharusnya ada perkembangan atau pembaharuan dalam upaya pelestarian bahasa Jawa. Seharusnya kebijakan ini menjadikan bahasa Jawa yang semula mati suri menjadi bangkit kembali. Namun kenyataannya penggunaan bahasa Jawa untuk komunikasi lisan itu tampaknya belum dipatuhi secara penuh.

Barangkali di zaman now ini, bahasa Jawa sudah tidak menarik. Ataukah sudah ketinggalan zaman? Bukankah bahasa ibu kita adalah bahasa Jawa? Apakah kita malu dengan bahasa ibu kita? Kalau bukan kita sendiri yang melestarikan siapa lagi? Pertanyaan tersebut sepatutnya kita renungkan kembali. Karena nguri-uri bahasa Jawa berarti kita menjaga dan memelihara kelestarian bahasa yang banyak mengandung nilai adi luhung untuk peneguhan jati diri daerah dan masyarakat. Kita juga dapat mengenali nilai-nilai estetika, etika, moral yang terkandung di dalamnya.

Dalam dunia pendidikan, pelestarian penggunaan bahasa Jawa setiap hari Kamis perlu digalakkan kembali agar dapat membentuk kepribadian siswa. Kepribadian dapat tercermin dari cara bertutur kata yang santun, menurut unggah-ungguh dan undhausuk bahasa Jawa yang benar. Lihatlah bagaimana perasaan kita apabila siswa mau ke kamar mandi tanpa pamitan. Akan terkesan kurang menghargai guru. Akan beda suasananya jika pamitan dengan bahasa santun sambil mengucapkan mohon maaf. Kemudian setelah selesai akan mengucapkan terima kasih sambil menganggukkan kepala. Inilah undhausuk berbicara dengan orang yang lebih tua yang hanya terdapat dalam bahasa Jawa.

Senada dengan percakapan, maka tata krama /unggah ungguh puninclude di dalamnya. Akan sangat tidak sopan bila berbicara dengan guru, tetapi nada suaranya tinggi melengking. Atau berbicara dengan guru tetapi yang dipandang orang lain. Bahkan acap kali berjabat tangan tetapi tidak focus pada orang yang diajak bersalaman. Sungguh perilaku yang tidak pantas ditiru.

Secara tidak langsung penanaman tutur bahasa Jawa yang santun dengan unggahungguh yang trep di sekolah akan berpengaruh terhadap moral siswa. Pelan-pelan terbentuk kepribadian dan karakter yang kuat, karena tingkah laku siswa merupakan cermin akhlak atau budi pekerti yang mereka miliki.

Kehilangan bahasa Jawa berarti kehilangan jatidiri. Unggah-ungguh dan tatakrama yang diracik indah di dalamnya dibuang. Sebelum bahasa Jawa diambil orang, mari  lestarikan bahasa Jawa milik kita. Kita gali dan wariskan kembali pendidikan karakter yang tersimpan di dalamnya untuk mengantisipasi lunturnya tata karma dalam pergaulan. (tj3/2/aro)

*) Guru SMK Negeri 3 Purworejo (sukiswati73@yahoo.co.id)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *