33 C
Semarang
Rabu, 23 September 2020

Siswa SMP Enggan Berbahasa Jawa Krama

Another

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam...

RADARSEMARANG.COM – AKHIR-akhir ini siswa SMP enggan berbahasa Jawa ragam krama. Dalam berkomunikasi dengan orang tua dan keluarganya di rumah dan di dalam lingkungan pergaulannya, juga dengan bapak dan ibu guru di sekolah,  siswa banyak terbiasa berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa dalam ragam ngoko. Anak tidak menguasai kosa kata ragam krama, karena tidak terbiasa. Ada pepatah mengatakan ‘orang bisa karena biasa’.

Unggah-ungguh basa dalam bahasa Jawa bisa diimplementasikan untuk menanamkan karakter anak didik. Anak akan menghormati orang lain (yang lebih tua) dengan cara berbicara menggunakan ragam basa krama alus. Ragam basa krama digunakan untuk berbicara dengan orang lain yang lebih tua. Hal ini perlu latihan–latihan yang tidak gampang. Bermain peran adalah model yang dapat diterapkan untuk melatih dan membiasakan anak untuk berbicara menggunakan Bahasa Jawa ragam basa krama (krama lugu, atau krama alus). Dalam pemaparan sebuah cerita ada beberapa macam peran yang akan dilakukan oleh anak. Anak akan menggunakan ragam basa ngoko juga ragam basa krama sesuai peranan yang ada dalam cerita.

“Le, kowe mulih sekolah jam pira ? Kula wangsul jam setunggal, Mbah.”, “Pak, kula wau sowan simbah lajeng dipun paringi arta kalih simbah”.

Demikian dicontohnya. Namun ketika di lingkungan kehidupannya, dia mengatakan, “Pak, kula badhe kondur rumiyin”, “Bu, kula nyuwun dhahar”, “Mas, kula ajeng siram”. Dan sebagainya.

Kemudian teman-temanya akan menertawakannya. Hal ini juga akan membuat anak menjadi malu untuk mengulangi menggunakan kata-kata dalam ragam basa krama. Akhirnya ungkapan-ungkapan ini akan banyak kita dengarkan. “Pak, aku bali sik, ya “ , “Mbak, wis madhang gurung ?”, “Ngko arep mangkat jam pira, Mas ?”, “Nek wis ngantuk, kana turu, Lik.” Itu sebagian dari ungkapan-ungkapan yang tidak pas untuk diterapkan dalam kehidupan berbahasa anak. Semestinya ungkapan itu adalah, “Pak, kula wangsul rumiyin, nggih “ , “Mbak, sampun dhahar menapa dereng ?”, “Mangke badhe tindak jam pinten, Mas ?”, “Menawi sampun ngantuk, sumangga sare, Lik.”

Namun demikian ungkapan-ungkapan seperti itu anak kadang jarang menemui. Oleh karena itu, peran pendidikan di sekolah sangatlah berat ketika tidak ada kerja sama dengan orang tua serta saudara-saudara di lingkungan kehidupannya. Kalau hal ini dibiarkan akan membahayakan, karena penanaman karakter unggah-ungguh bisa jadi tidak terwujud. Kalau anak sudah menggunakan Bahasa Jawa ragam ngoko, maka perasaan hormat kepada lawan bicara seakan sudah tidak ada. Berbeda kalau anak menggunakan ragam bahasa krama, maka perasaan hormat kepada lawan bicara itu tetap ada. Ketika rasa hormat kepada lawan bicara sudah tidak ada, tidak mustahil tata krama yang selama ini kita jaga tidak akan terpupuk dan terpelihara.

Apakah tata krama unggah-ungguh itu harus dengan Bahasa Jawa ragam krama? Jawabannya jelas tidak. Karena letak penghormatan seseorang terletak pada penyebutan jenis kata kerja dan nama anggota badan bagi orang yang dihormati, dengan kosa kata tembung krama inggil. Namun demikian nuansa rasa hormat akan muncul ketika seseorang menggunakan Bahasa Jawa ragam krama.

