Meningkatkan Nilai Kemanusiaan Melalui PMR

spot_img

RADARSEMARANG.COM – SIAPA tak kenal PMR, Palang Merah Remaja? Organisasi yang mengenalkan tentang kesehatan secara sederhana di tingkat sekolah. PMR merupakan kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) di sekolah dan diikuti oleh siswa-siswi yang memiliki jiwa penolong.

Keberadaan PMR diwajibkan di setiap sekolah. Meski tidak dipungkiri, tidak semua siswa mempunyai jiwa penolong dan ringan tangan membantu sesama, ketika menghadapi temannya yang sakit, pingsan, atau mengalami problem yang berhubungan dengan kesehatan ketika berada di sekolah.

Terkait ekskul, Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2014 tentang Kegiatan Ekstrakurikuler pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah menyatakan bahwa pengembangan potensi peserta didik sebagaimana dimaksud dalam tujuan pendidikan nasional dapat diwujudkan melalui kegiatan ekstrakurikuler yang merupakan salah satu kegiatan dalam program kurikuler.

Pasal 1 peraturan ini menyampaikan, kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan kurikuler yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler di bawah bimbingan dan pengawasan satuan pendidikan.

Sedangkan pasal 2 menyebutkan bahwa kegiatan ekstrakurikuler diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian peserta didik secara optimal dalam rangka mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional. Maka, berdasarkan Peraturan Menteri tersebut, setiap sekolah wajib menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler. Salah satunya, PMR.

Baca juga:   Media Audio Visual untuk Menulis Teks Cerita Fantasi

Peran anggota PMR di sekolah cukup penting. Mereka bisa membantu temannya secara sukarela ketika si teman mendadak pingsan maupun sakit. Tidak ada paksaan untuk memberikan pertolongan pertama. Anggota PMR membawanya ke UKS dan berusaha menolong temannya.

Banyak kasus siswa di sekolah mendadak pingsan. Kondisi ini bisa jadi siswa sudah sakit dari rumah, belum sarapan, atau mempunyai problem yang mengakibatkan adanya tekanan, sehingga siswa pingsan.

Jika hal itu yang terjadi, suasana pembelajaran menjadi terhenti, karena semua siswa dan guru berusaha untuk memberi pertolongan. Maka, di sinilah peranan anggota PMR di masing-masing kelas, diharapkan trengginas, membantu temannya secara sukarela. Tidak ada paksaan untuk memberi pertolongan pertama, dengan membawanya ke UKS dan berusaha menyadarkannya.

Kasus lain yang terjadi, biasanya pada saat pembelajaran di lahan—utamanya pada sekolah kejuruan—siswa dituntut terampil menggunakan peralatan di setiap kejuruan. Ada saja kecelakaan kerja yang terjadi, karena ketidakseriusan siswa mengikuti petunjuk guru. Sekali lagi, peran anggota PMR sangat dibutuhkan untuk menolong siswa memberi pertolongan pertama. Tentu saja bersama guru yang berada di UKS, sebelum dibawa ke rumah sakit terdekat.

Baca juga:   Fasih Berbahasa Inggris Lewat Debat

Yang tidak kalah penting, mereka yang menjadi pengampu ekstra PMR, harus sudah mengantongi sertifikat pelatih atau sudah pernah mengikuti pelatihan sebagai pembina PMR. Karena apa yang diajarkan oleh pelatih kepada siswa, harus sudah sesuai dengan kurikulum yang sudah diterapkan.

Selain mempelajari tentang pertolongan pertama, donor darah, keperawatan keluarga , siaga bencana, siswa juga dibiasakan untuk hidup sehat di lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, maupun kesehatan pribadi.

Di sekolah, pembiasaan hidup sehat belum dapat dikatakan berhasil 100 persen. Banyak siswa yang masih belum sadar artinya kebersihan dan kesehatan lingkungan di sekolah. Masih tampak sampah dibuang sembarangan, corat-coret di bangku dan tembok, kebersihan WC dan kamar mandi. Dari kader-kader PMR inilah, harapan untuk membiasakan hidup sehat dapat diwujudkan.

Dengan adanya beberapa anggota PMR di sebuah kelas, diharapkan mampu menjadi motor penggerak kebersihan dan budaya hidup sehat. Mengajak teman temannya membudayakan hidup bersih, membuang sampah di tempatnya, serta menjaga kebersihan tembok, meja dan kursi siswa. Juga menjadi orang pertama yang memberikan layanan kesehatan, jika ada teman sakit yang membutuhkan. (*/isk)

Guru SMK N 1 Salam, Kabupaten Magelang

Author

Populer

Lainnya