33 C
Semarang
Selasa, 11 Agustus 2020

Sempat Angon Meri hingga Buka Warteg

 Mohamad Faojin, Ketua Pergunu Jateng

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

BERPAKAIAN PRAMUKA : Mohamad Faojin bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di sebuah acara. (Dokumen pribadi)
BERPAKAIAN PRAMUKA : Mohamad Faojin bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di sebuah acara. (Dokumen pribadi)

Sosok sederhana itu bernama Mohamad Faojin. Pria kelahiran Pemalang, 21 Mei 1971 ini kenyang akan pengalaman hidup. Meski sederhana, tetapi menginspirasi banyak orang di sekitarnya.

RADARSEMARANG.COMDIA menyadari betul berasal dari desa dengan keluarga pas-pasan. Tetapi ia mempunyai niat untuk hidup di kota yang tentunya harus punya trik dan semangat luar biasa. Hal itu agar bisa berkembang dan hidup di tengah kehidupan kota.

“Saya yakin ikan di lautan dan malaikat mendoakan orang-orang yang memiliki tekad belajar atau mencari ilmu. Saya yakin jalan menggapai cita-cita terbuka lebar,” kata Faojin saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

Ia mengaku mengalami masa sulit. Sewaktu kelas dua PGA (setingkat SMA), ibunda yang dicintai pergi untuk selamanya. Tetapi Tuhan memberikan jalan dengan caranya. “Saya mendapatkan beasiswa untuk meneruskan pendidikan. Tetapi waktu itu uang beasiswa tidak langsung saya gunakan untuk kuliah. Melainkan untuk mengembangkan bisnis ternak ayam dan bebek, dengan modal awal Rp 150 ribu,” ungkapnya.

Bahkan teman seangkatan sempat mencibir “Mosok lulusan PGA cuma angon meri (anak bebek, Red). Bahkan itu terngiang betul hingga sekarang. Justru cibiran itu menjadi pemicu yang luar biasa. Bahwa saya yakin kalau sekarang angon meri, besok saya berharap bisa angon manusia yang memiliki meri. Sehingga meri-meri itu semakin banyak saya kumpulkan untuk membiayai kuliah,” katanya.

Setelah sempat mandek tidak kuliah, akhirnya pada tahun berikutnya, ia masuk kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang (sekarang UIN). “Tetapi pendaftaran itu melalui jalur tes lagi (bukan beasiswa). Saya masuk di Fakultas Tarbiyah (pendidikan). Satu tahun berikutnya, ternyata modal yang saya kumpulkan itu menipis untuk biaya hidup dan kuliah,” katanya.

Ia harus berpikir agar bagaimana caranya bisa bertahan. Akhirnya, ia meminya izin kepada orang tua untuk kuliah sembari bekerja. “Tetapi orang tua saya waktu itu tidak mengizinkan. Kuliah kok bekerja? Kan masih belajar. Tidak boleh. Uang persediaan semakin habis,” katanya.

Dia kembali meminta izin untuk kedua kalinya agar bisa kuliah sambil bekerja. “Kali ini saya menggunakan bahasa sama dengan saya tambahi alasan lain. Pak, saya mau izin kuliah sambil bekerja. Alasan saya bekerja, berdagang, adalah juga belajar. Belajar mencari uang, belajar mandiri, menghargai orang, akhirnya orang tua mengizinkan. Akhirnya saya memutuskan untuk berdagang, jualan kaus di Semarang,” katanya.

Ia mengaku mendapat ilmu berbisnis dari seorang teman dari Jakarta, bernama Junaedi. “Saya kulakan kaus daleman dari Jakarta, kemudian saya jual di Semarang. Jualan saya lakukan Sabtu dan Minggu. Sehingga tidak mengganggu kuliah. Alhamdulillah, uang hasil jualan kaus itu bisa untuk hidup selama 1 minggu. Ini latihan untuk mandiri,” katanya.

