33 C
Semarang
Rabu, 27 Mei 2020

Tawuran Pelajar, 1 Tewas, 1 Luka

Libatkan Siswa SMK di Kendal dan Semarang 

Another

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi,...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur...

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi...

GRAFIS: IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG
GRAFIS: IWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG

RADARSEMARANG.COM, KENDAL-Tawuran antar kelompok pelajar terjadi di Jalan Lingkar Kaliwungu, Kendal. Tawuran melibatkan  sedikitnya 40 siswa SMK Kendal dan Kota Semarang. Akibatnya, seorang siswa tewas dan seorang luka berat. Korban tewas diketahui bernama Wahyu Purnomo, 17, siswa SMK Harapan Mulya Kendal. Sedangkan satu korban luka  berinisial SP, siswa SMK Adhi Yudya Karya Patean.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semarang menyebutkan, tawuran pelajar itu diduga bermula dari saling ejek di media sosial Facebook. Permusuhan di dunia maya itu berlanjut di dunia nyata. Pada Kamis (19/4) malam, kedua kelompok pelajar  SMK dari Kendal dan dan Kota Semarang saling bertemu di Jalan lingkar Kaliwungu. Mereka pun terlibat tawuran sengit.

Menurut keterangan korban selamat, FAS, siswa SMK Adhi Yudya Karya Patean, Kendal,  jika yang terlibat tawuran lebih dari 40 pelajar. Mereka yang dari Semarang bersenjata lengkap. Ada yang membawa parang, samurai, celurit, gergaji, dan gear sepeda. “Sedangkan dari pihak kami tidak bersenjata,” katanya.

Akibatnya, siswa SMK asal Kendal, Wahyu Purnomo, tewas disebabkan oleh tusukan benda tajam di bagian rusuknya. Dari hasil otopsi, tusukan senjata tajam itu tembus ke jantung hingga nyawa korban tidak bisa diselamatkan.

FAS mengaku, tidak mengetahui siswa yang terlibat tawuran dari mana saja. Sebab, itu merupakan bentuk solidaritas siswa SMK Kendal. “Gara-garanya SMK Kendal diejek di medsos, pasca permainan futsal. Lalu jadi tawuran sekarang ini,”  ujarnya.

FAS mengaku, saat tiba di lokasi, sudah terjadi tawuran. Ia bersama tiga temannya dari satu sekolah, yakni SP, HW dan TA ikut membantu dari kelompok Kendal. Tapi, satu temannya berinisial SP justru terluka parah akibat dikeroyok oleh siswa dari Semarang. Punggungnya terkena dua tusukan dan belasan luka akibat terkena gear. Kepala SP juga luka terkena sabetan parang hingga mendapat 16 jahitan.

Ya, kami hanya solidaritas saja. Modal nekat dan keberanian. Tidak ada motif apa-apa, karena secara pribadi saya tidak ada permusuhan dengan siswa dari Semarang,” kata SP.

Kasatreskrim Polres Kendal, AKP Aris Munandar, mengatakan, pihaknya telah mengamankan 15 orang  yang diduga terlibat. Satu di antaranya diduga adalah pelaku pembunuhan Wahyu Purnomo.

“Kami masih melakukan pendalaman terkait keterlibatan beberapa orang yang telah kami amankan. Ada 15 siswa, semuanya dari Semarang,” ujarnya, Jumat (20/4)

Ia mengaku belum mengetahui penyebab tawuran itu. Tapi dari keterangan saksi, tawuran tersebut telah direncanakan tempat dan waktunya. Sebab, dari saksi mata, sebelum terjadinya tawuran terdengar suara petasan di lokasi kejadian.

“Saya lihat ada siswa kumpul-kumpul, banyak yang membawa senjata. Setelah itu, saya mendengar bunyi petasan kembang api. Seketika itu langsung terjadi tawuran brutal,” kata Rozikin, warga Kaliwungu.

Hal senada dikatakan Jambari, penjaga pabrik di Jalan Lingkar Kaliwungu. Ia mengaku tidak berani melerai, karena banyak siswa yang bersenjata.  “Kemudian polisi datang, dan semua pada kabur,” ujarnya.

Pasca aksi tawuran pelajar di Jalan Lingkar Arteri Kaliwungu, Kamis (19/4) malam, Tim Resmob Polres Kendal mengamankan MAA yang kemudian berkembang dalam pengejaran pelaku yang lain. Hingga akhirnya empat pemuda diamankan di kawasan PKL Kokrosono, Semarang.

Keempat pelajar tersebut berinisial WH, FH, dan AM yang mengaku siswa SMK Negeri 10 Semarang, dan seorang lagi berinisial RK yang mengaku siswa SMK Mataram Semarang.

Kepala SMK Negeri 10 Semarang, Bambang Sudjatmiko, membenarkan salah satu siswa yang diamankan, yakni MAA sempat bersekolah di SMKN 10 Semarang. Namun berdasarkan data sekolah, MAA sudah dikembalikan ke orangtuanya sejak Desember 2017.

“FH juga sama, sekitar bulan Desember tahun lalu. Kasusnya kurang lebih sama, lantaran tawuran pada 2016. Tetapi saya tegaskan, kalau MAA itu sudah bukan siswa kami lagi,” tegasnya ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang, Selasa (20/4).

Berkaitan dengan MAA, sambung Bambang, pada 2016 memang tercatat sebagai siswa aktif di satuan pendidikan yang terletak di Jalan Kokrosono tersebut. Namun MAA terlibat masalah hingga mendapat bimbingan BK dan sempat tidak naik kelas.

