31 C
Semarang
Kamis, 13 Mei 2021

Pembinaan Karakter Kerja Industri dalam Pembelajaran Praktik Kejuruan

RADARSEMARANG.COM – DALAM sebuah kesempatan, Menteri Pendidikan ketika itu, Anis Baswedan, menjelaskan komponen yang mendasari pendidikan abad 21 adalah karakter. Pendidikan tanpa karakter akan berat. Untuk itu, pendidikan karakter menjadi upaya pemerintah dalam menyiapkan lulusan SMK agar bersaing dalam dunia kerja.

Di dunia industri, karakter kinerja menjadi modal utama agar dapat bekerja dengan baik dan bersaing. Sebagian dunia industri masih menganggap bahwa lulusan SMK belum siap kerja (baru siap latih). Akibatnya, angka keterserapan lulusan SMK di dunia industri masih rendah. Penyebabnya, ketersediaan lapangan kerja belum sesuai dengan jumlah lulusan yang dihasilkan. Juga rendahnya kualitas lulusan, baik soft skill dan hard skill.

“Ke depan, kita tidak tahu lapangan pekerjaan masih terbuka lebar apa tidak. Untuk itu, SMK juga harus menyiapkan bekal wirausaha pada siswa agar dapat membuat lapangan kerja. Sehingga pengangguran di negeri ini akan berkurang,” kata Anies yang sekarang menjadi orang nomor satu di Pemda DKI Jakarta.

Ketidaksiapan lulusan SMK dalam bekerja, dipengaruhi oleh kurang optimalnya proses pembelajaran yang berwawasan dunia industri. Kebiasaan belajar-mengajar di sekolah, terkonsep dunia sekolah. Artinya, jauh dari kebiasaan dunia industri. Pembelajaran kurang memahami pasar, mutu, perkembangan teknologi, dan persaingan. Contohnya, hasil praktik dibiarkan tanpa standar mutu. Alat yang sudah tua/tidak standar masih dipakai. Juga siswa bekerja tanpa lembar kerja / job sheet, dll.

Ketika praktik, siswa kerap melakukannya dengan santai, kurang menghargai waktu, mengeluh ketika dibebani target, dan kurang mandiri. Untuk itu, perlu pengawasan intensif. Ini berbeda sekali dengan budaya kerja di industri yang mengutamakan target produk, waktu, serta persaingan. Yang terjadi, siswa kurang bersemangat belajar, karena tidak ada tantangan dan target waktu yang harus dicapai.

Maka, pembelajaran yang seharusnya dilakukan guru adalah pembelajaran yang berpijak pada potensi dan karakter siswa. Bahan ajar dan media pembelajaran musti disesuaikan perkembangan teknologi. Juga yang relevan dengan dunia kerja. Serta, pendekatan pembelajaran yang berorientasi pada karakter kerja dunia industri.

Pembinaan karakter kerja berbasis industri dapat digunakan pada pembelajaran praktik kejuruan. Guru berperan sebagai supervisor dan quality control selama proses pembelajaran sampai penilaian produk, dengan standar waktu. Tahapan pembelajaran diawali dengan eksplorasi nilai karakter kerja yang akan dikembangkan. Siswa diminta mengidentifikasi nilai karakter yang harus dijalankan. Sehingga siswa menjadi sadar untuk melaksanakan dalam kegiatan praktik.

Tahapan selanjutnya adalah pembentukan kelompok. Guru berperan sebagai fasilitator dan membagi job kerja. Per kelompok membuat perencanaan job kerja/work sheet, mulai langkah kerja, alat dan bahan, K3, prediksi waktu, perhitungan, dan lain-lain. Karakter yang dikembangkan adalah rasa toleransi dan kerja sama dalam sebuah tim.

Kemudian, siswa melaksanakan praktik dengan berpedoman pada job kerja yang dibuat. Nilai karakter kerja diintegrasikan dalam proses kerja siswa. Peran guru dalam kegiatan praktik adalah mengamati nilai karakter kerja siswa, membimbing dan mengarahkan kegiatan praktik dengan menggunakan lembar observasi.

Setelah kegiatan praktik, siswa mengkomunikasikan dengan presentasi atau membuat laporan/portofolio. Sehingga siswa memaknai dan menghargai karakter kerja yang telah dilaksanakan. Tahapan terakhir adalah penilaian. Meliputi penilaian proses kerja, kualitas produk, ketepatan waktu, dan pengamatan aspek karakter kerja. Harapannya, dengan pembinaan karakter kerja berbasis industri, maka pembelajaran praktik kejuruan berjalan efektif. Juga efisien, sehingga mampu meningkatkan prestasi belajar siswa. Semoga. (*/isk)

Guru SMK Negeri 1 Salam, Kab. Magelang

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here