32 C
Semarang
Selasa, 22 Juni 2021

Kaderisasi Berpijak pada Pendidikan Kebangsaan

RADARSEMARANG.COM – Menurut Abdurrahman, ada tiga ruh yang membangkitkan agenda kaderisasi Ansor di masa mendatang. Pertama, dengan mengambil spirit Nahdlatul Wathan, pendidikan dan pengkaderan Ansor selalu berorientasi pada pendidikan kebangsaan yang nasionalis, serta berpijak pada nilai-nilai ahlussunnah wal jama’ah.

“Atau dalam bahasa NU, nilai-nilai itu menjadi prinsip tawasssuth dan i’tidal (tengah-tengah), tasammuh (toleran), tawazzun (keseimbangan), dan amar ma’ruf nahi munkar,”katanya. Dengan demikian, dalam setiap pengkaderan, nilai-nilai moderatisme tersebut perlu ditanamkan dalam memperkokoh ke-Ansor-an, ke-NU-an dan ke-Indonesia-an. Menjadi Ansor seratus persen, sekaligus menjadi pemuda Indonesia seratus persen.

Selain itu, kata dia, yang  kedua adalah dengan mengambil spirit Tashwirul Afkar, Ansor terus bergerak dinamis melahirkan kader-kader pemikir, akademisi, dan intelektualitas. Itu menjadi modal pembangunan bangsa di tengah pertarungan teknologi global yang modern dan lintas teritorial, juga lintas ruang dan waktu. “Indonesia sangat membutuhkan para cendekiawan, saintis, juga ilmuwan yang brilian tetapi juga menghargai indegenous wisdom,” katanya. Dia menuturkan, munculnya saintis muda, ilmuwan muda, yang cerdas membumi dan hormat pada perjuangan para ulama sebagai pahlawan pendahulu sangat diharapkan.

Ketiga, dengan roh Nahdlatul Tujjar, Ansor harus mengawal agenda kebangkitan ekonomi yang berbasis kerakyatan. “Orientasi ekonomi yang liberal-kapitalistik yang selama ini dijadikan kiblat para penyelenggara negara, harus segera dihentikan. Sebab, ini bertentangan dengan cita cita NU dan para founding fathers NKRI,” kata dia. Menurutnya, Ansor adalah elemen terpenting dalam memikirkan kedaulatan pangan, krisis energi, dan nasib buruh, baik dalam dan luar negeri yang terus terdzalimi. Oleh karena itu, kata dia, hendaknya Ansor  dikembangkan menjadi ajang pengkaderan untuk mencetak pemimpin bangsa yang ideal dan Islami. Ansor untuk Ansor, Ansor untuk NU, dan Ansor untuk bangsa.

Dia berpendapat, Ansor cenderung bersifat seperti itu sebagai akibat pilihan posisinya sebagai salah satu agen pengkaderan pemimpin bangsa dari kalangan warga Nahdliyin. Dengan sistem kaderisasi yang bagus, maka Ansor akan mampu melakukan hal-hal yang baik dalam proses alih generasi. “Melihat kenyataan itu, Ansor mau tidak mau harus berani melakukan terobosan. Kode aturan dalam proses perekrutan kader harus dipertajam dan dibuat secara lebih terukur melalui jenjang sistem yang jelas,” katanya.

Hal ini bisa dilakukan asalkan setiap kader di Ansor juga siap untuk membenahi dirinya sendiri. Dia mengungkapkan, bila sistem pengaderan sudah bisa berjalan lebih optimal, maka citra dan posisi Ansor secara ideal akan bisa tercapai. Selain itu, ke depan kader Ansor mau tidak mau juga harus memperkuat basis intelektualnya. “Sebab, kemampuan intelektual juga menjadi prasyarat mutlak bagi seorang pemimpin bersamaan dengan faktor keterampilan dalam menggalang lobi dalam ranah berbangsa dan bernegara,” ujar dia. (wahib pribadi/ric)

Latest news

Related news

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here