Lantas bagaimana agar ragam krama ini tetap digunakan untuk menanamkan tata krama kepada siswa, kita sebagai pendidik dan orang tua selalu memberi contoh dan arahan agar siswa sering mendengar dan meniru serta menggunakan Bahasa Jawa ragam krama. Kita juga tetap waspada terhadap segala perilaku anak yang mungkin menyimpang dari tatanan norma, baik norma sosial, agama maupun aturan negara. Nasihat, contoh-contoh perilaku, tata tertib siswa juga harus ditulis yang jelas dan operasional, sehingga siswa dapat memahami dan menerapkan tata tertib itu dengan baik, mudah dan bertanggung jawab. Agar kelak menjadi anak yang berakhlak mulia berbudi pekerti luhur, berkarakter dan berwawasan global. (tj3/1/aro)

Guru SMP Negeri 3 Sukoharjo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Minus 5 Persen

Apa arti minus 5,3 persen –bagi kita? Artinya: kita harus kian siap bahwa hidup akan lebih sulit. Terutama bagi yang...

Angga Yunanda dan Adhisty Zara Berjaya di IMA Awards 2020

JawaPos.com – Ajang pemberian penghargaan untuk insan film tanah air, Indonesian Movie Actors Awards (IMA Awards) 2020, sukses dilaksanakan tadi malam, Minggu (25/7) dari Studio...

Menanti Sinovac

Apa yang akan dilakukan? Setelah vaksin anti-Covid-19 buatan Tiongkok itu tiba di Bandung Senin kemarin? Pertama-tama adalah mencari relawan dalam jumlah besar. Yakni relawan yang...

Risma Andani

Hari ketiga di Surabaya dokter Andani Eka Putra mengajak saya makan di restoran Padang. Rupanya ia sudah bosan dengan makanan hotel. ”Orang Padang ini susah....

Meninggal Olahraga

Tiga bersaudara ini wartawan semua. Yang dua meninggal karena olahraga. Tahun lalu si kakak meninggal saat ikut maraton di Surabaya. Jumat kemarin, giliran Hadi...

More Articles Like This

- Advertisement -

Must Read

Akhir Tahun, LED Jadi Primadona

SEMARANG - Menjelang Natal dan Tahun Baru, permintaan LED terus meningkat. Ini dikarenakan masyarakat tidak ingin ketinggalan dengan momen-momen penting untuk ditonton. Pameran Sharp...

Pertigaan Samban Krodit

RADARSEMARANG.COM, UNGARAN – Tidak adanya kantung parkir menjadi biang kemacetan di wilayah pertigaan Samban Kecamatan Bawen tepatnya disebelah kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Semarang. Kemacetan bertambah...

Komplotan Pencuri Mobil Ditembak

RADARSEMARANG.COM, TEMANGGUNG — Tiga warga Temanggung, komplotan pencuri mobil, kemarin, ditangkap Reskrim Polres Sleman. Ketiganya diciduk di sebuah rumah kos di Pemalang, Jawa Tengah. Kasat...

Pelaku Kartel Akan Diburu

SEMARANG – Kadivre Bulog Regional Jateng, Djoni Nur Ashari, memastikan stok beras di Jateng mencukupi hingga 7 bulan ke depan. Bahkan, kebutuhan bahan pokok...

Jelang Pilgub, Fraksi Dirombak

SEMARANG – DPW PKS Jateng merombak susunan Fraksi PKS DPRD Jateng. Berdasarkan surat DPW nomor 009/K/AK-PKS/VII/1438, Muhammad Rodhi ditunjuk sebagai Ketua Fraksi PKS DPRD...

Pengamen Bawa Cek Palsu Rp 3,5 M

RADARSEMARANG.COM, MAGELANG – Seorang pengamen asal Kebumen terciduk di persimpangan Artos saat tim gabungan dari Satpol PP Kota Magelang, Polres Magelang Kota, Kodim 0705,...