33 C
Semarang
Senin, 6 Juli 2020

Tradisi Nyadran Sebagai Simbol Kerukunan

Another

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri:...

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Tradisi nyadran di Desa Kalongan Kecamatan Ungaran Timur hingga kini masih terus terjaga. Hal tersebut nampak dalam perayaan sadranan yang dilaksanakan Jumat (13/4). Tradisi tahunan tersebut berlangsung sederhana.

Kepala Desa Kalongan, Yarmuji mengungkapkan tradisi Sadranan sebagai simbol kerukunan masyarakat desa setempat. “Tradisi Sadranan di desa Kalongan berlangsung setiap Jumat Pon pada bulan Rajab, atau satu bulan sebelum datangnya bulan Ramadan,” kata Yarmuji.

Menurutnya, tradisi sadran merupakan salah satu media efektif untuk warga dapat berkumpul dan bersilaturahmi. “Karena yang biasanya malas kumpulan pun, kalau nyadran pasti datang hadir. Yang mangkel-mengkel pun akhirnya ketemu di sini, makan bareng berdoa bareng,” katanya.

Meski sederhana, namun pelaksanaan tradisi tersebut cukup khidmat. Ratusan warga tumpah ruah dalam kegiatan yang dipusatkan di pemakaman umum desa setempat. Semua usia, baik tua muda, laki-laki dan perempuan berkumpul di pemakaman umum desa. “Sehari sebelum nyadran, warga sudah bergotong-royong membersihkan lahan di sekitar area makam untuk pelaksanaan acara ini,” katanya.

Setiap keluarga yang datang membawa makanan berupa nasi dan aneka jajanan. Selain itu mereka membawa makanan berupa lauk pauk serta ayam panggang. Selain makanan, warga juga membawa bunga untuk keperluan nyekar dan uang sedekah yang dikumpulkan untuk menyiapkan ubo rampe dan biaya pemeliharaan makam.“Masakan khasnya adalah setiap orang membawa ayam panggang satu ekor utuh,” ujarnya.

Menurut Yarmuji, tradisi nyadran ini selain efektif sebagai media silaturahmi, juga ada keyakinan yang mendasari warga desa ini tetap setia melestarikan tradisi ini. Antara lain adanya keyakinan tidak akan mendapatkan berkah hidup, baik warga yang berprofesi sebagai petani atau pekerjaan lainnya selama satu tahun mendatang, jika tidak datang dalam acara nyadran.

Tradisi sadran diawali dengan berdoa di makam leluhur, sambutan Kepala Desa, tausiah tokoh agama, tahlil dan diakhiri makan bersama. Suasana kebersamaan antar warga ini terlihat sekali saat warga makan bersama. Mereka duduk berjajar salaing berhadapan membuat barisan memanjang. “Tadi pas sambutan kami sampaikan bahwa tradisi ini bisa menjadi salah satu modal Desa Kalongan untuk menjadi desa wisata berbasis eko wisata dan budaya,” tuturnya. (ewb/bas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Menang 100

Inilah gambaran hasil pemilu di Singapura Jumat depan: partai penguasa, PAP, akan menang 100 persen. Itulah memang tujuan pemerintah mendadak...

Tanpa Riba

Tamu saya kemarin empat kelompok. Para pengusaha restoran mengajak bicara soal bagaimana membangkitkan bisnis mereka yang koma. Para pengusaha anti riba menyerahkan buku merah keyakinan mereka:...

Marah Besar

Berita besar minggu ini adalah tentang marah besar. Yang marah seorang presiden: Pak Jokowi. Yang dimarahi anak buahnya sendiri: para menteri dan kepala lembaga...

Mystic Janine

Pembaca Disway-lah yang minta saya menulis ini: penyanyi Jamaika lagi ter-lockdown di Bali. Tentu saya tidak menulis tentang musik reggae-nya Jamaika --saya tidak ahli musik. Saya hanya...

Tanpa Pemerintahan

Maka lahirlah wilayah baru ini. Tanpa pemerintahan. Di Amerika Serikat. Tepatnya di kota Seattle, di negara bagian Washington. Wilayah baru itu diproklamasikan tanggal 8 Juni...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Harga Beras di Atas HET

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Harga beras di pasar-pasar tradisional Kota Magelang masih di atas harge eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Pemkot Magelang bersama Perum...

Ajak Pelajar Daftar Bintara

WONOSOBO –Polres Wonosobo menggelar Police Expo dengan tema Clear and Clean di Alun-Alun Wonosobo, Minggu (9/4). Kegiatan ini untuk mengenalkan lebih dekat tentang kinerja...

Diplomasi Gayeng Ala Ganjar, Dekatkan Warga

SEMARANG-Jateng Gayeng adalah branding Jawa Tengah yang diluncurkan Gubernur Ganjar Pranowo pada 23 Agustus 2015. Lewat tagline yang diluncurkan pada ulang tahun kepemimpinan Ganjar...

Papes Minta Jatah Wisatawan Manca

SEMARANG - Paguyuban Angkutan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang (Papes) mengeluhkan pengangkutan penumpang mancanegara yang dikuasai Biro Perjalanan Wisata (BPW). Menurut Ketua Papes Kornen, selama ini...

Terekam, Pencuri Motor di Pesantren Diringkus

WONOSOBO – Merasa berhasil dalam aksinya yang pertama mencuri motor di Pondok Pesantren Al Assyariah Kalibeber, Sunarto, 48, warga Kalikajar, Wonosobo kembali berulah. Kali...

Kades Terpaksa Utang

TEMANGGUNG–Pembangunan fisik di sejumlah desa di Kabupaten Temanggung mandek, karena  dana desa tahap dua sebesar 40 persen, tak kunjung cair. Sebagian desa terpaksa berhutang...