33 C
Semarang
Selasa, 14 Juli 2020

Pengelolaan Kebun Wonorejo Dipertanyakan

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pengelolaan Kebun Dinas Wonorejo di Kelurahan Beji, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang dipertanyakan. Dengan luas kebun yang mencapai 157,20 hektare, hasil yang didapatkan sangatlah minim. Terlebih pengelolaan kebun sudah dikerjasamakan dengan pihak ketiga.

Komisi C DPRD Jateng menyoroti pengelolaan yang tidak jelas dari kebun dibawah Balai Benih Tanaman Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah tersebut. Sebab, Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang disetorkan tidak sebanding dengan luas lahan dan tingkat kesuburan. Pada 2017, dari target yang dibebankan sebanyak Rp 1,5 miliar, realisasinya hanya Rp. 1,2 miliar. Sementara tahun ini lebih parah. Dari target yang dibebankan sebesar Rp. 1,6 miliar, baru tercapai Rp 6,5 juta hingga triwulan pertama 2018.

Ketua Komisi C DPRD Jateng Asfirla Harisanto mengatakan dengan kinerja tersebut, dia pesimistis pengelola bisa mencapai target. “Jika pada triwulan pertama hanya mendapat Rp 6,5 juta, bagaimana bisa mencapai target Rp 1,6 miliar?” tanyanya.

Pendataan aset kebun, rencana kerja serta proyeksi pendapatan pun terlihat tidak terkonsep dengan baik. Hal ini terlihat dari paparan Petugas Kebun Benih, Satiyono yang terkesan tidak menguasai persoalan. Padahal yang bersangkutan sudah bekerja di kebun tersebut selama 20 tahun.

Dalam paparan yang disampaikan, Satiyono menyampaikan, luas lahan yang digunakan untuk tanaman Cacao 5,5 hektare, Kelapa Karet 21 hektare, Untuk pembenihan KBD 48 hektare, Tebu 31,45 hektare, Jeruk 28,34 hektare dan yang belum terpakai sebanyak 59 hektare.

Menurut Asfirla, laporan yang disampaikan pengelola kebun tidak sinkron dengan luasan lahan. “Saya minta dikasih catatan jumlah luasan lahan yang terperinci. Ini kalau saya jumlahkan tidak ketemu dengan luasan yang dimiliki,” ujar legislator yang akrab disapa Bogi tersebut.

Politisi PDIP itu menyayangkan pengelolaan kebun oleh dinas yang kalah dari sektor swasta. Dia mencontohkan kebun buah Plantera di Kendal yang dikelola swasta murni. Lahannya 1000 hektare, produknya diekspor, dan menjadi tempat wisata.

Pesoalan lain yang mendapat sorotan adalah langkah yang diambil Balai Benih Tanaman Perkebunan yang telah menyewakan lahan seluas 60,39 hektare kepada pihak ketiga yakni Munawar, warga Gringsing, Batang. Kerjasama tersebut memakai sistem pembayaran di belakang setelah panen dan harganya dinilai terlalu murah, yakni Rp 5 juta setiap hektare.

“Sistem sewa kok pembayarannya setelah panen dan harganya murah. Dengan luas lahan seperti ini, seharusnya kebun bisa menjadi tulang punggung PAD,” kata anggota Komisi C DPRD Jateng, Mustholih.

Mustholih minta pola kerjasama dengan pihak ketiga dilaksanakan dengan cara bayar di muka pada saat pembuatan perjanjian dan harga yang disepakati sesuai dengan besaran harga yang tercantum di Perda.

Sehubungan dengan kondisi tersebut, Komisi C DPRD Jateng akan mengundang dinas terkait untuk koordinasi agar persoalan yang terjadi tidak semakin parah. Juga agar mampu berkontribusi signifikan dalam penguatan PAD Provinsi Jateng. (ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Daerah Diminta Garap Potensi Wisata Alam

SEMARANG - Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Sri Adiningsih meminta Pemprov Jateng menggali potensi objek wisata, terutama yang berbasis alam. Apalagi, Jateng punya tipografi...

Lomba Arung Jeram Ukur Prestasi Olahraga

RADARSEMARANG.COM, MUNGKID - Sebanyak 20 operator yang tergabung dalam Paguyuban Operator Arung Jeram Magelang (POAJM) antusias mengikuti lomba arung jeram. Kompetisi dalam rangka memeriahkan HUT...

Tanggul Sungai Ambles

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Kondisi tanggul Sungai Wulan di wilayah Kecamatan Mijen mulai retak dan amblas. Tanggul kritis tersebut berada di Desa Pecuk, Mijen, Jleper,...

Waspadai Serangan Monyet Goa Kreo

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jateng mengimbau pengunjung untuk waspada terhadap serangan monyet ekor panjang yang jumlah populasinya terbanyak di...

23 Penumpang Luka, Satu Kritis

RADARSEMARANG.COM, DEMAK - Peristiwa kecelakaan lalulintas (lakalantas) kemarin siang terjadi di jalan raya lingkar Kota Demak, tepatnya didepan minimarket atau depan rumah dr Mulyoto...

Akal Sehat dan Nasionalisme

>> Jadi Fikri, FB 1 Juni 2018: Apa yang menghalangi Indonesia bisa melakukan ini? (Soal peternakan kolektif). KOMENTAR DISWAY: Singkat: Hanya satu: kemauan. Panjang dikit: Sudah ada beberapa inisiatif menuju...