31 C
Semarang
Kamis, 13 Mei 2021

Penyebar Puisi Ganjar Dipolisikan

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Tim kuasa hukum pasangan calon Gubernur- Wakil Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo – Taj Yasin melaporkan pelaku penyebar isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) terkait pembacaan puisi milik Gus Mus oleh Ganjar Pranowo. Laporan dilayangkan ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jateng, Senin (9/3).

Ketika ditemui awak media, Heri Joko Setyo, salah satu lawyer, menjelaskan, ada dua fakta hukum yang berunsur SARA menyerang Ganjar. Yang pertama, dia melaporkan tentang penyebaran dan pemviralan undangan peliputan yang dikeluarkan Rahmat Himran, Ketua Umum Forum Umat Islam Bersatu (FUIB). “Yang pada intinya bermaksud melaporkan Ganjar ke Bareskrim Polri, terkait pembacaan puisi yang dilakukan dalam acara talkshow kandidat Jawa Tengah di Kompas TV dalam Program Rosi,” jelasnya.

Menurutnya, Ketua Umum FUIB menyebutkan bahwa puisi tersebut sangat menyinggung umat Islam dimana terdapat kalimat yang mengandung unsur SARA dan Penistaan Agama. Padahal, puisi merupakan karya cipta dari KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yang diciptakan 1987 silam.

Intelectual Property Right (Hak Kekayaan Intelektual) atas karya puisi berjudul ‘Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana’ tersebut ada pada Gus Mus yang mencipta puisi. Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta menjelaskan makna tersirat dan tersurat secara sepenuhnya yang dapat memahami adalah sang pencipta puisi tersebut bukan siapapun juga, termasuk juga pelapor (Ketua Umum FUIB). “Ganjar Pranowo, yang membaca puisi tersebut, diawal sudah menyebutkan bahwa puisi itu adalah karya dari Kiai Mustofa Bisri, utuh tanpa ada perubahan satu kata pun,” ujarnya.

Heri menambahkan, perbuatan itu dapat dikategorikan diduga melanggar Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Isinya, setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas SARA.

Pernyataan Himran yang ia sebar melalui pesan berantai, menurut Heri merupakan suatu berita atau informasi yang bohomg serta mengandung ujaran kebencian dan ajakan yang mengandung unsur SARA dan dapat menimbulkan permusuhan.

“Ajakan ini berpotensi merusak iklim pilkada Jateng yang damai dan tenteram. Kita melapor agar ada tindakan dari kepolisian menindak pelaku pemecah belah bangsa,” tegasnya.

Fakta hukum kedua adalah fitnah yang melalui youtube yang dilakukan oknum yang mengaku sebagai penegak syariah. “Orang dalam video itu memaki-maki dan mengeluarkan ujaran kotor yang tidak pantas pada Ganjar Pranowo, ngaku orang Penjaringan, Jakarta,” ujarnya. (amh/ric)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here