Guru SD Bunuh Diri di Kandang

  • Bagikan
TKP : Petugas Polres Pekalongan ketika melakukan olah TKP, di rumah Sri Susilo,41, ibu kandung korban, di Desa Pantirejo, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan. (Taufik Hidayat/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Diduga stres akibat kerap ditagih utang, Racharjo,39, seorang guru SD Negeri Lumeneng, Dukuh Jlubang Desa Pantire, Kecamatan Kesesi, Kabubaten Pekalongan, nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Sri Susilo, 41, ibu kandung korban warga Desa Pantirejo, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, mengungkapkan bahwa tiga jam sebelumnya Racharjo, bunuh diri di kandang ayam rumahnya, sempat ngobrol bersama dirinya dan ayahnya dari pukul 07.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Usai mengobrol di teras rumah, Racharjo masuk ke dalam rumah dan tidak muncul-muncul lagi.

“Saya mencari ke dalam rumah tidak ada, ternyata anak saya sudah meninggal bunuh diri di kandang ayam belakang,” ungkap Sri.

Sri juga mengatakan sebelum kejadian, tidak ada tanda-tanda kalau putranya tersebut akan bertindak nekad bunuh diri. Karena selama ini sikapnya masih seperti biasa, santun dengan orang tua dan suka bercanda.

Namun dua minggu terakhir memang sering mengeluh, terkait utang yang dia pinjam di salah satu bank dan mengalami keterlambatan membayar. Sehingga pihak bank sering ngejar-ngejar sampai nagih di sekolah tempatnya mengajar.

“Terakhir ngeluh soal utannya di bank, cuma itu saja. Mungkin tertekan atau apa sehingga bunuh diri,” kata Sri Susilo.

Sementara itu, Kasubag Humas Polres Pekalongan, AKP Akrom, menerangkan bahwa korban merupakan seorang guru PNS, yang bertugas di salah satu SD di wilayah pegunungan di Kabupaten Pekalongan.

Menurutnya, korban ditemukan anggota keluarganya dalam keadaan gantung diri di kandang ayam dengan menggunakan tali rafia. Korban sempat dilarikan ke Puskesmas setempat. Namun, sesampainya di Puskesmas sekitar pukul 11.45 WIB, korban sudah dinyatakan meninggal dunia.

“Setelah dilakukan olah TKP dan pemeriksaan saksi dan barang bukti diketahui korban kemungkinan mempunyai masalah keluarga akibat ekonomi, karena banyak ditagih utang. Dari pihak keluarga tidak menghendaki dilakukan otopsi dan menerima kejadian tersebut sebagai musibah,” terang Akrom. (thd/zal)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *