32 C
Semarang
Selasa, 22 Juni 2021

Tuntutan Guru Kewirausahaan di Generasi Gawai

RADARSEMARANG.COM – MATA pelajaran kewirausahaan yang selama ini dilaksanakan di SMK belum banyak dirasakan manfaatnya oleh siswa. Terbukti belum banyak lulusannya yang berani bersaing di bidang wirausaha. Mata pelajaran ini masih terpisah dengan mata pelajaran produktif yang menjadi rohnya dunia SMK. Dengan durasi waktu hanya 2 jam pelajaran per minggunya, membuat guru tidak dapat secara leluasa melakukan kegiatan praktik wirausaha yang mendekati dunia wirausaha di masyarakat. Pembelajaran yang lebih didominasi dengan kegiatan transfer knowledge, membuat siswa hanya terkungkung pada rutinitas hapalan teoretis semata.

Di dalam kurikulum 2013 terjadi perubahan. Materi tidak hanya kewirausahaan, namun sudah bertambah dengan prakarya. Lagi-lagi pelajaran ini belum banyak dirasakan manfaatnya oleh siswa, karena materi prakarya yang  tertuang di dalam kurikulum masih bersifat umum belum menyentuh secara khusus yang berhubungan dengan pelajaran produktif sesuai dengan karakteristik jurusan di SMK. Bagaimana akan dirasakan oleh siswa animasi ketika materi prakaryanya adalah membuat masakan? Terus apa hubungannya antara animasi dengan masakan?

Angin segar bagi dunia SMK ketika diluncurkan kurikulum revisi 2017. Mata pelajaran kewirausahaan masuk ke  dalam kelompok produktif. Ini artinya, sekolah dituntut mampu meramu kurikulum kewirausahaan yang lebih dekat dengan jurusan di SMK. Realisasinya tidak segampang membalikkan telapak tangan, karena sekolah harus memikirkan guru-guru kewirausahaan yang sudah terbiasa dengan pola-pola lama yang masih mengajarkan teoretis. Di sinilah peran sekolah untuk membuka dan mengubah paradigma baru bagi guru-guru tersebut untuk terus mengembangkan kompetensinya dan mampu menyesuaikan dengan perkembangan SMK di generasi gawai ini.

Tuntutan guru kewirausahaan saat ini harus mampu kerja kolaboratif. Artinya, dituntut untuk bekerjasama dengan guru produktif. Sehingga materinya selaras dan seirama dengan pelajaran produktif yang dipelajari di jurusan. Contohnya, ketika pelajaran simulasi digital dipelajari oleh siswa jurusan grafika, kewirausahaan hendaknya mampu mendukung bagaimana proses pemasaran dari produk-produk siswa tersebut.

Di generasi gawai ini, pemasaran sudah melalui proses digital, sehingga dibutuhkan guru-guru kewirausahaan yang literat terhadap teknologi informasi. Tantangan yang berat bagi guru kewirausahaan untuk mengikuti perkembangan ini, ketika mereka masih terkungkung dengan dunia masa lalunya, tidak mau berubah dan stagnan.

Kemampuan membaca peluang usaha adalah tuntutan berikutnya sebagai guru kewirausahaan. Bagaimana guru akan mencontohkan hal-hal yang berkaitan dengan kewirausahaan, manakala dirinya tidak menerapkan ilmunya sebagai wirausaha. Bagaimana guru akan mengajarkan mengambil peluang usaha, sedangkan pengalaman tentang hal itu tidak diperolehnya dari sebuah pengalaman.  Ini merupakan tantangan terberat, apalagi keberadaan guru sudah berada pada zona nyaman, akan enggan mengembangkan potensinya untuk terus berkarya, mengembangkan ilmu kewirausahaan dari berbagai pengalaman.

Solusi yang terbaik bagi guru kewirausahaan agar menjadi lebih profesional di bidangnya pada generasi saat ini  tak lain adalah harus memiliki keberanian untuk out of the box dari dunia lama dan menyesuaikan perkembangan saat ini, memiliki kemampuan kolaboratif dengan guru produktif SMK, harus mampu mengembangkan dan menyajikan materi yang tidak sekadar teoritis, namun membantu siswa memperoleh pengalaman nyata di bidang kewirausahaan sesuai dengan jurusan yang diampunya. Semoga berani mewujudkannya. (tj3/2/aro)

Guru Kewirausahaan SMK Negeri 11 Semarang       

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here