Sempat Angon Meri hingga Buka Warteg

  • Bagikan
SEKELUARGA : Faojin bersama istri, Syafiatun dan anak-anaknya, M. Chabib Fazal Jinan, M. Naufal Mazidan, dan M. Ega Emy Fikar (Dokumen pribadi)
SEKELUARGA : Faojin bersama istri, Syafiatun dan anak-anaknya, M. Chabib Fazal Jinan, M. Naufal Mazidan, dan M. Ega Emy Fikar (Dokumen pribadi)
BERPAKAIAN PRAMUKA : Mohamad Faojin bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di sebuah acara. (Dokumen pribadi)
BERPAKAIAN PRAMUKA : Mohamad Faojin bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di sebuah acara. (Dokumen pribadi)

Sosok sederhana itu bernama Mohamad Faojin. Pria kelahiran Pemalang, 21 Mei 1971 ini kenyang akan pengalaman hidup. Meski sederhana, tetapi menginspirasi banyak orang di sekitarnya.

RADARSEMARANG.COMDIA menyadari betul berasal dari desa dengan keluarga pas-pasan. Tetapi ia mempunyai niat untuk hidup di kota yang tentunya harus punya trik dan semangat luar biasa. Hal itu agar bisa berkembang dan hidup di tengah kehidupan kota.

“Saya yakin ikan di lautan dan malaikat mendoakan orang-orang yang memiliki tekad belajar atau mencari ilmu. Saya yakin jalan menggapai cita-cita terbuka lebar,” kata Faojin saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

Ia mengaku mengalami masa sulit. Sewaktu kelas dua PGA (setingkat SMA), ibunda yang dicintai pergi untuk selamanya. Tetapi Tuhan memberikan jalan dengan caranya. “Saya mendapatkan beasiswa untuk meneruskan pendidikan. Tetapi waktu itu uang beasiswa tidak langsung saya gunakan untuk kuliah. Melainkan untuk mengembangkan bisnis ternak ayam dan bebek, dengan modal awal Rp 150 ribu,” ungkapnya.

Bahkan teman seangkatan sempat mencibir “Mosok lulusan PGA cuma angon meri (anak bebek, Red). Bahkan itu terngiang betul hingga sekarang. Justru cibiran itu menjadi pemicu yang luar biasa. Bahwa saya yakin kalau sekarang angon meri, besok saya berharap bisa angon manusia yang memiliki meri. Sehingga meri-meri itu semakin banyak saya kumpulkan untuk membiayai kuliah,” katanya.

Setelah sempat mandek tidak kuliah, akhirnya pada tahun berikutnya, ia masuk kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo Semarang (sekarang UIN). “Tetapi pendaftaran itu melalui jalur tes lagi (bukan beasiswa). Saya masuk di Fakultas Tarbiyah (pendidikan). Satu tahun berikutnya, ternyata modal yang saya kumpulkan itu menipis untuk biaya hidup dan kuliah,” katanya.

Ia harus berpikir agar bagaimana caranya bisa bertahan. Akhirnya, ia meminya izin kepada orang tua untuk kuliah sembari bekerja. “Tetapi orang tua saya waktu itu tidak mengizinkan. Kuliah kok bekerja? Kan masih belajar. Tidak boleh. Uang persediaan semakin habis,” katanya.

Dia kembali meminta izin untuk kedua kalinya agar bisa kuliah sambil bekerja. “Kali ini saya menggunakan bahasa sama dengan saya tambahi alasan lain. Pak, saya mau izin kuliah sambil bekerja. Alasan saya bekerja, berdagang, adalah juga belajar. Belajar mencari uang, belajar mandiri, menghargai orang, akhirnya orang tua mengizinkan. Akhirnya saya memutuskan untuk berdagang, jualan kaus di Semarang,” katanya.

Ia mengaku mendapat ilmu berbisnis dari seorang teman dari Jakarta, bernama Junaedi. “Saya kulakan kaus daleman dari Jakarta, kemudian saya jual di Semarang. Jualan saya lakukan Sabtu dan Minggu. Sehingga tidak mengganggu kuliah. Alhamdulillah, uang hasil jualan kaus itu bisa untuk hidup selama 1 minggu. Ini latihan untuk mandiri,” katanya.

Tidak hanya beraktivitas berjualan, ia tidak mau kehilangan belajar ilmu lain. Maka ia juga tetap ikut aktif di organisasi. Baik organisasi intra maupun ekstra kampus. “Dalam sebulan bisa tiga empat kali ambil kaus di Jakarta. Kemudian saya jual di berbagai tempat. Bahkan setelah berkembang, saya bisa ajak enam teman untuk membantu jualan kaus. Terutama teman yang sama-sama mengalami keterbatan dalam hal ekonomi. Sehingga itu juga bagian menolong orang lain,” katanya.

Aktivitas berjualan kaus tersebut membuatnya semakin menemukan pandangan bahwa ternyata setiap orang bisa berpeluang untuk bisa mandiri. Tidak puas di situ, jiwa bisnisnya mulai berkembang. Maka ia berusaha menemukan ide lain. “Saat itu saya membuka Warteg (Warung Tegal) di daerah Tugurejo Semarang. Saya kebetulan punya dua adik, putra dan putri, kemudian adik saya membantu jualan di Warteg itu,” katanya.

Dari bisnis warteg tersebut, juga mampu membantu adik-adiknya untuk membiayai kuliah hingga lulus. Ia sendiri setelah lulus kuliah diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Adik saya yang laki-laki juga diterima sebagai PNS. Sedangkan yang putri mengembangkan bisnis wirausaha,” katanya.

Apa yang menjadi kunci keberhasilan? Ia mengaku yakin, hal pertama kali yang sangat berpengaruh dalam setiap usaha adalah izin atau ridho dari orang tua. “Ridho orang tua akan membuka jalan dalam mencari sebuah harapan. Kedua, ketika kita membuka peluang rizki kepada orang lain, ternyata Allah akan membuka lebih lebar peluang rizki bagi kita. Itu terbukti,” katanya.

Di dunia kerja pun, ia tetap aktif berorganisasi. Salah satunya di organisasi LP Maarif dan lain-lain. Saat ini, ia dipercaya mengemban tugas sebagai Ketua Persatuan Guru Nahdhatul Ulama (Pergunu) Jateng yang membawahi guru, ustad-ustadzah, dosen, dan lain-lain. “Kami menggerakkan organisasi NU ini dari seluruh cabang wilayah di Jawa Tengah,” katanya. (amu/ric)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *