33 C
Semarang
Rabu, 28 Oktober 2020

Foto dan Konpers Palsu Megawati soal Kasus E – KTP

Baca yang Lain

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak...

JawaPos.com – Beberapa hari terakhir, pihak yang terkesan berseberangan dengan pemerintahan saat ini menyebar hoax cukup menggelikan. Yakni terkait Megawati Soekarnoputri yang menggelar konferensi pers (konpers) untuk menjelaskan posisi putrinya, Puan Maharani, dalam kasus korupsi e-KTP.

Hoax itu mudah dipercaya orang awam. Pertimbangannya, pertama, kabar tersebut dikemas seolah-olah sebuah berita. Dalam berita tersebut, Megawati seolah-olah didampingi Presiden Joko Widodo dan Puan Maharani sedang menggelar konpers. Megawati menyatakan bahwa anaknya, Puan, tidak terlibat kasus korupsi e-KTP.

“Dengan nada marah, Megawati menyatakan bahwa putrinya (Puan Maharani) tidak ada kaitannya dengan kasus e-KTP. Menurut ketua umum PDIP, KPK tidak perlu mengadakan penyidikan dan pemeriksaan atas putrinya (Puan Maharani). KPK harus menghormati dan mematuhi keputusan yang telah diperintahkan presiden. Kewenangan dan tanggung jawab di kementerian berada dalam keputusan dan kebijakan presiden,” bunyi narasi hoax tersebut. Kabar palsu itu disertai foto Megawati diapit Presiden Jokowi dan Puan Maharani.

Sebenarnya mudah memastikan kabar tersebut hoax atau bukan. Pertama, dalam foto itu Megawati sedang memegang mikrofon. Lalu, di meja depan Megawati banyak sekali mikrofon lain dengan logo stasiun televisi. Artinya, jika benar ada konferensi pers, banyak media yang mengabarkan kejadian tersebut. Terutama statement Megawati yang meminta KPK tidak mengadakan penyidikan dan pemeriksaan atas Puan. 

Faktanya, tak ada satu pun media mainstream yang mengabarkan hal tersebut. Tidak mungkin juga Megawati menggelar konpers di Planet Mars atau negeri antah-berantah, di mana jejak digitalnya tak tertinggal di search engine. Keanehan lain dari statement Megawati itu tampak dari kalimat, “Kewenangan dan tanggung jawab di kementerian berada dalam kepu­tusan dan kebijakan presiden.” 

Pertanyaannya, sejak kapan KPK termasuk dalam kementerian? Sesuai UU 30/2002, KPK merupakan lembaga independen. KPK bertanggung jawab kepada publik. Juga, lembaga tersebut menyampaikan laporannya secara terbuka dan berkala kepada presiden, DPR, serta BPK.

Tanda hoax berikutnya terkait dengan foto. Foto Megawati yang diapit Jokowi dan Puan itu ternyata tak berkaitan dengan konpers kasus e-KTP. Melainkan dalam sebuah acara lain. Jika melihat baju yang dikenakan Megawati dan Puan, sepertinya ketiganya berada dalam jumpa pers saat hari pencoblosan Pemilihan Legislatif 2004.

Meskipun banyak keanehan, ternyata banyak yang percaya bahwa informasi tersebut benar. Kabar itu disebar banyak netizen. Termasuk disebar pula oleh buzzer seperti akun Instagram fakta_elite. Jawa Pos sempat meng-capture akun itu menyebarkan hoax tersebut. Namun, kemarin unggahan hoax itu sudah dihapus. 

— 
FAKTA 

Kabar Megawati melarang KPK memeriksa Puan Maharani tak ditemukan di satu pun media mainstream. Padahal, sumber kabar itu menyebut pernyataan Megawati disampaikan dalam sebuah konferensi pers. 



gun/c11/fat

Terbaru

Jelang Liga I, Dragan Kendurkan Intensitas Latihan

RADARSEMARANG.COM, Semarang – Kompetisi Liga 1 2020 tinggal satu pekan. Segera dimulai. Tepatnya 1 Oktober mendatang. PSIS mulai melakukan...

Trio Malang Merapat, Pemain Persis Solo Bertambah

RADARSEMARANG.ID, SUKOHARJO – Satu persatu penggawa Persis Solo sudah merapat. Jika pada sesi latihan perdana kamis sore (24/9) yang hanya didatangi dua orang pemain...

Grand Jury

INILAH cara yang sangat baik dalam menentukan salah atau tidak salah. Kekhawatiran meledaknya kerusuhan besar pun tidak terjadi. Padahal sejak Senin lalu kantor-kantor penting pemerintah...

Resesi

HARAPAN apa yang masih bisa diberikan kepada masyarakat? Ketika pemerintah secara resmi menyatakan Indonesia sudah berada dalam resesi ekonomi? Yang terbaik adalah menceritakan keadaan apa...

Setuju BTP

BTP kini sudah menjadi ''orang dalam" BUMN. Posisinya bisa dibilang menentukan, bisa dibilang kejepit. Tergantung pemegang sahamnya. Secara resmi pemegang saham BUMN itu adalah Menteri Keuangan....

Artikel yang Lain

- Advertisement -

Populer

Sport Center Bisa Tingkatkan Prestasi

SEMARANG - DPRD meminta agar Pemprov dan kabupaten/kota lebih serius menggarap potensi atlet di Jateng. Salah satunya dengan meningkatkan dan menambah keberadaan pusat olahraga...

Semarang 10K, Cetak Atlet Sekaligus Kenalkan Wisata 

RADARSEMARANG.COM, SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang akan mengadakan event lari 10K pada 16 Desember 2018 mendatang. Rencananya kegiatan tersebut akan menjadi agenda tahunan. Selain...

Traveling di Sela Kerja

DUNIA memang tidak selebar daun kelor. Ungkapan itu yang dipegang Ratih Mega Rizkiana. Wanita kelahiran Ambarawa Kabupaten Semarang, 8 Maret 1988 ini selalu menyisihkan...

Properti di Awal Tahun Lesu

SEMARANG – Pasar properti di awal tahun masih belum terlalu bergairah. DPD Real Estate Indonesia (REI) Jateng mencatat hasil penjualan properti pada pameran awal...

Teknologi Augmented Reality untuk Kelas Inspiratif

RADARSEMARANG.COM - PERKEMBANGAN teknologi menuju era digitalisasi sudah merambah ke bidang pendidikan. Siswa dengan istilah “anak zaman now” tidak dapat lepas dari teknologi. Hampir...

Booking 1 Jam Rp 600 Ribu, Sehari Bisa Layani 4 Tamu

RADARSEMARANG.COM-Lokalisasi Sunan Kuning (SK) bakal ditutup Pemkot Semarang pada 2019. Namun praktik prostitusi di Kota Atlas dipastikan tak pernah mati. Justru kini semakin marak,...