14.9 C
Munich
Sabtu, 31 Oktober 2020

Bisa Senggolan Dengkul Beradu Pandangan

Menarik

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

RADARSEMARANG.COM – BEGITU masuk gerbongi kereta Maharani pukul 05.45, saya sering-sering melihat arloji. Saya  ingin memastikan pukul berapakah roda kereta mulai bergerak dari Stasiun Pasar Turi Surabaya. Ternyata persis pukul 06.00. Itu berarti tepat waktu. Tidak terlambat atau lebih cepat sedikit pun dari jadwal.

Pandangan selalu saya arahkan ke arloji atau jam di handphone juga sekalian untuk mengalihkan perhatian. Saat itu, kereta sedang penuh. Saya mendapat kursi 17 B. Itu berarti di tengah. Persis di depan saya duduk seorang wanita cantik berkaos ketat. Di sebelah saya juga perempuan meskipun (menurut saya) tidak secantik yang di depan. Saya yang belum kenal, tak berani memandang.

Ketika jarum jam menunjuk angka 06.00 kereta bergerak. Warbiasah. Kereta yang tarifnya flat Surabaya – Semarang hanya Rp 49.000 itu tepat waktu. Padahal pesawat terbang yang jauh lebih mahal sering terlambat berjam-jam. Karena itu, saya lebih sering naik kereta dibanding moda angkutan lain untuk pergi-pulang Surabaya-Semarang.

Ketika masih bertugas di Kudus, saya praktis hanya memiliki satu pilihan dari empat pilihan yang sama-sama tidak enak. Naik mobil pribadi, capek menyetir dan bensinnya mahal. Naik travel pasti diputar-putarkan ketika menjemput dan mengantar penumpang lain. Naik mobil sewa, kantong yang cepat bolong. Satu-satunya alternatif, naik bus. Kalau Patas Surabaya – Kudus hanya Rp 95.000 mendapat fasilitas makan.

Sejak dua bulan lalu, ketika merangkap menjadi Direktur Jawa Pos Radar Semarang, saya berpikir ulang. Harus mengubah rute perjalanan. Surabaya – Semarang – Kudus. Demikian sebaliknya, kalau pulang. Alternatif angkutannya bertambah dua. Pesawat terbang dan kereta api. Dua-duanya sudah saya coba. Pesawat memang lebih cepat. Tetapi masa tunggu lebih lama. Jalan daratnya, bagi saya juga lebih jauh.

Kereta lebih menguntungkan dari banyak hal.  Surabaya – Semarang hanya 4,5 jam dengan kereta ekonomi. Kalau eksekutif atau bisnis sejam lebih cepat. Jauh lebih cepat dibanding bus yang 7,5 jam. Saya senang naik kereta ekonomi karena jamnya pas. Dari Surabaya dengan Maharani pukul 06.00 sampai Semarang pukul 10.28. Sedangkan pulangnya naik Kertajaya dari Semarang pukul 21.08 setelah selesai kerja. Sampai Surabaya pukul 01.40.

Dari beberapa perjalanan yang selalu saya perhatikan jamnya, tak sekalipun terlambat berangkat. Termasuk ketika pulang menggunakan kereta Kertajaya. Malah sampainya sering lebih cepat. Kadang-kadang semenit atau dua menit. Belum pernah sekalipun mengalami keterlambatan seperti pesawat atau bus.

Kereta tidak banyak berhenti. Dari Surabaya hanya berhenti di Lamongan, Babat, Bojonegoro, Cepu, Randublatung (Blora), Ngrombo (Grobogan), dan Tawang. Itu pun hanya empat menitan. Yang paling lama di Ngrombo. Delapan menit.

Naik kereta sekarang beda dengan dulu. Tak ada lagi kesan kumuh, berdesak-besakan, dan panas. Baik kereta Maharani maupun  Kertajaya yang sering saya naiki sudah dilengkapi AC. Satu gerbong malah enam buah. Sama sekali tak terlihat sampah berserakan. Karena ada petugas keliling yang membawa kantong sampah.

Penumpang juga tak pernah berdesak-desakan. Sepengalaman saya, kereta hanya agak penuh bila awal atau akhir pekan. Ketika saya berangkat Senin, dua  minggu lalu, kereta terisi kira-kira tiga perempat. Di dua deretan kursi nomor 17, hanya ada satu tempat duduk yang kosong. Demikian juga di depan saya.

Dalam kondisi agak penuh seperti itu memang cukup tersiksa. Dengkul beradu dengkul. Pandangan beradu muka. Saya serba salah. Di depan perempuan. Di samping juga. Kaki saya terjepit. Kadang-kadang saya terpaksa menggerakkan kaki. Itu langsung menyenggol kaki perempuan di depan saya. Saru juga. Mudah-mudahan tidak dosa.

Suatu saat saya tak kuat menahan kaki yang terus tertekuk. Saya coba sedikit menyelonjorkan. Ternyata mengena ujung kaki perempuan di depan saya. Dia yang semula membuang muka ke jendela, langsung beralih pandangan ke muka saya. Saya pun pura-pura tak tahu dan berganti membuang pandangan ke jendela.

Meski perjalanan hanya empat jam setengah, capek juga. Apalagi sandaran kursi tegak lurus. Saya yang belum terbiasa naik kereta sangat tersiksa. Sandaran berlawanan dengan anatomi tubuh. Dari sisi ini lebih enak naik bus.

Saya terbiasa naik mobil, termasuk bus. Tempat duduknya sudah diatur mengikuti anatomi tubuh. Berlekuk-lekuk. Kalau pengaturan ergonomisnya pas, pasti nyaman. Mobil-mobi Eropa sangat memperhatikan hal itu. Ketinggian kursi diatur sesuai kaki penumpangnya. Demikian juga tempat bokong dan sandaran punggung. Orang Jawa bilang ngeplak. Kursi kereta ekonomi tidak bisa dibuat seperti tempat duduk eksekutif karena memakan tempat.

Memang tidak selamanya gerbong penuh. Suatu ketika, hanya terisi kurang dari separo. Saya mengalaminya ketika berangkat dari Surabaya Rabu. Kursi di sebelah kiri saya kosong. Di depan hanya terisi seorang. Penumpang di sebelah kiri saya menaikkan kakinya ke kursi di depan. Penumpang di depan mengambil sikap yang sama. Kakinya diselonjorkan ke samping bokong saya. Sementara di kursi seberang terlihat bapak-bapak bersila. Seperti jagong di pos ronda.

Begitulah naik kereta ekonomi. Ada enaknya, ada juga tidak nyamannya. Orang bilang, mbayar murah kok njaluk enak. Sama dengan naik bus. Naik pesawat yang mahal saja ada tidak enaknya. Yaitu, makanakala terlambat. (hq@jawapois.co.id)

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Terbaru

Ivanka Lincoln

PENYAKIT ini disebut ''Trauma 2016''. Penyakit itulah yang sekarang melanda pendukung Partai Demokrat Amerika Serikat. Waktu itu jelas, semua survei mengunggulkan Hillary Clinton. Dan itu...

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan perubahan pola latihan untuk menyongsong...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...