Saatnya Menjadi Guru Penulis

spot_img

RADARSEMARANG.COM – CITA-cita menjadi guru penulis? Bukan mustahil bagi seorang guru untuk dapat menuangkan ide/gagasan dalam tugasnya mencerdaskan peserta didik ke bentuk tulisan. Contoh mudahnya, sehari-hari, biasanya seorang guru hanya membawa literatur seadanya. Atau, dengan mudah dan tanpa pikir panjang, menggunakan gawainya untuk membuka “mbah Google” untuk mencari data, soal-soal latihan, beserta contohnya. Lantas, siswa diminta mengerjakan soal tersebut.

Tanpa disadari, seorang guru telah memberi contoh kepada siswanya; bahwa jika nanti ada soal yang diberikan guru tersebut, maka secara otomatis pun, siswa akan melakukan hal yang sama. Yakni, mereka akan membuka HP android yang tak kalah canggihnya pula.

Dan, yang terjadi adalah sebuah pertengkaran kecil. Bahkan, bisa menjadi bumerang bagi guru itu sendiri. Seperti berita beberapa waktu lalu, gara-gara guru melarang siswa memakai HP dengan cara mencubit, yang terjadi si guru justru dipenjara. Penyebabnya, karena orang tua siswa tersebut tidak terima dan melapor kepada polisi. Sungguh Ironis!

Berbeda dengan seorang guru yang memberi contoh baik. Semisal, mempunyai tulisan sendiri dan ditunjukkan kepada siswanya. Ini pasti akan menjadi motivasi tersendiri untuk mengerjakan sendiri soal-soal yang diberikan dengan penuh tanggung jawab. Hasil prestasi, jauh lebih baik dibanding dengan membaca tulisan yang bukan dari guru tersebut.

Baca juga:   Uji Sertifikasi Kompetensi LSP P1 SMK 

Lalu, lalu kapankah guru bisa menjadi seorang penulis? Jawabannya adalah sudah saatnya sekarang menjadi guru penulis dan ini merupakan harga mati. Mengapa begitu? Guru zaman now adalah jawaban dari pertanyaan ini. Guru harus melek informasi, up date, kekinian ( meninggalkan gaya konvensional ) kalau tidak ingin termakan oleh zaman dan ditinggal muridnya; apalagi siswa yang dihadapi adalah siswa abad-21 atau ngetrennya “anak zaman now”.

Penulis ternama dan jurnalis The New Yorker Malkom Gladwell pernah menulis tentang formula kemahiran: latihan 10 ribu jam. Setiap orang perlu menjalani latihan 10 ribu jam, untuk menjadi maestro di bidang apa pun yang ditekuninya.

Perhitungan secara matematis, apabila saat ini adalah awal bulan tahun pertama seorang guru mulai menulis dengan rata-rata sehari 1 jam, maka seorang guru dapat menulis sebulan 30 jam, setahun 3.600 jam, 3 tahun 10.800 jam atau sudah dapat dikatakan mahir. Artinya, 3 tahun lagi kita baru mendapat julukan “guru penulis”.

Lebih parah lagi kalau tidak melakukan apa-apa, lalu kapan kita menulis? Jangan sampai terjadi kepada kita sebagai seorang guru yang menjaga profesionalisme. Malu!

Baca juga:   Meningkatkan Aktifitas Belajar PPKn di Masa Pandemi dengan Film Animasi

Ternyata, menulis di media massa mempunyai nilai ganda. Selain dapat mencerdaskan peserta didik, kita juga mendapat poin untuk keperluan kenaikan pangkat. Hal ini sejalan dengan pendapat Asnawi, penulis artikel: Indahnya Berbagi Melalui Tulisan, Anggota Badan Litbang MGMP PAI Provinsi Jateng, sekaligus pemrakarsa Workshop Pelatihan Penulisan Artikel Populer di Media Massa yang diselenggarakan di SMK Kesdam IV Diponegoro Magelang tanggal 7 April 2018 lalu.

Menurut Asnawi, menulis merupakan upaya melestarikan ilmu-ilmu Allah yang bermanfaat bagi generasi yang akan datang merupakan amal saleh. Selain itu, juga sejalan dengan pendapat Rahmat Petuguran, dosen Bahasa Indonesia Unnes dan penulis artikel, sekaligus nara sumber workshop tersebut. Rahmat berpendapat bahwa menulis membutuhkan latihan terprogram, mentalitas yang kuat, menemukan ide, persiapan menulis, informasi baru, tafsir baru, kata popular, kalimat sederhana, dan berusaha pantang menyerah sampai artikel popular berhasil di terbitkan. Mari saatnya menjadi guru penulis!

Guru Matematika SMK Negeri 1 Semarang

Author

Populer

Lainnya