“Maka, menurut data kami, benar MAA itu siswa kami tahun 2016. Kalau sekarang, terlibat tawuran dan mengaku siswa SMKN 10 itu tidak benar, karena sudah dikembalikan ke orangtuanya,” terang Bambang.

Hingga saat ini, Bambang mengaku belum ada pemanggilan dari kepolisian terkait peristiwa tawuran yang mengakibatkan hilangnya nyawa Wahyu Purnomo. Namun pihaknya akan terbuka dan membantu jika petugas membutuhkan informasi lebih lanjut.

“Yang jelas tadi masih pengumpulan data. Tadi saya juga begitu dapat info langsung konfirmasi dari pihak Polres Kendal, katanya masih mengumpulkan barang  bukti. Kemudian saya menyampaikan, saya siap kalau dimintai keterangan untuk permasalahan ini,” jelasnya.

Lebih jauh Bambang mengatakan, jika terbukti siswanya terlibat dalam tawuran tersebut, maka sanksi pertama yang dijatuhkan adalah pembinaan. Hal tersebut sesuai dengan rencana mutu yang ada di SMKN 10 Semarang. Rencana mutu tersebut, memuat rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar oleh siswa.

“Sanksinya kalau ada siswa yang terlibat, tentu nantinya kita kembalikan lagi pada tata tertib yang ada. Pembinaan dulu, kemudian surat peringatan pertama, kedua, dan ketiga, terakhir nanti kita kembalikan kepada orangtuanya,” tandasnya.

Berduka

Rian, salah satu teman Wahyu mengatakan, sehari-hari temannya itu merupakan siswa yang pendiam. Malah nyaris tidak pernah bertingkah layaknya anak nakal pada umumnya. “Saya dan teman-teman merasakan kehilangan dengan kepergian wahyu dengan cepat,” ujarnya.

Selama ini, lanjut dia, Wahyu dirawat oleh kakek dan neneknya sejak kecil. Pasalnya, kedua orangtuanya merantau ke Riau.

Rohmat, kakek korban, mengatakan, sebelum kejadian, cucunya pamit hendak pergi ke bengkel untuk praktik kerja industri (prakerin) pada Kamis pagi.

“Biasanya Wahyu pulang sore, tapi ini tidak pulang. Dia juga bilang kalau praktiknya selesai pada Jumat ini saja. Dia itu anak baik, di rumah yang menurut sama saya, dan setiap hari juga mengaji,” katanya sedih. (bud/tsa/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Bakat dan Kegigihan sang Maestro Sudah Terlihat di Ngawi (6)

Karakter bersahaja dan pantang menyerah Didi Kempot terasah sejak masa kecilnya di Ngawi. Suaranya bagus dan punya karisma. LATIFUL HABIBI, Ngawi,...

Karya Didi Kempot: Ditulis Sekarang, Terkenal Puluhan Tahun Kemudian (5)

Manisnya karir tak didapat Didi Kempot begitu saja. Ada perjuangan berat yang dilalui. Kuncinya adalah terus berjalan di jalur yang diyakini. Tak berhenti meski...

Memungut Keteladanan sang Kakak untuk Kejar Impian Kesuksesan (4)

Mamiek Prakoso yang pintar ngomong jadi motivator bagi sang adik yang pendiam, Didi Kempot. Hubungan keduanya dekat, meski Didi sering sungkan minta sangu kepada...

Di Bus Kota Nyanyi Lagu Indonesia, di Bus AKAP Lagu Jawa (3)

Bahkan saat mulai awal mengamen di Solo pun, Didi Kempot sudah membawakan lagu ciptaan sendiri, Cidro salah satunya. Suaranya yang merdu dan karakternya yang...

Mengenang Didi Kempot: Balik Solo, Jual Sepeda, Beli Gitar (2)

Selain supaya bisa bersekolah lagi, Didi Kempot dititipkan ke sang pakde yang personel militer agar tidak mbeling. Di Samarinda bakat musiknya mulai terasah, juga kegemarannya...

More Articles Like This

Must Read

Teksas 234 Menangi Salatiga Drumblek Fest

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA – Sebanyak 15 grup Drumblek asal Salatiga meramaikan Salatiga Drumblek Fest  Tahun 2018. Lomba yang dilaksanaan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga tersebut...

Bisnis Kreatif

RADARSEMARANG.COM - YUNI Devi Lestari masih berstatus mahasiswi. Namun ia sudah menekuni bisnis kreatif berupa pembuatan buket bunga dan scrap frame. Berawal dari kesukaan...

KKN UPGRIS Olah Kotoran Sapi Jadi Biogas

RADARSEMARANG.COM, BANYUBIRU - Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) manfaatkan kotoran sapi menjadi biogas. Realisasi pembuatan biogas diawali dengan mengadakan penyuluhan...

Raih IPK 3,88, Teliti 345 Populasi Guru

Satu lagi, gelar doktor diraih pengajar Universitas Muhammadiyah (UM) Magelang. Dosen FAI UM Magelang, Imron, berhasil meraih predikat tersebut. Dalam disertasinya, Imron meneliti peran...

Rawan Disusupi ’Penumpang Gelap’

SEMARANG - Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online yang diterapkan di 351 SMA dan 231 SMK negeri di Jateng dinilai rawan diretas hacker untuk...

Pembentuk “Game for Life” yang Berakhir

Oleh: Dahlan Iskan Bagaimana hasil pemilu internal Singapura? Begitulah pertanyaan pembaca Disway. Soal kelanjutan edisi hari Minggu lalu. Ternyata ada juga yang tertarik. Soal tema yang...