Tidak hanya beraktivitas berjualan, ia tidak mau kehilangan belajar ilmu lain. Maka ia juga tetap ikut aktif di organisasi. Baik organisasi intra maupun ekstra kampus. “Dalam sebulan bisa tiga empat kali ambil kaus di Jakarta. Kemudian saya jual di berbagai tempat. Bahkan setelah berkembang, saya bisa ajak enam teman untuk membantu jualan kaus. Terutama teman yang sama-sama mengalami keterbatan dalam hal ekonomi. Sehingga itu juga bagian menolong orang lain,” katanya.

Aktivitas berjualan kaus tersebut membuatnya semakin menemukan pandangan bahwa ternyata setiap orang bisa berpeluang untuk bisa mandiri. Tidak puas di situ, jiwa bisnisnya mulai berkembang. Maka ia berusaha menemukan ide lain. “Saat itu saya membuka Warteg (Warung Tegal) di daerah Tugurejo Semarang. Saya kebetulan punya dua adik, putra dan putri, kemudian adik saya membantu jualan di Warteg itu,” katanya.

Dari bisnis warteg tersebut, juga mampu membantu adik-adiknya untuk membiayai kuliah hingga lulus. Ia sendiri setelah lulus kuliah diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Adik saya yang laki-laki juga diterima sebagai PNS. Sedangkan yang putri mengembangkan bisnis wirausaha,” katanya.

Apa yang menjadi kunci keberhasilan? Ia mengaku yakin, hal pertama kali yang sangat berpengaruh dalam setiap usaha adalah izin atau ridho dari orang tua. “Ridho orang tua akan membuka jalan dalam mencari sebuah harapan. Kedua, ketika kita membuka peluang rizki kepada orang lain, ternyata Allah akan membuka lebih lebar peluang rizki bagi kita. Itu terbukti,” katanya.

Di dunia kerja pun, ia tetap aktif berorganisasi. Salah satunya di organisasi LP Maarif dan lain-lain. Saat ini, ia dipercaya mengemban tugas sebagai Ketua Persatuan Guru Nahdhatul Ulama (Pergunu) Jateng yang membawahi guru, ustad-ustadzah, dosen, dan lain-lain. “Kami menggerakkan organisasi NU ini dari seluruh cabang wilayah di Jawa Tengah,” katanya. (amu/ric)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Bodi Bus ‘Disembelih’ Hingga Jadi Media Iklan Berjalan

RADARSEMARANG.COM - BUS Minas atau Nasima dulu penguasa jalanan. Pada 2000-an, tak sulit menemukan bus warna putih-merah  ini. Namun kini, dari 200 lebih armada...

Libur Lama, Sekolah Perketat Penjagaan

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG –Wali Kota Magelang Sigit Widyonindito mengimbau kepada pengelola sekolah agar memperketat penjagaan di lingkungan lembaga pendidikannya. Menurutnya, ini upaya mencegah timbulnya kerugian...

Jalan Pawiyatan Luhur Dilebarkan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Jalan Pawiyatan Luhur, Kelurahan Bendan Dhuwur, Kecamatan Gajahmungkur diperbaiki oleh Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang, Selasa (27/2). Jalan tersebut akan...

Berbuka Puasa Bersama Muslim Indonesia di Masjid Makau

Masjid satu-satunya di Makau hangat, terbuka, dan menjadi jujukan bagi pekerja Indonesia yang belum punya gambaran akan melakukan apa di sana. Pekan lalu wartawan...

50 Perusahaan Ambil Bagian

RADARSEMARANG.COM, SALATIGA - Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) melalui Satya Wacana Career & Alumni Center (SWCA) kembali menggelar Job Fair, Kamis dan Jumat besok...

Targetkan Salurkan Kredit Rp 350 M

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG - Kantor Pegadaian Cabang Karangturi tahun 2018 menargetkan penyaluran kredit Rp 350 miliar. Hampir 90 persen untuk Kredit Cepat Aman (KCA) dan...