31 C
Semarang
Sabtu, 15 Mei 2021

Pedagang Keluhkan Tempat Relokasi MAJT Belum Siap

Hari Ini Listrik Pasar Yaik Baru Diputus

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Raut wajah, Sudarmin, 50, tampak lelah. Ia tahu persis, Rabu (11/4) kemarin, menjadi hari terakhir ia berjualan di Pasar Yaik Baru. Sebab, Kamis (12/5) hari ini, adalah batas akhir pedagang Pasar Yaik Baru harus mengosongkan semua lapak, toko, maupun kios. “Ini hari terakhir, besok (hari ini) semua listrik dimatikan, diputus. Hari ini sebagian sudah dimatikan,” kata Sudarmin, pedagang es campur di Pasar Yaik Baru.

Dikatakannya, para pedagang dulu sempat menolak direlokasi kalau tidak dipenuhi sejumlah tuntutannya. Namun sekarang ini mau tidak mau harus pindah. “Ya, harus bagaimana lagi, semua harus pindah ke MAJT (Masjid Agung Jawa Tengah),” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sejumlah tuntutan pedagang di antaranya dibukanya akses Jalan Jolotundo dan kondisi jalan menuju lokasi pasar diperbaiki, kata dia, belum sepenuhnya ditepati oleh pemkot.  “Jalan masuk belum diperbaiki, tempat relokasi di MAJT hingga saat ini belum memadahi. Bilangnya nanti, nanti, lha terus sampai kapan? Seharusnya kalau janji ya ditepati, dibuktikan dulu, maka pedagang tidak ada masalah,” katanya.

Meskipun pedagang sudah menerima untuk dipindah, tetapi tempat relokasi MAJT masih banyak kendala. “Jaringan listrik di kios dan lapak belum ada, penerangan jalan belum ada, akses jalan tembus Jolotundo juga belum selesai. Termasuk angkutan belum ada. Hal yang sangat penting, kebutuhan air juga belum ada. Ini nanti bagaimana kalau sumur saja tidak ada. WC sudah ada, tapi belum ada airnya,” keluhnya.

Selain itu, proses pindah dari Pasar Yaik Baru ke tempat relokasi MAJT telah dihitung membutuhkan sedikitnya biaya Rp 6,2 juta untuk biaya penyekatan dan pemasangan rolling door. “Rolling door dari sini dilepas dan dibawa untuk dipasang di sana. Ukuran di sana 2×3 meter persegi dalam kondisi blong-blongan,” katanya.

Dengan masih banyaknya fasilitas yang belum siap tersebut, ia memperkirakan membutuhkan waktu cukup lama untuk melengkapinya. “Lebih dari sebulan itu. Otomatis, selama satu bulan tidak bisa berjualan. Tapi saya berharap pemerintah segera melengkapi fasilitas penting di sana agar para pedagang bisa segera berjualan,” harapnya.

Ketua Kelompok Pedagang Sabar Menanti Pasar Yaik Baru, Robert, mengaku  tidak ingin lama-lama berjualan di tempat relokasi MAJT. Karena itu, ia meminta agar pemerintah segera membangun Pasar Yaik Baru setelah mereka pindah. ”Jangan sampai seperti pembangunan di Kanjengan dan Cagar Budaya Pasar Johar yang aktivitasnya terhenti. Kami tidak ingin lama-lama di tempat relokasi,” ujar Robert.

Ia juga meminta agar akses pasar relokasi MAJT diperhatikan. Robert mendesak pemkot segera menyelesaikan jalan yang belum dipaving, termasuk talang bocor.

Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang, Fajar Purwoto, menjelaskan, terdapat sekitar 700 pedagang yang akan pindah ke tempat relokasi MAJT tahap dua. Hingga saat ini, proses relokasi sudah mencapai 97 persen. ”Dari ketua paguyuban PPJP dan PPJ, mereka ingin Pasar Johar Baru terwujud. Sehingga saat ini mereka secara legawa mau direlokasi,” ujar Fajar.

Fajar menambahkan, pihaknya juga akan menertibkan PKL yang ada di depan Matahari Jalan KH Agus Salim. Hal ini dilakukan agar tidak muncul kecemburuan antar pedagang.  Dinas Perdagangan akan bertindak tegas. PKL yang tidak mau pindah, akan dicabut izinnya.  ”Semua yang ada di depan Matahari akan ditertibkan Minggu depan, Selasa atau Rabu,” tandasnya. (amu/sga/aro)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here